BLOG TULISAN Jayadiningrat

Kita coba bahas lagi bahasan yang tidak pernah habis untuk dibahas yaitu istri adalah seorang wanita karir. Biar hangat sedikit, yah kontroversi di dunia modern ini.


Saya teringat seorang wanita dosen lulusan S3 ilmu pendidikan disebuah PTN terkenal, wanita karir yang sangat sibuk bahkan keempat anaknya dibesarkan oleh pembantu2nya. Anak2nya jarang mendapat sentuhan tangannya, alias dia sibuk sekali ngajar sana sini. Padahal suaminya adalah PNS sebagai kepala lab di sebuah kampus terkenal. Ilmu pendidikan yang wanita amalkan malah diberikan kepada anak didiknya yang jelas2 orang lain.



Sedikit nasehat saja. Perlu diingat dari salah satu ayat Al Qur'an bahwa qu anfusakum wa ahlikum, yaitu utamakan keluargamu dulu. Sehingga wanita perlu mengerti prioritas, pengabdian wanita pada suami dan anak-anak beresin dulu, kalau kemudian mau membantu diluar sana ya baru nanti-nanti, beresin dulu. Bahkan Rasullullah pernah bersabda bahwa mengasuh anak itu pahalanya luar biasa seperti jihad suami di jalan Allah, istri sholat dirumah sama halnya suami sholat dimasjid jika itu untuk menjaga anak, membantu suami agar sholat ke masjid maka pahala suami akan diterima sama oleh istri, walau istri sudah sholehah (sholat, puasa, dzikir, hijab dll) namun dia tidak memenuhi hak suaminya maka ibadah wanita yg bejibun tersebut tidak dinilai oleh Allah sehingga dia penuhi hak suami dulu baru deh pintu surga terbuka bahkan hanya dengan ibadah wajib2nya saja kagak usah berlebihan sholat tahajud puasa daud dll, dan banyak keutamaan lainnya. Surga begitu dekat dengan ibu atau istri, saking dekatnya seakan surga ditelapak kaki ibu.



Sehingga perlu diingat bahwa orang perlu punya skala prioritas, kalau tidak tahu skala prioritas biasanya bukan karena sanjungan Allah tapi karena sanjungan manusia. Karena kalau sudah biasa membantu orang lain tapi mengabaikan keluarganya sendiri, maka jika tidak membantu ntar dibilangin bangkrut ? Tidak kepakai ilmunya ? Ngapain ortu susah2 nguliahin tinggi2? Ngapain dirumah urus anak rumah ngebosenin tuh Dll. Ga papa padahal bangkut di depan manusia namun mulia didepan Allah. Toh kebutuhan primer terpenuhi dari suami.



Sebenarnya seorang istri gak papa bekerja diluar berharap imbalan (gaji) namun dengan catatan:

1. Dapat izin suami. Agar suami meridhoi ,misal kewajiban istri berkurang namun suami ikhlas maka istri tidak jadi berdosa. Dosa istri kepada suami itu berat sekali sehingga neraka banyak dipenuhi wanita dibanding pria.

2. Dapat izin bapak, agar bapak sadar bahwa dia sudah melimpahkan wali-nya ke suami, sehingga yg hrs dipatuhi adalah suaminya.

3. Tidak mengganggu kewajiban pada suami dan anak-anak.

4. Bekerja di tempat yang terhormat dan halal.

5. Tidak menjadi sombong karena pekerjaan itu, lebih karena ingin membantu suami, membantu orang lain tidak masuk kriteria ya, ingat hanya untuk "Membantu Suami" titik tanpa koma.



Jadi inget jangan bantu diluar jika didalam keluarga belum beres. Biasanya wanita suka berkedok memajukan bangsa mengamalkan ilmu bla bla padahal bukan karena Allah melainkan karena sanjungan manusia. Apalagi suami sudah menghimbau bahkan melarang bekerja diluar, maka bekerjanya istri tersebut adalah berdosa. Lalu karena dilarang maka nekat minta cerai, waduh abis2an karena istri minta cerai dgn alasan tidak syar'i maka bau surga aja diharamkan alias kekal dineraka. Sangat2 kasihan.


Berkaca pada diri sendiri, memang mengasuh anak itu lebih berat dari pada bekerja kantoran. Saya pernah coba pegang anak 1 jam, berasa bekerja 8 jam di kantor. Mata tidak bisa lepas, lepas sedikit kebeledug dll.


