BLOG TULISAN Jayadiningrat

Tahun 2020, menurut saya adalah tahun yang paling cepat dilalui. Seperti baru kemarin bulan Februari saat mulai rame-rame drama Covid, kemudian melalui aktivitas makan-tidur-ibadah-sedikitkerja @dirumahaja tiba-tiba sudah Desember aza.


Selama setahun yang sangat cepat ini eee bukannya banyak waktu @dirumahaja dimanfaatkan untuk membina hubungan baru yang produktif. Namun malah diisi dengan kesibukan online tidak jelas dan sia-sia sambil mengulik status-status dari deretan para mantan. Apalagi yang nganggur dan nempel ortu, berasa tinggal dihotel, yee kaannn. "Covid mak, perusahaan ga ada lowongan", alasan asyikmu pada ortu yang sudah renta sambil lanjut cekakak cekikik pantengin medsos.


Sebenarnya saya pun sadar:


Semacam infus candu untuk melupakan realita hidup bagi beberapa orang menyedihkan dan penuh penderitaan. Tapi ya gimana mosok jadi jomblo bengong, mending kelihatan sibuk (diliat emak yang gaptek) pegang hape memaintain bisnis beberapa account medsos demi status sosial dilingkungan, p

dahal digaji juga kagak, malah minta pulsa ke emak. Kata emak biarin deh yang penting masih bisa ketawa. Soalnya ayam tetangga kebanyakan bengong, paginya mati.


Lanjut, mungkin banyak dari kita yang sampai saat ini masih terjebak dalam kenangan bersama mantan terindah yang dulu hadir dan singgah mengisi hari-hari kita, meskipun sebenarnya sadar sih udah terpisah jarak dan waktu. Yeachhh.

Seperti rasa di puisi ini:
Sampai kini aku belum mampu menata kembali hatiku. Separuh rasaku masih milikmu.
Saat yang aku tau hanya tau cara untuk mencintaimu.Tanpa pernah tau cara untuk melupakanmu.
Andaikan dulu kau tak pergi.Tak mungkin kurasakan rindu yang tak bertepi layaknya kini.

Sambil nyanyi lagu Rindu - Bastian Steel.
Nyessss, nikmat diulang-ulang setahon, ingat bukan seminggu atau sebulan. Njirrr....

Pada akhirnya di akhir tahun ini, saya pun tersadar, distorsi cinta yang membayangi jiwa harus segera dienyahkan. Tuk menyongsong harapan baru demi kebahagiaan di masa depan. Kapan lagi kalau kita tidak memulainya di awal tahun 2021.

Cari jodoh mirip-mirip cari kerjaan, harus tekun dikejar dan dijalani prosesnya sebelum gajian eh jadian. Kerja aja gak betahan macemana bisa betah menjaga hubungan sampai pelaminan. Yeach mari saatnya manteman kita semangat menemukan kekasih baru menjalani prosesnya hingga bersanding di 2021. Sehingga 2021 menjadi tahun produktif. Aamiin.


Nyanyi lagu Dinda dan Negeri di Awan - Katon, ahhh, semoga ada bidadari lewat dan mau dipersunting.


Ketaker generasi kapan, biarin dah.


Kang Jay

Hubungan cinta kayak menabung di bank: kalau sedikit menyetor, lebih banyak menikmati fasilitas, ya bunga-nya kecil!. Note ya ini analogi aja jangan hubungkan dengan bunga bank halal haram.

Sadar tidak kalau bunga cinta yang berlimpah di awal hubungan itu karena kita dan dia rajin setor USAHA ini itu tidak pakai mikir. Tapi setelah jadian atau menikah, kita dan dia suka jadi malezzz setor lalu suka perhitungan tentang usaha masing-masing… ya...wajar cintanya pudar he he!

Cinta adalah bunga perasaan akibat usaha-usaha itu.

Jika kita mendengar orang putus atau cerai dengan alasan, “Gue gak ada rasa lagi!” Saya sih cuman senyumin aza karena dia lagi mengakui dirinya malezzz atau perhitungan dalam berusaha di hubungannya.

Menurut saya nih, Cinta itu bersyarat dan tidak kekal abadi; itu semua tergantung dari para manusianya mau terus berusaha atau tidak.

Makanya tidak usah memusingkan soal jodoh apa tidak, restu apa tidak, cocok apa tidak, sekufu apa tidak, semuka apa tidak, sezodiak apa tidak, sealiran apa tidak, beda kelamin apa tidak..eh yang terakhir ya harus ya… karena semua percumah kalau tidak ada yang namanya usaha.

