BLOG TULISAN Jayadiningrat


Apakah kalian mengalami hal yang sama?

Atau sudah ditahap nambah kucing....

Menikah lebih baik dari Pacaran relaxed
Pendaftaran Lomba 17 Agustusan

1. Lomba panjat yang belum di pinang
2. Lomba mewarnai hati yang kelam
3. Lomba menari diatas penderitaan orang lain
4. Lomba memasukkan mantan ke dalam botol
5. Lomba rebut pacar orang
6. Lomba bawa pacar pakai sendok
7. Lomba lari dari kenyataan
8. Lomba cepat-cepat moveon
9. Lomba balap nikah
10. Lomba makan hati
11. Lomba tarik ulur hubungan
12. Lomba teman makan teman

13. Lomba nikung pacar temen

14. Lomba ninggalin pacar pas lg sayang-sayangnya
15. Lomba php in pacar
16. Lomba modus padahal gak serius
17. Lomba Ghosting
18. Lomba puisi cinta abal abal.
19. Lomba nyanyi seriosa ketika ditingalin pacar
20. Lomba cuci & setrika baju pacar
21. Lomba mencuci hati dari kenangan mantan
22. Lomba bersih2 body dari bekas mantan

23. Lomba bertahan hidup sepeninggal mantan

Silahkan dipilih dan dipersiapkan, peserta terbatas. Pendaftaran di www.jomblo-nikah.com. Gratiiiiissss.


Berikut saya tuliskan kembali kisah seorang sahabat muslim, yang begitu indah proses bertemu jodohnya dan awet sampai sekarang hampir 6 tahun menjalani pernikahannya.


"Pada usia matang 26 tahun, dalam kesibukan kerja dan lagi mencoba menyelesaikan skripsi S1, saya bertemu dengan istri saya dengan usia sedikit dibawah saya —waktu itu masih berstatus calon istri— pada bulan Februari 2015 di Yogyakarta. Awal bertemu, saya langsung mengajak kedua orang tua dan kakak pertama saya, Mas Roni, kami pun saling menyapa. Waktu itu, istri saya mengajak mbaknya. Kami pun saling mengobrol. Saya merasa walau baru ketemu pertama, tapi hati saya bergetar. Kemudian, saya berkata kepadanya, “Besok, kami mau silaturahim ke rumahmu." Rumah calon istri saya ada di Klaten.

Akhirnya, keesokan hari, saya bersama orang tua dan kakak saya "lagi", datang ke rumah istri saya untuk bertemu dengan orang tuanya (bapak dan ibunya). Kami pun berinteraksi dan saling mengobrol. Saat saya berpamitan pulang dan menuju mobil, ternyata tas saya ketinggalan di rumah calon istri saya. Saya pun kembali, calon ibu mertua saya berkata, “Biasanya, kalau tasnya ketinggalan, itu berarti berjodoh.” “Ya, mudah-mudahan,” jawab saya.

Kemudian, saya pun pulang ke Jawa Timur. Selanjutnya, saya berinteraksi dengan calon istri saya via WhatsApp. Suatu ketika, calon istri saya mengatakan, “Mas, kalau serius, ya, menikah."

Dia tidak mau berlama lama. Intinya, dia tidak mau pacaran. Jadi, kalau serius, ya, menikah. Inilah kalimat luar biasa bagi saya. Akhirnya saya pun membalas, "Ya, sudah. Kapan kamu ada di Indonesia?” .

Kebetulan waktu itu, istri saya bercerita kalau dia sering keluar negeri karena tugas kantor atau tugas negara. Berikutnya, dia memberi kabar, “April, saya ada di Indonesia, Mas."

Akhirnya, pada bulan April, saya pun mengkhitbah istri saya. Rencananya, kami akan menikah sebelum bulan puasa (Ramadhan). Namun akhirnya, kami menikah setelah bulan puasa karena terkendala oleh persiapan dan lain lain. Pada bulan Oktober, kami pun menikah. Jadi, prosesnya termasuk cepat, mulai dari proses ta'aruf pada bulan Februari, proses khitbah pada tanggal 4 April, dan menikah pada tanggal 10 Oktober 2015."