Seorang ibu memang luarbiasa, mungkin yang tidak kuat ngasuh anak tuh jangan2 jiwanya laki2 namun terperangkap ditubuh wanita. Ada kala kebalikannya hehehe, pria males kerja diluar tapi suka banget ngurus anak istilahnya Lawra (lanang ora wadon ora). Bersukur pria punya pribadi komplit saat dikantor cari duit jago dan saat dirumah urus anak jago, kalau wanita susah dua2nya karena pasti waktu dirumah berkurang sejago apapun kecuali bisa membelah diri seperti amoeba. Kasihan memang istri dan ibu, diberi tanggung jawab oleh Allah lebih besar.



Sehingga wajar jika banyak ibu2 berjiwa pria yang kemudian lari pergi bekerja, anak diserahkan ke ibu/mertua/pembantu, mengorbankan waktu yang sangat mulia demi ngurusin orang lain dan dapat gaji yg tidak perlu2 amat karena dari suami sudah cukup, kemudian malam pulang kantor sudah nyuaman anak tidur lelap tinggal ikutan tidur disampingnya. Saya akui bekerja dikantor itu nyaman, ruang ber AC duduk2 apalagi punya anak buah bisa suruh2 dan dihormati ee akhir bulan dapat gaji pulak, nikmaatttt, coba dirumah denger anak nangis eek berantakin rumah susah makan anak sakit anak nakal susah diatur anak kagak tidur2 begadangan pr sekolah anak banyak mandiin anak bersih2 rumah cuci baju belanja masak dll duh rasanya kepala mau pecah ee suami pulang kantor yang nyaman berAC minta dilayani disiapin makan dipijetin wikwik ha ha, berat emang jd seorang ibu dirumah dipandangan saya sebagai seorang pria.



Makanya banyak wanita karir dengan jiwa prianya tidak nikah2 karena takut dengan bayangan kerepotan jadi seorang istri dan ibu. Wanita ini nyaman kerja dikantor berAC dan leyeh2 toh uang banyak, bahagia sendiri bisa ngemall cekakak-cekikik bareng geng trus akhir tahun bisa tamasya ke korea nonton opa2 gemez.


Alasannya sulit move on dari mantan, gimana mau move on yang ada males memikirkan punya suami bakal merepotkan, ya mending mikirin mantan agar berasa kagak bersalah2 amat ga niat cari suami. Mengingat mantan emang healing banget alias nikmat apalagi sambil perawatan tubuh trus nyeruput kopi starbuck senyum2 sendiri menatap cermin sambil membelai kucing kesayangan "iniloh aku yg baru, pintar cari uang, putih mulus sexy dan cantik, layak punya suami kaya, bukan seperti mantan miskin plus beragajul itu, sehingga bisa modalin perawatan dll agar lebih cantik lagi, karena kecantikan dan kebahagiaan wanita tergantung suaminya".


Ahayyy, kalau single nyaman emang bisa ngebayangin yg indah2, coba kasih anak 3 langsung bubar fantasinya hehe saya jamin. Disisi lain wanita sebenarnya ada sisi realiatisnya juga, masih dibayang2i jadi ibu pake daster bau ompol kumel dan awut2an, lalu muncul dibenak wanita ah lupakan saja mending kagak usah nikah, hidup bisa enjoy, hidup jangan dibikin rumit. Dari uraian diatas, lalu apakah Allah adil? Pria wajib bekerja cari nafkah sedang wanita wajib berbakti dan mengurus anak? Jangan tanya kesaya, pelajarilah agama dan buka pintu hati.


Ini tentu bukan untuk wanita karir yg sudah berjuang sekuat tenaga cari suami tapi kagak dapet2.


Tetap ada kisah sedih dari wanita karir single, sambil berkata "dia menyembuhkan luka dengan orang barunya, sedangkan aku menyembuhkan luka dengan berdamai diri sendiri tanpa melibatkan orang lain". Sehingga tetap bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri, melakoni pekerjaan apapun yang penting halal.



Pria pengangguran harusnya malu dengan wanita single yang tangguh ini, mengisi waktu sebelum menikah dengan bekerja dengan giat untuk menghidupi dirinya sendiri bahkan membantu orang tuanya. Salut.