"Tapi jika udah usaha saat awal kenalan, dianya kagak respon cinta kita. Gimana duong?" Ya cari yang lain, gitu aja kok repot, didunia emang cuman dia aja. Cinta itu bersemi saat ada usaha kedua belah pihak, setidaknya si dia menghargai usaha kita. Saya pernah ketemuan ama cewek cantik, asli menawan hati pada pandangan pertama diusia dia hampir 40th, walau mulai terlihat guratan keriput karena usia yang tersamar karena riasan, namun sungguh anggun dibalut baju kantoran. Sehingga saya pun heran secara fisik & penampilan tidak ada kekurangan namun mengapa dia belum nikah juga. Beberapa kali ketemu akhirnya saya ada temuan: doi pasif banget, saya udah usaha ga pake banget sih ee doi cuman datar aja, kalem aja, santai aja tanpa usaha balik. Ini bukan saya perhitungan, atau jadi cowok kok banyak maunya, tapi boleh dong sekedar meyakinkan hatiku, nikah kan buat seumur hidup. Saya tahu dalam hatinya menginginkan segera menikah, dari arah pembicaraannya saya tau intinya ga usah pake ribet deh ga usah protokoler janjian ketemuan sana sini tiap minggu yang menguras tenaga pikiran dia, langsung lamar nikah ngamar beres, ehhhhh. Namun logika pria saya langsung bekerja apakah dia cinta juga atau hanya aji mumpung saja, apakah dia bisa memperlakukan saya dengan baik sebagai suami kelak, atau dia maunya dilayani terus. Menjadi tuan putri itu elegan dipandang, namun sekali2 menjadi pelayan itu memabukkan dirasa. Halah. Akhirnya saya test tidak hubungi dia beberapa hari, ee tidak ada respon, mungkin bukan dia pemalas dan bosan menjalin hubungan tanpa ikatan namun mungkin dia tidak ada chemistry ke saya, positif thinking azah. Done, who's next.

“Tapi kalau udah usaha saat jadian atau menikah, namun hubungan malah tetap hambar. Gimana duong?” Kalau ini yang terjadi, saya sih punya feeling pasti tanpa disadari kita juga ada usaha lain ke orang lain, bahhh ha ha, makanya jadi ada pembanding yang bikin usaha ke pasangan jadi hambar. Cepat atau lambat pasti akan selingkuh. Makanya selingkuh awalnya selalu biasa saja tidak ada niat atau perasaan, cuman curhat-curhat ringan.. cuma usaha, usaha, dan usaha yang berkelanjutan. Tau-tau kejadian deh, nikmat tapi bikin amsyong.

Jadi ayo terus berusaha hanya pada the only one, jangan malas mager apalagi cuman menunggu, laksana tuan putri atau pangeran bahhhh… karena masa depan hubungan percintaan kita ya bergantung dari disiplin usaha kita! dan tentu Doa (must).

Kang Jay

#dariberbagaisumbergajelas_danidepenulisygkuranggawean
Bagi yang berminat, ayokenalan.

Sebelum akhir 2021 kita nikah, udah mulai bosen masakan warung pingin ada yang masakin terutama bekel makan siang.

Cukuplah maksimal 3 bulan ta'aruf, jika cocok minggu depannya langsung acara sederhana di KUA kagak pake resepsi ya malu ama incu, cukup bilang maharnya mau apa? Karena itu kewajiban saya sebagai calon suami, tentunya jika mampu memenuhinya, rumah ruko mobil emas200g atau seperangkat alat sholat atau apa. Namun jika dalam perjalanan ta'aruf ternyata belum cocok maka kita ke KUD.


Beneran lain heureuy orang sunda mah karasep contona tingali weh urang.


Jodoh itu sudah ada yang ngatur, kalau belum dapat berarti kita susah diatur.


Jangan tinggalkan dia yang baik, demi mencari yang lebih baik.


Aku jomblo kamu jomblo kenapa gak jadian aja sih?


Kang Jay

Kita akhir-akhir ini disodori banyak berita yang cukup membuat kita serba salah sebagai sesama muslim. Antara gemes, sedih, kasihan ya campur aduk. Saking terusik jiwa saya akhirnya saya coba pelajari kelompok FP* dari mulai dari sejarahnya, sepak terjangnya, sekaligus menyelami jiwa anggota2nya.


Well, para anggota dari kelompok ini tentu tergerak bergabung sebagai anggota karena "merasa" terpanggil untuk menjadi pembela agama Islam terdepan "amar ma'ruf nahi munkar'. Namun sayang disayang akhir2 ini kelompok ini "merasa" diperlakukan tidak adil, sedangkan mereka merasa umat islam pada umumnya kenapa malah diam saja melihat "ketidakadilan" versi mereka. Itu yang kemudian membuat mereka memborbardir dunia maya, setelah mentah lewat poster2. Saat ini mereka merasa "Hai kalian kan sama2 Islam, tolong bantu kami dong, mana jiwa korsa kalian, INGAT selama ini kami lho yang telah membela Islam Indonesia difront terdepan".