Sebenarnya saya memiliki informasi lainnya tentang pasangan ini namun saya tidak mendeskripsinya di blog ini agar tidak terlalu panjang, bila ada pertanyaan bisa ditulis di kolom komentar. Semoga menginspirasi.

Kang Jay


Saya akan bahas mengenai Tafakkur, maaf mungkin bahasan yang cenderung ngebosenin he he.


Agar amalan kita bernilai, kita harus mau namanya Tafakkur. Kenapa? Yo, kita itu manusia yang sok2 keliru, sok2 salah, kadang2 ndak pas. Biar pas gimana? Ya kita sering merenungi perbuatan kita sendiri. “Aku seharian Ta'aruf di kosan ngapain aja?, yang dilakukan apa?”, ta'aruf kok dikosan seharian pulak haha. “Dikantor tadi ngapain aja ya seharian? Padahal aku punya tugas apa, kok cuman ngobrol aja di kantor berjam2”. Itu namanya Tafakkur. Kalau malem sempatkan tafakkur, kata Syekh Abdul Qadir Jailani. Seorang Syeh dari Bagdad keturunan Rasulullah dari garis ayah maupun ibu, yang memperoleh gelar Sulthanul Auliya (Raja dari seluruh para wali).


Orang yang ndak pernah Tafakkur, itu ndak akan naik level. Kita diceramahi sama Ustadz tiap hari, itu ndak ada gunanya kalau isi ceramahnya ndak nyambung sama hidup kita sehari2. Nah, untuk bisa nyambung gimana? Ya, tafakkur. “Tadi pak Ustad bahas tentang ciri2 bully dan dosanya, saya pernah ngebully orang gak ya”. Tafakkur tuh kayak sistem komputer lagi nyocokin kompatibilitas software2nya biar nyambung.


Orang yang berilmu yang suka Tafakkur nilainya dibanyak Hadits disebut lebih tinggi dari Ibadah.


Menurut Syekh Abdul Qadir Jaelani, ada tiga jenis Tafakkur:


Pertama, Merenungi Sesuatu dan Mencari Sebabnya. Mencari bagian2nya sampai kemudian ketemu Allah. “Aku bisa begini karena siapa ya?”. Ada peristiwa, ditelusuri asal-usulnya. “Ya sih, semuanya memang skenarionya Allah.” Tafakkur yang seperti ini, kayak ibadah satu tahun, katanya Syekh Abdul Qadir Jaelani.


Kedua, Merenungi Perbuatannya, Terus Mencari Akarnya. “Apa saja yang telah aku lakukan? Cocok apa ndak ama kehendak Allah?” dan seterusnya. Nah, merenung semacam ini nilainya lebih dari 70 tahun ibadah. Padahal umur kita berapa tahun? Paling 70 tahun pas. Itu kayak seumur hidup ibadah.


Ketiga, Merenungi Hikmah kebijaksanaan Ilahi dalam segala hal. Bahwa apapun yang ditetapkan Allah, disitu ada ilmu, ada pelajaran, ada kebaikan. Jadi renungi segala peristiwa dan temukan hikmahnya. Ini bernilai lebih dari 1000 tahun ibadah.


Cuman ya kalau mau pahala 1 tahun, 70 tahun, 1000 tahun tuh jangan dihitung besarannya, karena kita suka pake kalkulator. Ya apa ya. “Wah sudah 70 tahun ibadah tah, kang, wah santai aku kang, berarti aku bisa ngapain aja sekarang kan aku udah Tafakkur bernilai 70 tahun ibadah.” Kita tuh mesti suka gitu deh he he. Itu sebenarnya simbolik, isyarat dari Syekh Abdul Kadir Jaelani, juga di ayat2 Al Qur’an maupun hadist2 shohih tidak secara explisit tidak disebutkan besarannya, bahwa segini lho besarnya pahala orang Tafakkur. Tapi intinya tuh ada yang pahalanya Biasa, ada yang Super, ada yang Istimewa. Yah kayak Martabak Bangka.