Tentu juga kondisi diatas pengecualian janda dengan anak tanpa nafkah dari ortu atau mantan suami, tentu ada skala prioritas dimana menjadi wanita karir alias bekerja demi kebutuhan primer anaknya menjadi lebih mulia daripada anak dipegang setiap saat namun kelaparan atau tidak punya biaya sekolah.



Sedang buat sang ayah yang tidak menafkahi anak kandungnya sampai mandiri maka si ayah akan nempel argo dosa layaknya argo taksi yang jalan terus mempercepatnya ke neraka. Menafkahi anak adalah kewajiban ayah. Jadi jika ada seorang ayah (duda), "lupa" kakasih nafkah ke anaknya segera kasih ya, walau mantan istri kaya atau dia tengil sok tutup komunikasi, tetap kasihkan nafkah itu karena itu pemutus dosa anda, kasihani diri anda akan berlumuran dosa terus menerus karena kealpaan ini. Jika mantan istri tengilnya kelewatan, bisa dikasihkan lewat ortunya, karena ada mantan istri yg lagi balas dendam agar anda pria masuk neraka gara2 tidak menafkahi anak. Mengabaikan nafkah anak itu dosanya besar seperti ibu mengabaikan mengasuh anak. Seperti sabda nabi, "Sungguh berdosa besar seseorang yang tidak memberi nafkah pada yg wajib dia nafkahi" anak istri jika masih bersama atau anak jk sudah cerai.


Biar jika mantan istri jijik menolak, yang penting kita sah kasih nafkah di mata Allah, gugur dosa. Biar nanti Allah yg bikin perhitungan diakherat dengan mantan istri tengil itu. Seperti sedekah ee sama ACT diselewengkan, tetap sah, biar nanti polisi yang penjarakan manajemen ACT karena memotong hak penerima sedekah, ealah ga nyambung ya. Btw dijaman ini, emang ada wanita yang menolak uang halal, yang ada mantan suami tengil kagak kasih nafkah anak malah asyik masyuk dengan istri barunya, didunia enjrot2an lupa anak di neraka digoreng xi xi xi. Jangan cuman suka saat bikinnya, putar sana sini pindah sana sini jungkir balik koprol kayang bergelantungan lari sana sisi terbang eh ga gitu jg ya, ee saat suruh nafkahi ngilang. Pertanyaannya emang bisa ngilang dari pintu neraka? Teleportasi ke pintu surga kikiki.



Sekali lagi saya tekankan, di Islam wanita itu WAJIB bekerja, jika ada kelompok islam bilang wanita tidak wajib bekerja itu BOHONG. Wanita wajib bekerja tapi dirumah sebagai istri dan mengasuh anak. Jadi jangan gak pede "saya ibu rumah tangga, gak kerja", walah padahal jelas2 24 jam kerja keras multitasking, saya yakin jika suaminya sang pria tulen dibalik bekerja dirumah maka gak kuat dia, tengah malam anak nangis gendong sambil bikin susu.


Ada kala kita pria juga perlu berdamai dengan kebutuhan aktualisasi diri Istri untuk menjadi wanita karir, misal anak2 sudah baligh semua, istri dirumah tentu seperti lontang lantung nunggu anak2 pulang sekolah. Karena dalam Islam, sebelum baligh adalah waktu dimana menafkahi dan mengasuh anak menjadi hal yang Wajib (abai jadi Dosa) namun setelah baligh menjadi sunnah yang sangat dianjurkan apalagi zaman modern biasanya usia 22th baru mandiri. Maka Istri tidak ada salahnya bila diberi keleluasaan bekerja, saya yakin anak baligh sudah mulai bisa mandiri, namun mungkin si istri tidak pede karena sudah lebih dari 13th tidak bekerja, maka kita pria support secara finansial misal sebelum bekerja didukung untuk lanjut kuliah misal D3 ke S1 atau S2/S3. Kemudian kita serahkan ke istri unt next stepnya.


Satu lagi, ada kala ada pria yang sudah tahu si calon istrinya adalah wanita karir. Namun dinikahinya juga dengan perjanjian masih diberi kesempatan bekerja setelah menikah, lalu setelah menikah dengan semena2 mengharuskan berhenti bekerja diluar. Tentu ini dzolim, bahkan si istri punya hak minta cerai krn suami melanggar kesepakatan sebelum nikah, sah tidak dosa. Bukan soal tentang wanita bekerja dirumah di islam adalah sangat2 utama karena itu pembuka pintu surga namun bagaimana dulu suami "mengizinkan" kemudian merubah izin itu, semacam janji yang tidak ditepati. Ya janji tetap janji, sakral.