Kilas balik yang saya ambil dari berbagai sumber, FP* sebenarnya ahlussunnah waljama'ah, mirip NU, makanya sering disebut anak NU yang nakal/radikal.

Dan setelah kerusuhan 1998, pemerintah berpuluh tahun membina FP* secara simbiosis mutualisme, dimana keuntungan disisi pemerintah sebagai pengerem dan penetralisir para mafia/kartel, geng koruptor, para pembeking tempat maksiat, bandar judi dan narkoba dll. Kita semua tahu bahwa banyak anggotanya dari preman tobat, Islam fundamentalis, Islam artis (alias hanya pingin eksis dan bangga dgn pakai simbol2nya saja), bahkan jihadis garis keras. Tentu ini bisa menguntungkan pemerintah karena orang2 ini bisa terkumpul dalam satu kelompok dan gampang memonitornya, daripada terpisah-pisah. Anggota2nya ter-record dalam sistem database dengan baik, tiap pergerakan mereka baik online/offline guampang terlacak, sehingga membuat mudah dan nyaman aparat. Tinggal duduk manis mengamati layar super komputer dengan software monitoring dan analisa yang canggih, terdata dengan baik bahkan bertahun2 dari jenjang karirnya mulai hanya sebagai anggota, aktivis, pengurus bahkan kemudian naik jadi pimpinan FP*. Sejuk terkantuk-kantuk diruang ber-AC tanpa harus panas2an terjun kelapangan, namun bisa kepegang kartunya.


Kemudian saya pelajari juga tentang kenapa mereka menggunakan teknik2 pembakar semangat maju tak gentar untuk membela Islam yaitu melalui dakwah2 jihad, atau tulisan2 penuh emosi, kutukan, doa2 laknat terhadap orang2 munafik, musuh, golongan lain, janji janji hadiah surga bidadari dll. Sebenarnya itu semua banyak mengambil tulisan dari kitab2 kuno ataupun hasil pengalaman lapangan para khalifah2 atau ulama2 terdahulu untuk mengobarkan semangat tentara Islam atau umatnya, bahkan dari perang saat ini di afghanistan, irak, suriah, gaza dll. Dulu atau diarab sono mungkin sangat manjur karena memang sedang butuh jihad untuk lawan musuh2 Allah yang sangat tangguh dan berbahaya. Sayangnya, ini Indonesia tercinta yang aman dan damai. Beribadah dijamin oleh negara. Asal tidak macem2 maka lahir, besar, ibadah, nikah, punya anak, tua dan meninggal bisa tersenyum ceria kemudian masuk surga. Aamiin. Sehingga teknik2 ini banyak yang mentah/terbantahkan pada hampir sebagian besar umat Islam di Indonesia. Dimana hanya mempan pada orang2 yang dangkal pemahaman keislamannya, bawaan orok sudah radikal atau ingin ikut2an saja biar rame dan bangga "saya pembela Islam lho, lu siapa dan ngapain?". Sedangkan warga Islam Indonesia pada umumnya akan berkata "Saya bahagia kok, negara selalu hadir, jalan2 mulus, listrik nyala, pendidikan gratis sampai smp, faskes tersedia dan murah via bpjs, masjid megah dan nyaman, pengajian2 damai, kyai dan ustadz pintar2 & ramah2, kampung dan negara aman bahkan anak saya jadi polisi dan tni, hidup mereka bahagia dan terjamin. Kemudian di suruh Jihad fisik disaat negara damai, ya saya tentu no no no, Jihad untuk siapa, mereka atau aparat yang jelas-jelas sesama muslim. Ingat Islam itu cinta damai sebagai rahmatan lil'alamin. Lalu mengapa ada orang dihukum oleh negara, ya wajar jika mengganggu hak orang lain unt hidup damai, atau dia pencuri, pemerkosa, koruptor, pengedar dll. Negara WAJIB dan harus hadir untuk "mengamankan" mereka ke lembaga pemasyarakatan agar dididik dan kemudian diharapkan sadar. Udahlah tidak usah neko2 hidup di Indonesia, dijamin enak. Mau cari nafkah tinggal dorong gerobak diujung jalan jualan cilok." Begitu mungkin kira2 apa kata sebagian kita umat Islam di Indonesia.