Jadi ada yang level biasa itu pahalanya seperti 1 tahun ibadah, ada yang pahalanya 70 tahun, ada yang pahalanya 1000 tahun. Itu tafakkur, maksudnya keutamaannya. Jangan dihitung matematikanya, jangan kita terikat pada hitungan2 itu, itu hanya untuk memotivasi kita melakukan Tafakkur, urusan pahala biar Allah yang ngitung. Jangan karena tahu berapa kali lipat pahala yang bakal didapat, langsung mikir kalau korupsi, “Kang, saya korupsi satu juta, dari satu juta itu tak shodaqoh-kan 100rb, kan nanti dapat pahala 70 ribu lipat. 70rb kali 100rb, wah…. hasilnya kan lumayan 70jt. Nah, dosanya sama pahalanya kan nanti menang pahalanya, kang. Berarti imbas kita, kang. Kan ngono.” Itu namanya matematika.


Itu yang kadang2 bikin para koruptor kalau habis korupsi langsung Umroh. Ya kan? Sebelum korupsi umroh, setelah korupsi umroh. Kenapa? Karena perbuatan diantara dua umroh itu diampuni 100%. Nah, ya itu kita sedang main matematika sama Gusti Allah. Emange Gusti Allah ndesit (Ndeso)? Ndak ngerti kalau mbok Apusi (Bohongi)?. Jadi itu tafakkur dasarnya.


Contoh lainnya, “Kang, saya sudah bisa shalat kok.” Ndak, harus tafakkur lagi. Padahal Shalatnya apa sudah benar apa nggak? Kualitas shalatnya dari zaman masih SMA sama sekarang kira2 semakin naik apa semakin drastis turunnya?. Nah itu kan tafakkur yang bisa menilai, “Iya ya, dulu saya shalat lama lho, kok sekarang kok bisa cepet, ya?. Kita mikir,”Apa ini gara2 aku semakin pinter karena sudah S3 apa ya, apa gara2 cepet itu karena waktunya mepet? Sibuk terus, apa gara2……?. Itu tafakkur. Terus terang kadang2 semakin pinter orang shalatnya semakin cepet. Masalahnya karena ilmunya banyak. Kita ngerti sela2nya mana yang cuman sunnah, mana yang mubah, mana yang wajib Karena shalat itu kalau diambil wajib2nya doang. Paling Takbiratul ihram, fatihah, ruku’, bahkan bacaannya aja kan sunnah, yang penting ruku’ terus sujud, cepeeet. Jadi nggak sampai 2 menit selesai empat rakaat. Wong diambil wajibnya saja. Apalagi fatehah kita suka agak di skip2, yo kan? Hehe. Tambah cuepet, express. Ya seprti kita nyetel video, di-fast forward, ada yang level dua, level tiga, tambah cepet tambah ceupet. Jadi, untuk memperbaiki yang gini2 ini, kita butuh Tafakkur.


Orang yang tidak mau menafakkuri dirinya, maka kualitas hidupnya ndak akan naik. Yo gitu2 aja terus, bahkan menurun mengikuti kemampuan otak kita yang menurun, suka lupa, akhirnya pikun. Maka, Tafakkur itu penting, selain juga berguna untuk mengasah otak kita. Yok mari kita sering2 Tafakkur.


Kang Jay


"Dan kehidupan dunia tak lain adalah permainan dan senda gurau." (QS. Al-An’am: 32).

Hidup ini jangan tegang, bersenda gurau lah. Banyak tertawalah. Nabi itu banyak tertawa, bahkan beberapa hadist menyebutkan Allah pun tertawa. La kok manusia tidak bisa ketawa. Ya meskipun istilah Allah tertawa itupun ada beda pendapat. Ada kisah penghuni neraka yang besoknya menuju surga, nah dia hari itu melihat surga, permintaannya yang lucu mulai dari mendekat kemudian minta nongkrong2 trus minta lagi untuk jalan dipinggir2 surga membuat Allah ketawa. Ini ada kisahnya dan ada hadistnya.