Kita tahu ibu Khadijah adalah wanita karir hebat, diizinkan oleh Rasullullah unt terus berkarir, namun pengabdian pada Nabi tidak pernah kurang, dan beliau tidak perlu keluar rumah dalam bekerja, ya beliau wanita karir kelas tinggi bisa atur dari rumah. Ibu Khadijah memiliki manajemen bisnis tingkat tinggi, dari rumah bisa menggerakkan kaki tangannya menjalankan bisnis besar. Semakin sukses makin mengabdi pada Nabi. Padahal kita tahu godaan wanita karir jika makin sukses makin mengabaikan keluarga, bahkan sedikit2 minta cerai. Karena dikantor udah lelah, pinginnya dirumah tidak lelah juga, yah seperti pria, ujung2nya minta cerai toh bisa peran ganda ayah&ibu. Wajar sekali sih namanya juga melawan kodrat. Beda dengan pria yg ketergantungan, susah pria memerankan peran ibu pada anak bisa kacau haha, walau punya uang banyak bisa gaji babysister tetap aja bingung gimana2nya. Akhirnya babysister atau pembantu dinikahi biar kagak bingung, hadeh. Karena pria gampang trenyuh dan suka pada wanita yg mampu mengasuh anaknya dgn baik, tenang dikantor adem dihati. Kita banyak lihat di berita tv, lama proses cerai, drpd bingung nikahi pembantu. Trus mantan istrinya, "tuh benar kan", hadeh, yg minta cerai siapa yang membenarkan siapa. Trus salah siapa.


Berdasarkan survey, ujian terberat wanita karir adalah semakin sukses semakin sering minta cerai, betul apa betul, padahal masalah dalam rumah tangga selalu ada bahkan pada Nabi seperti dengan ibu Siti aisyah. Coba kalau istri dirumah tentunya suami berkecukupan, maka masalah rumah tangga itu memang selalu ada seperti garam kehidupan namun setelahnya malah jadi seperti bulan madu lagi. Bukan malah diselesaikan dengan kata cerai dan cerai (saya punya uang kok) akhirnya cerai beneran. Banyak wanita menjanda karena karirnya, karir memang dekat dengan kesombongan.


Lanjut......... seorang wanita karir yang diijinkan suaminya karena perjanjian pra-nikah akan lain cerita jika sudah punya anak, bisa jadi sang ibu jadi dzolim kepada anaknya jika hak anak tidak dipenuhi. Kagak mungkin kan bikin janji dengan Allah, sy mau melahirkan jika saya tetap jadi wanita karir ha ha ha. Jadi saya terus terang katakan, karir pada seorang wanita adalah kekurangan. Kekurangan menuju surganya Allah jika sang suami berkecukupan, karena banyak pekerjaan rumah yg terbengkalai padahal itu bernilai ibadah tinggi.



Kita sedikit bahas hal lain, kemudian ada istri sepulang mengaji bilang kesuaminya, "Bang, memasak mencuci baju bersih2 rumah bukan kewajiban istri". Suaminya terperanjat, info dari siapa? Ustad fulan jawab istrinya. Suaminya coba menerangkan tentang aktifitas keseharian rasulullah, seperti siti aisyah memasakkan dan cuci baju rasul, anaknya fatimah meminta pembantu karena lelah kerja dirumah tapi malah diberi amalan bukan menyuruh ali menggantikan anaknya, dari sini saja Rasul mewajarkan itu semua kok ada ustad yg bilang itu bukan kewajiban. Kalau dari pemikiran saya nih, namanya suami istri sebaiknya melandasi pada maqom cinta (hak dan kewajiban sudah melebur) tinggalkan wilayah menuntut ayo masuki wilayah cinta. Saya pribadi bilang nyuci bukan tanggungjawab istri, tapi kalau istri kerja dirumah tidak mencucikan baju suami ya keterlaluan hehe, hidup kagak usah saling menuntut lah jangan juga saling menolak lah. Namanya hidup ya memang ada pemilahan agar seimbang tidak salah satu kelelahan, walau mencuci baju bukan tanggung jawab istri tp jg tidak lepas tangan, mana cinta mana kasih sayang, mana keindahan rumah tangga. Namun misal istri hamil tua udah berat jalan plus ada anak dua balita, ya wajar jika suami walau pulang lelah kerja malamnya cuci baju semua.