Lanjut. Sayang disayang dalam perjalanan waktu makin kesini, hubungan mesra pemerintah dan FP* dalam bingkai hubungan simbiosis mutualisme mulai terganggu. Pelan2 FP* mulai disusupi dan dimanfaatkan oleh politikus2 atau ustadz2 gadungan untuk mengumpulkan massa fanatik. Sehingga tujuan yang tadinya mulia sebagai pembela Islam terutama dari kemaksiatan, malah menjadi ajang demo dan aksi massa bermuatan politik. Padahal saya amati politikus2 atau ustadz2 gadungan itu banyak yang beda aliran spt hti dll. Ini kemudian yang ditakutkan oleh negara, otak-otak orang politik ini dikawatirkan membelokkan pola radikalnya ke makar terhadap NKRI bukan lagi membela Islam secara kaffah. Kita tau, orang radikal (biasanya) emosian (hehe) itu pola pemikiran mereka simple alias sederhana kok yaitu senggol bacok, jika Islam diganggu maka nyawa pun gampang dipertaruhkan, tentu ini sangat berbahaya jika dimanfaatkan oleh otak-otak jahat dibelakangnya demi memobilisasi massa menggulingkan pemerintahan yang sah. Sehingga sebelum benih2 makar itu berkembang, saya sangat setuju dengan tindakan pemerintah untuk mempeti-eskan. Tentu sulit membubarkan, bahkan tidak akan bisa, karena orang radikal tetap radikal, nanti bakal hanya akan berganti kulit, misal jadi FGI atau PGI (artikan sendiri). Bahkan lebih membahayakan karena terpecah-pecah kelompoknya sehingga sulit untuk dikontrol pergerakan online/offline anggota2nya, beda jika jelas2 ter-registrasi ktp, kk, no hp di kantor2 cabang FP* atau ada dalam grup2 WA/FB/Insta FP* yang bisa diketahuai KK saat daftar SIMcard atau dilacak posisi diBTS mana. Saya pernah melihat sendiri presentasi dari produk Intercept milik vendor Asing, asal si A pernah online alias bukan tinggal bertahun2 di hutan ( seperti kelompok yg kita tahu) disulawesi dan papua, tinggal ketik nama atau inisial tertentu, atau dekatkan alat intercept dlm radius bebepa ratus meter dari Smartphone target maka bisa dibajak Smartphone tersebut secara software. Lalu tinggal aktifkan kamera, lokasi, microfon, wa, fb, laman web yg dibaca, bahkan jika paket datanya mau habis bisa aktifkan unlimited, rekam percakapan, ambil gambar/video otomatis tanpa terdetect file hasil rekaman, sending data2 ke cloud, termasuk aktifkan telegram (suka digadang2 aman oleh teroris). Sehingga segera segala aktifitas online muncul dan ter-record kedalam sistem intercept dengan baik he he untuk siap digunakan dipengadilan jika si orangnya mulai macem2 atau bakal mengganggu stabilitas negara.


Maka langkah negara saat ini setidaknya akan membuat sekam membara itu di peti es kan. "Sementara" memang, namun stabilitas dan keamanan negara setidaknya terjaga sampai pemilu berikutnya. Ya, sampai beralih kepemimpinan baru yang akan memikul tanggung jawab estafet untuk memaintain kelompok ini dengan "cantik", mungkin dilanjutkan oleh anak cucu kita saat mereka jadi pemimpin bangsa dimasa depan, karena anggota2 kolompok ini juga warga negara Indonesia yang harus dijunjung tinggi hak2nya sesuai dengan UUD. Walau punya sifat radikal, tapi negara harus maklum karena sudah bawaan orok (apa mau dikata) tapi jika diemong dengan baik akan adem tentrem bahagia. Bahkan bagi yang masih jomblo bisa segera dapat jodoh di AN he he he.


Ingatlah Islam itu indah yang mengajarkan kedamaian, cinta kasih, dan tepo seliro.


Eh kepanjangan blog ini, keasyikan ngetik.


Maaf ya man teman, ini sekali dan terakhir kok saya bikin blog politik, jika kurang nyaman mohon segera di skip aja. Tidak ada maksud menjelek2kan atau maksud lain, hanya sekedar menyampaikan uneg2.


Kang Jay.


Well gimana membahagiakan atau memikat hati wanita?, pria sering kali melupakan satu hal yang bisa menjadi ‘senjata’ ampuh: Makanan. Ya, makanan. Siapa sih yang tidak suka makan? Kini kita pria tidak harus memberinya hadiah bunga atau perhiasan demi memikat wanita yang bagi kita pria timur seakan ribet dan harus mengalahkan ego saat membawakan bunga, atau cincin yang emangnya mau ngajak tunangan. Cukup tanyakan saja apa makanan kesukaan dia dan belikan dia makanan tersebut. Dijamin 70%, dia klepek-klepek padamu. Sedang 30% nya anda belum beruntung, sambil ngaca yach jangan-jangan bidikanmu ketinggian.