Wajah Rasulullah jika dilihat itu menyenangkan, kalau dalam bahasa hadist disebut Bassam. Bassam itu artinya kalau orang melihatnya seolah-olah Nabi itu senyum terus, dilihatnya itu enak. Jadi sebelum Nabi ngomong, sekedar ketemu dan memandang wajahnya Nabi saja membuat orang rasanya enak kayak disenyumin terus.

Nah kalau kita kan banyak yang kebalikannya, memandang wajahnya aja malah pingin nonjok, la wajah gak ramah dan seperti nantang gelut ha ha ha. Cemberut, nesunan, ngamukan, itu kan ga enak. Beda dengan Nabi yang Bassam.

Makanya orang Islam harus bisa ketawa, jangan ngamuk terus. Mengapa mesti saling caci satu sama lain, saling hujat, saling memaki dan bully hanya karena merasa tersinggung sedikit atau melihat hal yang bikin kurang nyaman. Bsca kembali ayat diatas, bukankah hidup ini hanya bermain dan guyonan saja?.

Ada kutipan Kitab dari Ulama besar Abu Hayyan, "Jangan engkau jauhkan dirimu dari mendengar tentang kejadian sederhana yang lucu2". Jadi kalau kita nonton yang lucu2 tidak apa2. Termasuk juga yang lucu2 dalam hidup kita.

Hidup kita itu lucu lho. Buanyak yang lucu. Cuman kadang kita menjalaninya terlalu serius. Sebab jika kita terlalu serius maka pemahaman kita menjadi picik, watak kita menjadi kurang tanggap, dan kita kurang peka terhadap hidup kita sendiri. Padahal banyak yang bisa kita tanggap tentang lucunya hidup kita, kata Abu Hayyan.

Hidup kita itu lucu ngapain kita Stres. Ngapain kita sumpek. Itu lucu. Contohnya, diputus pacar itu lucu lho. La cuman pacaran aja diputus sudah nangis2 sambil marah2, la malah enak jadi bisa nyari lagi dan tambah pengalaman he he. Banyak lah kejadian sehari2 dalam hidup kita yang lucu.

Misal kita baca2 berita atau blog, kan harusnya lucu, la kok marah2, misuh2 cuk, lah kan jadinya lucu. Kata Abu Hayyan lagi, "Kalau kita tidak bisa menangkap atau menikmati segala kelucuan, maka awan kelabu kehidupan akan menghancurkanmu."
Wah jadi susah. Merengut terus juga membuat hidup akan hancur. Kelihatan kok, orang yang serius tuh wajahnya cepat tua, la umur baru 40an tapi udah mirip nenek lampir atau gerandong. Jadi tertawalah tersenyumlah, hidup ini indah.

Ingat kita oleh Allah di beri kesempatan hidup didunia untuk bahagia, untuk senang. Mosok Allah nyuruh kita merengut, sumpek, merasa hidup sengsara. Kan kagak. Kalau ada masalah itu sebenarnya kelucuan2 dalam hidup. Ketawain aja. Bergembiralah karena hidup ini menggembiraukan seperti serang bersendau gurau. Jadi tertawalah.

Kita lihat aja orang2 yang pemahaman agamanya tinggi. Ulama2 yang ilmunya sudah tuntas kan kalau ngomong enak didengarkan dan kadang dagelan2nya banyak yang membuat kita tertawa atau tersenyum.

Jadi orang yang sudah bisa mentertawakan hidupnya sendiri itu bukan orang sembarangan. Dia sudah paham mamaknai hidup, La hidup didunia hanya sendau gurau. Sendau gurau itu kan harusnya melahirkan ketawa dan dolanan, jangan serius2. Cuman kita suka tertipu kehidupan dunia padahal cuman sendau gurau kok kitanya serius. Sampai saling caci satu sama lain, saling hujat, saling menjatuhkan, bully berjamaah, bahkan pukul2an, tawuran, bunuh-bunuhan. Itu salah RUMUS berarti hidup kita. Ayo pakai rumus yang bener.