Saling mengisi ajalah. Indah kan jadinya. Karena kalau bicara hak, ujung2nya gak enak saling tuntut menuntut. Misal si istri bilang, itu bukan tanggung jawab aku kok, ujung2nya si suami bilang "kata Ustadz.....bla bla....". Jadi jadi istri janganlah merasa jadi budak (art) suamimu, mana keindahan cinta, bahkan imam ali bilang justru hidupmu makin indah disaat engkau bisa menjadikan dirimu budak pasanganmu, bukan merasa diperbudak.


Jadi "hai suami jadilah budak istrimu, hai istri jadilah budak suamimu" maknaya apa? Agar masing2 bisa berkidmah pada pasanganmu, ujungnya kan keindahan, seperti rebutan masak dulu2an bangun pagi mencuci baju dll.


Satu lagi, pasti ada pertanyaan, lalu mending menikah dengan wanita karir atau wanita biasa?


Well, semua ada untung ruginya. Namun pada dasarnya, carilah wanita yang bisa merawat anak2 anda, dan anda suami sibuk mencari nafkah namun ada istri yang anda amanati untuk mengurus rumah dan anak2 anda. Dan itu adalah kemuliaan untuk wanita itu sendiri, pintu surga terbuka luas. Jangan sampai wanita diterjunkan medan perjuangan laki2 yang penuh bermacam2 intrik dan muslihat berbaur antara laki2 dan perempuan yang malah itu membuat anda pria jg ikut2an menanggung dosa istri, ingat wanita adalah lembut yang harus dijaga bukan dibebani dosa. Kalau wanita paham ini maka dia akan ngerti kemuliaan yang sesungguhnya. Karena berhubungan dengan banyak orang itu akan memeras otak tenaga bahkan kehormatannya bisa ternodai walau yah hanya ngebonceng abang gojek, pria lain dengan bebas menikmati kecantikannya, pria iseng seperti ngajak maksi bareng atau pulang bareng. Kita tau lah akhir2 ini disuguhi hubungan terlarang antara wanita karir ibu pejabat dengan supirnya.


Jadi ya sebaiknya anda mencari wanita mau diatur karena suami adalah pemimpin terutama ya mungkin diawal sebagai wanita karir namun suatu saat dibutuhkan setelah punya bayi ya harus mau merawat anak anda dan merawat rumah karena itu suangat diperlukan dalam rumah tangga, jangan hanya ijo dengan duit yang bisa dihasilkan oleh calon istri anda namun membahayakan masa depan anak cucu anda. Wanita karir apalagi sukses tuh rentan minta cerai, senggol dikit bacok, maka pikirkan masak2 hai pria. Harus hati2 sekali, fragile handle with care, mirip2 punya istri cantik bak bidadari hehe. Daya tawarnya tinggi karena merasa masih laku dipasaran. Masih mending cantik lama2 keriput dan gemuk atau kurus lurus kaya gedebog pisang, la karir lama2 mengkilat gaji selangit jalan2nya ke gangnam street.


Bayangkan meninggalkan anak pada babysister atau daycare yg kita tidak tahu akhlaqnya, seakan mengejar dunia yang seolah2 besar padahal anda meninggalkan yang lebih besar lagi yaitu masa depan anak anda dan keutuhan keluarga.


Kemudian, jika kita pria berkecukupan namun "terpaksa" menikah dengan wanita karir dgn perjanjian pranikah karena rasa cinta atau kebelet he he, ya sah2 saja kok karena wanita karir tidak dilarang di Islam kok yang penting ada saling pengertian dan tentu ada aturannya seperti sy telah jelaskan diatas seperti harus restu dari suami yang bener tentunya dll ( terakhir spt jgn jd sebab sombong). Mengapa izin suami bener karena ada suami gak bener spt suruh istri bekerja bahkan jd tkw keluar negeri sedang suaminya leyeh2 dirumah, anak diurus pembantu, itu suami keblinger.



#fiuhpegaljarimaafngocehmlm2bahasmuter2lamagabikinblogpuanjang


Kang Jay

advertisement
Password protected photo
Password protected photo
Password protected photo