Jika masuk dalam 70% kemudian akhirnya jadian atau bahkan jadi pasangan, jangan ragu membelikan si dia makanan dalam suasana apa saja. Dia sedang marah? Sogok saja dengan cokelat atau viennetta. Dia sedang sedih atau sakit? Bawakan makanan kesukaannya. Baru selesai bertengkar? Belikan dia lagi-lagi makanan kesukaannya sebagai simbol perdamaian. Kalau kurang ampuh, beralihlah ke makanan manis karena kebanyakan wanita suka yang manis-manis walau ada sih yang lebih suka pedas-pedas, mungkin bisa jadi si dia udah mulai bosen dengan makanan kesukaannya.



So selalu sedia es krim, cokelat, dan snack kesukaan dia di kulkas kita untuk menjauhkan

mood jelek si dia. Jadi inget, ada lho yang sukak Chitato dan You-C, murah kan. Ketika seseorang lapar, dia akan lebih mudah marah, suasana hati yang tidak stabil, bahkan menangis. Semoga si dia akan lebih mencintaimu ketika kita sudah menyiapkan pencegahan saat dia mulai terkena bad mood.

So Guys, segera rayu si dia dengan makanan lezat kesukaannya!. Menurut saya sih hampir selalu berhasil, namun sebaiknya, selain beli makanan kesukaannya juga beli suasana, alias sekalian hang out walau hanya diajak jalan ke trotoar depan kompleks sambil beli Cilok kesukaannya. Atau seakan kita kehilangan arah saat jalan bareng kemudian mendadak mampir ke warung yang jual Seblak enak. Little surprise. He he he.

Kang Jay

Dari berbagai sumber di internet dan opini penulis.


Kita suka mengagungkan Cinta sebagai karunia terindah yang penuh dengan kebahagiaan. Dengan Cinta, kita berharap hidup menjadi lebih mudah untuk dilalui.

Namun, mengapa cinta sering membuat kita tidak bahagia? Jika saling mencinta, mengapa kita suka terjebak dalam hubungan tidak sehat?.

Coba kita bandingkan saat mengejar karir, kita bekerja keras untuk meraih kesuksesan. Walau banyak intrik di kantor, banyak tugas, tekanan dari atasan namun kita ikhlas bekerja keras. Sayangnya kita suka berpikir cinta tidak membutuhkan kerja keras yang sama. Mengapa demikian? Karena kita masih menganggap cinta adalah pelarian untuk mencari kebahagiaan ketika hidup kita MENYEBALKAN.

Ada yang berkata cinta tidak akan memberikan rasa sakit dan cinta harus dirasakan melalui hati. Itu kata pujangga cinta. Kenyataannya? Kita tidak akan mendapatkan kehidupan cinta yang sukses tanpa melalui sekian banyak konflik dengan pasangan. Juga, tanpa logika, kita tidak akan bisa mendapatkan kesuksesan dalam percintaan. Rasa sakit hati adalah bagian dari cinta yang harus kita rasakan. Mengapa demikian? Agar kita dapat berkembang menjadi orang yang lebih baik.

Ada dari kita ketika menemukan konflik dalam hubungan dan berpikir pasangan telah berubah, kita enggan dan muales berjuang dan langsung mencari orang lain demi mendapatkan kenyamanan dan mengobati rasa sakit hati itu. Buru-buru menganggap dia "bukan" jodoh kita ha ha ha ha, lalu kumat deh kebiasaan cepet illfeel, lalu cuekin, blokir, bahkan putusin atau cerain seakan-akan kebahagiaan cinta datang ujug-ujug dari langit tanpa perlu kerja keras. Dimaklumi sih untuk sang mager atau pengangguran yang terbiasa terjebak dalam rutinitas menyebalkan tanpa pernah tau bahwa kerja keras dikehidupan ini diperlukan.

Kemudian nemu pasangan baru, kita pun terjebak ilusi bahwa sudah terobati. "Merasa" dia adalah pasangan paling sempurna. Kita tidak belajar dari hubungan sebelumnya yang gagal. Seiring waktu berjalan, ilusi itu akan hilang. Dan kita pun akan mengulang siklus KEJAM yang sama, kemudian mencari orang lain lagi untuk mendapatkan kebahagiaan semu. Lagi dan lagi.

Ayo kita ubah pemikiran kita tentang cinta. Cinta bukanlah obat untuk mengisi kekosongan atau sekadar menyembuhkan luka hati. Cinta membutuhkan KERJA KERAS.

Jangan langsung menyerah di tengah jalan ketika hubungan mulai terasa sulit. Cinta membuat kita berkembang jadi lebih baik. Hadapi dengan dewasa dan selesaikan dengan logika cinta.