Terus terang, sekarang citra Islam kebanyakan orang menganggap memiliki citra keras. Ya meskipun itu citra salah, tapi ada indikator2 yang membuat orang menyimpulkan itu, image orang alim itu serius dan tegang. Maka ayo mari kita akhiri itu, tampilkan wajah Islam yang melahirkan senyum, melahirkan tawa riang gembira.

Kang Jay

Kalau cinta sudah datang biarkan saja jangan dilawan walau mungkin saja sakit. Karena jika kita lawan malah tambah sakit.
Misal: "Aku kok ya cinta pada pacar sahabatku", "Aku kok jatuh cinta sama yang itu ya, ndak level".

Jika cinta memanggilmu, ikuti saja. Kenapa? Untungnya nanti banyak, cinta bisa membahagiakanmu bisa menyengsarakanmu, tapi walau dikondisi bahagia atau sengsara tapi cinta memberi manfaat besar yaitu akan mensucikan kita. Pelajaran luarbiasa akan kita dapat kalau hidup dalam cinta, bukan dalam nafsu lho ya, CINTA.

Cinta itu heeemmm, kalau kita jatuh cinta serasa hidup kita hilang yang ada yang kita cintai, mau makan inget dia, lagi wa tidak mau berhenti2, udah tidur? Belum. I miss u? I mis u too? I miss u? I miss u too berulang2 ga mau berhenti sampai tau2 tengah malam. Jalan2 di mall lihat baju, yg dilihat bukan "Aku ingin baju apa?" Tapi kira2 si dia pantes gak pake baju itu. Selalu DIA gak pernah AKU.

Makanya Al Ghozali sangat menyarankan hubungan kita sama Allah itu bukan hubungan Juragan ke buruh. Tapi hubungan cinta, kalau kita bisa cinta sama Allah maka luar biasa. Disitu iman jadi maniiiiis rasanya.

Jadi kalau cinta datang jangan dilawan, mungkin bagi cewek2 pokoknya punya prinsip kalau bukan cowok mapan dan berpendidikan maka tidak mau jatuh cinta padanya. Bedakan antara rasa cinta dengan ekspresi cinta, kalau ekspresi cinta terutama cewek pagernya banyak, tapi kalau rasa cinta kan monggo2 saja.

Kembali lagi ke awal. Kenapa biarkan saja cinta mendatangi kita? Karena cinta bisa mengalahkan bisa menaklukkan musuh terbesar dalam diri kita namanya EGO. Ego susah ditaklukkan pakai akal kagak bisa pake akal pake trick, yang bisa menaklukkan adalah cinta. Jadi dengan cinta kita DISUCIKAN. Disucikan dari ego. Orang tidak bilang aku. Di segala level hidup, orang selalu bilang aku bahkan agama ya agamaku, Tuhan ya Tuhanku sehingga rebutan Tuhan rebutan tafsir rebutan Islam yang paling benar. Tapi dalam cinta, ndak, ego kita kalah yang ada hanya yang kita cintai, kepentingan kita tak ada artinya dibanding kepentingan dia. Walau kita suruh jemput jam 4 subuh gak masalah, padahal suruh bangun untuk sholat subuh susah sekali. Itu cinta, ego kita sendiri ditaklukkan. Hasilnya apa? Nda ada, cinta tidak menghasilkan apa2 kecuali keseluruhan diri kita diberikan penuh. Cinta tidak memiliki maupun dimiliki. Cinta karena cinta telah cukup untuk cinta. (Ini kalimat biasanya orang yg ditinggal pacarnya ha ha).