Penutup. Pengalaman saya selama ini, carilah kebahagiaan dari diri sendiri bukan orang lain. Jika kita berharap orang lain dapat membahagiakan kita, jangan heran kalau hubungan kita tidak pernah awet.

Kang Jay

Dirangkum dari berbagai sumber dan opini penulis.


Perpisahan bukanlah akhir yang permanen. Perpisahan barulah menjadi permanen saat kita mengambil langkah yang salah setelah putus.
Banyak pria suka menghadapi perpisahan dengan negatif, misalnya dengan meneror mantan dgn berbagai pemaksaan, atau tindakan negatif lainnya.


Padahal pakai logika aja, sudah jelas hampir semua orang tidak suka dipaksa. Melakukan berbagai hal tersebut makin merusak image kita yang sudah rusak!.


Atau mungkin kita pria suka berpikir ada kesalahan pada diri kita, jadi kita mulai menghujani mantan dengan perhatian-perhatian yang kita pikir luput ditembakkan semasa jadian, atau hadiah-hadiah agar hatinya luluh kembali, dan beribu kata maaf untuk berbagai kesalahan yang tidak pernah kita ketahui.

STOP!!!
Sebenarnya, kita sendirilah yang menentukan apakah kita akan mematikan kesempatan untuk memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki.



Tunggulah beberapa waktu, dari survey diluar sono menyebutkan waktu tiga bulan cukup pas untuk memulai "lagi", tapi inget bukan pemaksaan ya he he. Selamat mencoba.


Kang Jay


Dari berbagai sumber di internet dan opini penulis.

Jangan terlalu percaya pepatah lama: “kumpulkan uang yang banyak, nanti jodoh bakal datang sendiri dan kamu bahagia selamanya.” Di tempo doeloe itu masih valid karena hubungan semuanya diatur dan diurus keluarga. Tugas kita hanya perlu mencari uang sebanyak-banyaknya, setelah itu keluarga yang turun tangan mencarikan jodoh kita, beres!

Ingat waktu itu kontrol sosial sangat ketat. Perceraian dianggap aib bagi keluarga. Jadi meskipun hubungan berjalan berat, ribet, dan penuh masalah, suami dan istri zaman dulu bakal BERUSAHA MEMPERBAIKI hubungan. Sangat berbeda dengan sekarang yang jika ada masalah, maka bisa dengan mudah mengajukan cerai dan beban sosialnya tidak seberat dulu. Ngapain malu? ama tetangga kanan kiri aja kagak kenal.

Orang-orang zaman doeloe tidak banyak tahu tentang cinta, tapi kontrol sosial MEMAKSA mereka untuk belajar dan beradaptasi, sekaligus “mengecam” perceraian. Mereka sebisa mungkin menghindari perceraian daripada harus mempermalukan diri dan keluarga. Sehingga cerai sama sekali bukan opsi. Opsinya menekankan bertahan, bertahan, dan bertahan bahkan sampai MATI.

Sementara orang-orang zaman now yang menitikberatkan pada kesuksesan finansial membuat orang-orang jadi manja. Susah sedikit, langsung menyerah, ajukan perceraian dan ganti pasangan lain yang lebih mapan!.

Jika dari kecil ditekankan hanya mencari uang saja supaya kaya, menikah, dan hubungan cinta otomatis bahagia, maka wajar ketika dewasa banyak yang tidak mengerti apa pun selain mencari uang. Jadi ketika ada masalah rumah tangga, apa yang bakal kita lakukan?. Tentu saja kita akan mencoba menyelesaikan, menutupi, mengalihkan masalah itu dengan uang. Pasangan marah karena Kita kurang perhatian? Jangan-jangan karena uang bulanannya kurang, jadi ayo kumpulkan uang yang banyak biar dia tidak marah lagi. Pasangan selingkuh? Pasti karena selingkuhannya lebih kaya, jadi ayo kumpulkan uang lebih banyak biar pasangan tidak selingkuh lagi.

Uang memang solusi dari banyak masalah, tapi uang bukan solusi semua masalah. Ibarat, parasetamol memang bisa meredakan banyak penyakit, tapi Anda tidak bisa menggunakannya untuk mengobati tumor dan kanker. Lalu kalau setelah dicekoki banyak uang ternyata masalah tidak juga selesai, ya tinggal cerai sajalah. Tidak ada aktivitas bekerja sama menyelesaikan masalah dan berdiskusi bersama pasangan. Akhirnya tidak ada pelajaran yang kita ambil dari hubungan yang rusak. Kalaupun kita menjalani hubungan yang baru, kita seperti memutar kembali roda masalah itu lagi dan lagi. Banyak saudara saya masuk dalam lingkaran setan ini.