Jadi cinta saja cukup. Lalu apakah tidak boleh menikah, ya boleh menikah. Tapi seandainya tidak menikah juga tidak apa2. Karena cinta murni tidak ada urusan dengan memiliki dengan dimiliki. Kalau kita pria kecewa luar biasa karena nembak ditolak, itu belum cinta. Itu masih DAGANG, aku cinta padamu kalau kamu cinta padaku, kalau ngak ya ngak cinta tapi aku akan marah dan bakal nyari yang lain. Itu belum cinta, tapi kita lagi cari pasangan, gitu aja, nanti nemu yang lain trus bilang Cinta lagi ha ha, saya pertegas itu bukan cinta tapi suka. Levelnya jauh dibawah Cinta, hanya suka, hanya ingin memiliki, bahkan mungkin hanya tertarik saja, atau level terensahnya hanya sekedar ngebet pingin punya pasangan. Tapi kalau Cinta itu, bakal kita jaga yang kita cintai dari kesedihan, dari kejatuhan, dari kerusakan bahkan oleh diri kita sendiri. Karena kita tidak memikirkan diri kita sendiri. Untuk kasus nembak trus ditolak, malah berpikir, "Ah bener juga, jangan sama aku, karena kalau sama aku hidupmu lebih susah secara pekerjaanku biasa dan gak punya apa2". Jadi intinya Cinta tidak ada hubungannya memiliki dan dimiliki. Cinta saja sudah cukup. Cinta mensucikan diri dari EGO.

Nah bagian berikutnya, ini yang lagi coba saya renungkan dengan dalam. Sangat dalam, dibanyak keheningan malam malam termasuk malam ini. Kalau relasi kita dengan Allah karena CINTA maka kita tidak hitung2an pahala. Karena selama ini, terus terang saja, saya masih suka ber-DAGANG sama Allah, misal sholat berjamaah di masjid karena lumayan nyari 27x lipat pahalanya lho. Bacalah ini itu nanti pahalanya sama dengan sekian. Itu kita masih DAGANG. Sedekahlah sekian maka nanti akan dibales oleh Allah sebanyak 10x lipat. Dagang paling menguntungkan itu sama Allah, saya sudah membuktikannya untuk melipat gandakan kekayaan saya, terutama setelah istri tak ada, saya seperti ketakutan dalam sendirian, kalau saya sakit keras siapa yang ngurus, kalau saya pikun siapa yang ngurus, maka saya harus melipat gandakan kekayaan saya segera mumpung saya masih produktif sehingga nanti bisa bayar suster perawat sampai saya meninggal atau bayar panti jompo yang mewah. Ketakutan dihari tua, ketakutan setelah mati masuk surga atau neraka. Akhirnya relasi saya dengan Allah, seperti masih DAGANG, hitung2an pahala, hitung2an pamrih harta, relasinya masih belum naik.

Kalau relasi dengan Allah karena Cinta. Maka saya pun merenung kembali, misal kenapa jamaah di masjid? Karena Allah suka dan nyuruh jamaah, bahkan kalau Allah hanya nyindir2 maka saya nda papa saya jalaninya. Kemudian Allah nyuruh bangun malam, meski Allah tidak mewajibkan, maka saya akan bangun malam. Itu namanya Cinta. Kagak usah menghitung, bangunnya sepertiga malam karena pahalanya sekian kali lipat. Jadi kalau belum sepertiga tapi sudah kebangun, nonton sepakbola dulu. Itu masih Dagang.

Dalam Islam ada yang dinamakan Ikhsan, gimana caranya melakukan yang terbaik untuk Allah, nah untuk sampai ke maqom ikhsan ini ya relasinya harus cinta bukan ahhh semoga nanti sama Allah dikasih surga yang paling tinggi. Lagi2 kita masih membayangkan balasan atau imbalan atas perbuatan kita.

Saya masih terus berusaha membangun relasi Cinta dengan Allah. Walau saya anggap sampai saat ini masih kurang bahkan belum usaha maksimal, semoga kedepannya selama masih diberi umur menjadi Cinta. Demikian juga dengan Anda pembaca blog ini bagi yang terketuk untuk memperbaiki relasi kita dengan Allah. Semoga ada manfaatnya. Aamiin.