Di zaman orangtua kita, kemapanan finansial itu jadi penonggak keharmonisan karena ada kontrol sosial yang memaksa mereka untuk tetap bersama. Perut kenyang semua bahagia, bahkan seperti ayah saya yang punya banyak istri. Namun, di zaman sekarang, kontrol sosial sudah banyak berubah menjadi tidak seketat dulu dan banyak perubahan di sana-sini.

Bukan berarti kita harus masa bodo dengan kemapanan dan menolak sukses finansial. Namun manajemen keuangan dan manajemen hubungan keduanya saling berhubungan. Yang pertama membiayai yang kedua, yang kedua memaknai yang pertama. Jika kita melalaikan keuangan, maka kita tidak akan bisa membiayai hubungan. Mau bagaimanapun, hubungan juga memakan biaya seperti biaya hidup berdua, rumah, pendidikan anak, dan sebagainya.

Hanya saja jika kita dan pasangan hanya mengerti soal kemapanan saja ketika menjalani hubungan cinta, maka siap-siap hubungan kita melangkah lebih dekat ke jurang perceraian.

Sehingga sedikit nasehat untuk pria, jangan terlalu menghambakan meraih kemapanan baru menikah, namun menyeimbangkannya dengan mencari pasangan yang pas. Tidak harus menjadi sukses dulu, yang tentu banyak wanita yang mau, namun tahukah kita pria tentang ketulusan wanita?. Sehingga jika mencarinya bersamaan dengan mencari kemapanan maka pada saat menemukan wanita yang pas, bukankah akan lebih menarik jika bersama-sama melanjutkan perjalanan meraih kemapanan. Bukankah itu salah satu penguat sebuah keluarga? baik saat susah maupun senang di kemudian hari.

Sedangkan nasehat untuk wanita, mendapatkan pria mapan memang menarik namun ada kalanya susah seperti mencari jarum ditumpukan jerami. Sedangkan mendapatkan pria yang berpotensi mapan lebih mudah didapat. Toh seperti dijelaskan diatas bahwa uang bukan sumber utama kebahagiaan. Namun berjuang bersama meraih keluarga samawa itulah sumber utama kebahagiaan.

Kang Jay

Dirangkum dari berbagai sumber di Internet dan opini penulis.
“Kang, kenapa sih saya sering didekati pria brengsek mulu sih?. Sedangkan yang saya suka itu selalu jauh, tapi yang tidak saya suka selalu dekat? Pun ada pria berkualitas yang mendekati saya namun sudah beristri? Kok saya selalu ketinggalan dan sial gini?”.

Well, ini pertanyaan umum wanita single yang mager he he.

Saya mulai dari satu prinsip "Seseorang yang berkualitas akan banyak menarik orang-orang yang berkualitas juga."

Kekeliruan banyak wanita adalah menyamakan berharga dengan berkualitas, padahal itu adalah dua hal yang berbeda. Setiap orang memang berharga sejak lahir tapi belum tentu berkualitas karena itu terkait banyak hal.

Kekeliruan itu yang tertanam di benak banyak wanita. Banyak wanita malah sibuk pasif, jutek, dan jaim agar terlihat mahal, bukannya sibuk proaktif menambah kualitas. Padahal sikap pasif itu yang menjadi magnet bagi pria-pria brengsek. Yang akan mengusik jiwa mereka untuk bisa menaklukkan "saja".

Banyak wanita jatuh ke prinsip “ada harga, ada kualitas” sehingga berlomba-lomba pamer kualitas dengan cara berlagak mahal. Tanpa sadar bertingkah bagai barang di etalase yang cuma bisa menunggu didekati dan “dibeli”. Kemudian mengeluh risih dikelilingi pria-pria yang tidak disukai bahkan kesal sampai ubun-ubun karena semua pria baik dan berkualitas tidak tersedia atau tidak peka mendekati mereka.

Pria yang berkualitas bukannya takut mendekati, tapi mereka tidak mau membuang-buang waktu dengan wanita yang cuma menunggu, kaku, dan tidak atraktif seperti patung kuburan.

So please be classy, be friendly!

Wanita berkualitas tahu apa yang dia mau dan maju berusaha mendapatkannya, dia tidak duduk diam sambil main gadget cekakak-cekikik bila ada orang yang comment tentang status atau fotonya di sosmed sambil menunggu bagai barang pajangan. Dia bukan cuma hangat, bersahabat, dan membuka diri terhadap pria, tapi juga terbiasa menggoda dan mendekati pria-pria yang menarik hati. Dia bekerja keras mengasah diri, mengemas penampilan, memodifikasi perilaku agar bisa mendekati dan didekati orang berkualitas lainnya.

Pria berkualitas mudah jatuh hati dengan wanita berkelas seperti itu, dia tidak ragu-ragu meninggalkan wanita yang kaku dan dingin seperti ganjalan pintu. Tidak herankan jika wanita yang pasif, minder, dan ribet biasanya dapat pria-pria aneh tukang menyakiti. Tidak heran jugakan jika wanita yang pasif, minder, ribet, jaim, jutek, dan sebagainya itulah yang biasanya ber-SABDA, “Halah semua laki mah brengsek!”.

Untuk jadi wanita berkualitas, Wanita bisa kuliah lagi, ambil kursus keterampilan, dorong bisnis atau karir lebih tinggi, perbanyak jumlah teman, gali lagi minat-minat baru, perbanyak gebetan dan kencan, dan sebagainya. Jangan mau dibodohi orang bahwa wanita berambisi tinggi itu tidak laku! Mereka yang bilang begitu adalah orang-orang yang berambisi rendah dan tidak tahu tujuan hidupnya.

Ingat bahwa semakin wanita berkualitas, maka semakin berkualitas pula pria-pria di sekeliling wanita karena pria bego dan payah akan takut sampai lari terbirit-birit. Ini adalah hal yang bagus karena secara otomatis menyingkirkan pria-pria kualitas rendah dan menyisakan pria berkualitas tinggi untuk Anda wanita.

Semangat Ladies.

Kang Jay

*Dirangkum dari berbagai sumber di Internet dan opini penulis.*
Banyak dari kita yang baru membina hubungan atau sudah lama ta'aruf atau bahkan sudah lama menikah kemudian kandas ditengah jalan, berawal dari suatu kegundahan hati, kemudian kita secara terbuka ataupun dalam hati mengatakan pada pasangan kita, “Aku tidak bahagia bersamamu.” Perlahan tapi pasti, pasangan kitapun mulai terimbas energi negatif itu dan mulai tidak berdaya mempertahankan sebuah hubungan. Kemudian kita coba ganti pasangan, namun kejadian itu berulang lagi dan lagi. Seakan-akan mencari the only one namun pada akhirnya zonk selamanya.

Padahal, kebahagiaan itu urusan yang berkaitan dengan hati kita sendiri. Sekeras apapun usaha pasangan kita membahagiakan kita, kalau kitanya sendiri tidak pandai bersabar dan bersyukur maka kita tidak akan menemukan kebahagiaan.

Memang saya pernah merasakannya, pada usia 40 tahunan, kita sudah mulai mencari makna kehidupan, dan wajar kita mulai mempertanyakan kebahagiaan bersama pasangan. Namun sebelum mempertanyakannya lebih baik tanyakan dulu pada hati sendiri apakah pasangan kita sudah bahagia bersama kita. Sudahkah kita membahagiakan pasangan?, jangan-jangan masalahnya ada didiri kita sendiri, sulit dibahagiakan tapi tuntutan buaaaanyaaaaak ha ha.

Coba kita bandingkan "Bahagia saat memberi kebahagiaan" atau "Bahagia saat dibahagiakan".

Percayalah, kita tidak akan pernah bahagia jika terus memintanya dari orang lain, karena manusia itu mahluk yang amat lemah dan tidak satu orang pun yang mampu membahagiakan diri kita. Ingat pasangan kita sebelumnya bukan siapa-siapa kita, diapun bersama kita untuk meraih kebahagiaannya juga.

Sehingga bahagia itu bukan pada diri orang lain, tapi pada diri kita sendiri.

Bahagia itu bukan dengan meminta, tetapi dengan memberikan. Itu makna bahagia sejati.

Saat kita yang single bisa bahagia tanpa berusaha menggantungkan kebahagiaan pada orang lain. Maka tinggal selangkah lagi kita menuju kepelaminan karena kita jadi lebih mudah memutuskan. Dan juga karena, saya selalu percaya, baik pria maupun wanita single sebenarnya memiliki pilihan yang banyak, tinggal kita mau bahagia atau tidak walau dengan pilihan yang jelek sekalipun. Percayalah, jelek itu bisa dipoles dengan bedak sabar dan syukur.

Menikah memang bukan main-main namun menikah juga bukan hanya soal mencari yang bisa membahagiakan, namun banyak hal lain yang bisa kita raih. Ya banyak. Kisi-kisi pertama, pernikahan adalah proses melengkapi diri dan kehidupan.

Akhir kata, pernikahan gak cuma berisi kebahagiaan, gak usah berekspektasi terlalu tinggi ah.

Kang Jay
Pages: Previous 1 2 3 4 5 ... Next »
advertisement
Password protected photo
Password protected photo
Password protected photo