Kang Jay


Malam ini saya dapat ilmu baru dari teman seorang Milyader. Cukup membuka cakrawala pola pikir saya tentang resep cepat mendapatkan kesuksesan jodoh dan usaha versi dia.


Beliau mendalami tafsir dari salah satu ayat Al Qur'an dalam meraih kesuksesannya secara cepat:

Fa inna maal-usri yusra. (Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan)

Menurut dia, 'Beserta' dimaknainya sebagai 'BERSAMA'. Jadi bersama kesulitan ada kemudahan.

Kalau orang awam, seperti saya, dulu memaknai ayat tersebut sebagai "Sesudah kesulitan ada kemudahan" jadi saya menunggu saja jika ada kesulitan yang terjadi dalam hidup saya ya saya tawakal aja agar kesulitan berlalu atau saya sudahi toh nantinya akan muncul kemudahan.

Ternyata menurut dia, itu pola pikir salah jika ingin kemudahan itu Cepat diperoleh. Jadi berpikirnya adalah saat kita mengalami kesulitan maka kita PARAREL memikirkan jalan keluar lain karena disaat BERSAMAAN dengan kesulitan itu Allah sediakan kemudahan. Kita diberi kesempatan mencari kemudahan itu, jangan langsung putus aja.

Jadi saat kita mengalami kesulitan misal usaha kita adalah jual buah ternyata mengalami kesulitan gak laku, maka kita langsung berpikir PARAREL jualan juga jus, parcel, atau bahkan rujak. Nah ternyata diperoleh kemudahan itu yaitu JUALAN RUJAK laris manis. Sukses deh.

Bukan kemudian jual buah gagal trus mutung (menyerah), ganti jual pakaian ee gagal ganti jual pulsa gagal juga dst dengan berpikir yah nanti toh dari beberapa kali gagal (kesulitan) akan ada kemudahan. Ya bisa sih, tapi lamaa karena coba satu satu satu, trus kapan cepet suksesnya ??????

Demikian juga menurut dia tentang jodoh, disaat kita ada target misal 1 tahun lagi HARUS menikah. Kita pedekate sama satu cewek misal, udah coba kenalan ee dianya ngegantung ga mau juga diajak nikah, langsung dianggap sulit trus menyerah, lalu pindah ke cewek lain. Pindah, pindah, pindah akhirnya bukan 1th tapi 6th dengan 6 cewek dan gagal semua. Kalau orang berpikir PARAREL, bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Saat fokus pada satu cewek yang pertama ditaksir, menemukan kesulitan maka bersamaan coba cari cara misal rubah penampilan, lebih romantis, yah segala macam cara. Pada akhirnya menemukan cara sukses misal dia hanya nurut ke Ayahnya, setelah pedekate keayahnya (hwaha) dianya nurut dinikahi, nah itu KEMUDAHAN yang telah Allah sediakan pada saat bersamaan mendapat kesulitan dapetin dia.

Jadi cara ikhtiarnya, bukan satu, satu, satu, satu. Satu orang ta'aruf gagal trus mutung (menyerah), pindah satu orang ta'aruf gagal mutung, pindah pindah pindah tanpa mencari cara2 menghadapi kesulitan. Alias gampang mutung dari kesulitan. Trus bertahun2 berpikir jodohku mana ya Allah kok tidak datang-datang kemudahan itu. Ya bisa sih sukses, tapi lamaa dapet jodohnya karena coba satu satu satu, trus sampai umur berapa, ga cepet suksesnya kan ??????

Jadi kembali ke awal, resep sukses jodoh karir dan usaha secara CEPAT menurut dia melalui tafsir ayat diatas bahwa pada saat kesulitan itu terjadi jangan langsung menyerah karena disaat bersamaan dengan kesulitan itu, Allah sediain kemudahannya kok, tinggal kita mencarinya aja. Percayalah Allah membantu hambanya yang gigih dan semangat untuk menemukan kemudahan itu. Jangan mudah menyerah.

Kang Jay
advertisement
Password protected photo
Password protected photo
Password protected photo