BLOG TULISAN Jayadiningrat


Well gimana membahagiakan atau memikat hati wanita?, pria sering kali melupakan satu hal yang bisa menjadi ‘senjata’ ampuh: Makanan. Ya, makanan. Siapa sih yang tidak suka makan? Kini kita pria tidak harus memberinya hadiah bunga atau perhiasan demi memikat wanita yang bagi kita pria timur seakan ribet dan harus mengalahkan ego saat membawakan bunga, atau cincin yang emangnya mau ngajak tunangan. Cukup tanyakan saja apa makanan kesukaan dia dan belikan dia makanan tersebut. Dijamin 70%, dia klepek-klepek padamu. Sedang 30% nya anda belum beruntung, sambil ngaca yach jangan-jangan bidikanmu ketinggian.


Jika masuk dalam 70% kemudian akhirnya jadian atau bahkan jadi pasangan, jangan ragu membelikan si dia makanan dalam suasana apa saja. Dia sedang marah? Sogok saja dengan cokelat atau viennetta. Dia sedang sedih atau sakit? Bawakan makanan kesukaannya. Baru selesai bertengkar? Belikan dia lagi-lagi makanan kesukaannya sebagai simbol perdamaian. Kalau kurang ampuh, beralihlah ke makanan manis karena kebanyakan wanita suka yang manis-manis walau ada sih yang lebih suka pedas-pedas, mungkin bisa jadi si dia udah mulai bosen dengan makanan kesukaannya.



So selalu sedia es krim, cokelat, dan snack kesukaan dia di kulkas kita untuk menjauhkan

mood jelek si dia. Jadi inget, ada lho yang sukak Chitato dan You-C, murah kan. Ketika seseorang lapar, dia akan lebih mudah marah, suasana hati yang tidak stabil, bahkan menangis. Semoga si dia akan lebih mencintaimu ketika kita sudah menyiapkan pencegahan saat dia mulai terkena bad mood.

So Guys, segera rayu si dia dengan makanan lezat kesukaannya!. Menurut saya sih hampir selalu berhasil, namun sebaiknya, selain beli makanan kesukaannya juga beli suasana, alias sekalian hang out walau hanya diajak jalan ke trotoar depan kompleks sambil beli Cilok kesukaannya. Atau seakan kita kehilangan arah saat jalan bareng kemudian mendadak mampir ke warung yang jual Seblak enak. Little surprise. He he he.

Kang Jay

Dari berbagai sumber di internet dan opini penulis.


Perpisahan bukanlah akhir yang permanen. Perpisahan barulah menjadi permanen saat kita mengambil langkah yang salah setelah putus.
Banyak pria suka menghadapi perpisahan dengan negatif, misalnya dengan meneror mantan dgn berbagai pemaksaan, atau tindakan negatif lainnya.


Padahal pakai logika aja, sudah jelas hampir semua orang tidak suka dipaksa. Melakukan berbagai hal tersebut makin merusak image kita yang sudah rusak!.


Atau mungkin kita pria suka berpikir ada kesalahan pada diri kita, jadi kita mulai menghujani mantan dengan perhatian-perhatian yang kita pikir luput ditembakkan semasa jadian, atau hadiah-hadiah agar hatinya luluh kembali, dan beribu kata maaf untuk berbagai kesalahan yang tidak pernah kita ketahui.

STOP!!!
Sebenarnya, kita sendirilah yang menentukan apakah kita akan mematikan kesempatan untuk memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki.



Tunggulah beberapa waktu, dari survey diluar sono menyebutkan waktu tiga bulan cukup pas untuk memulai "lagi", tapi inget bukan pemaksaan ya he he. Selamat mencoba.


Kang Jay


Dari berbagai sumber di internet dan opini penulis.

Jangan terlalu percaya pepatah lama: “kumpulkan uang yang banyak, nanti jodoh bakal datang sendiri dan kamu bahagia selamanya.” Di tempo doeloe itu masih valid karena hubungan semuanya diatur dan diurus keluarga. Tugas kita hanya perlu mencari uang sebanyak-banyaknya, setelah itu keluarga yang turun tangan mencarikan jodoh kita, beres!

Ingat waktu itu kontrol sosial sangat ketat. Perceraian dianggap aib bagi keluarga. Jadi meskipun hubungan berjalan berat, ribet, dan penuh masalah, suami dan istri zaman dulu bakal BERUSAHA MEMPERBAIKI hubungan. Sangat berbeda dengan sekarang yang jika ada masalah, maka bisa dengan mudah mengajukan cerai dan beban sosialnya tidak seberat dulu. Ngapain malu? ama tetangga kanan kiri aja kagak kenal.

Orang-orang zaman doeloe tidak banyak tahu tentang cinta, tapi kontrol sosial MEMAKSA mereka untuk belajar dan beradaptasi, sekaligus “mengecam” perceraian. Mereka sebisa mungkin menghindari perceraian daripada harus mempermalukan diri dan keluarga. Sehingga cerai sama sekali bukan opsi. Opsinya menekankan bertahan, bertahan, dan bertahan bahkan sampai MATI.

Sementara orang-orang zaman now yang menitikberatkan pada kesuksesan finansial membuat orang-orang jadi manja. Susah sedikit, langsung menyerah, ajukan perceraian dan ganti pasangan lain yang lebih mapan!.

Jika dari kecil ditekankan hanya mencari uang saja supaya kaya, menikah, dan hubungan cinta otomatis bahagia, maka wajar ketika dewasa banyak yang tidak mengerti apa pun selain mencari uang. Jadi ketika ada masalah rumah tangga, apa yang bakal kita lakukan?. Tentu saja kita akan mencoba menyelesaikan, menutupi, mengalihkan masalah itu dengan uang. Pasangan marah karena Kita kurang perhatian? Jangan-jangan karena uang bulanannya kurang, jadi ayo kumpulkan uang yang banyak biar dia tidak marah lagi. Pasangan selingkuh? Pasti karena selingkuhannya lebih kaya, jadi ayo kumpulkan uang lebih banyak biar pasangan tidak selingkuh lagi.

Uang memang solusi dari banyak masalah, tapi uang bukan solusi semua masalah. Ibarat, parasetamol memang bisa meredakan banyak penyakit, tapi Anda tidak bisa menggunakannya untuk mengobati tumor dan kanker. Lalu kalau setelah dicekoki banyak uang ternyata masalah tidak juga selesai, ya tinggal cerai sajalah. Tidak ada aktivitas bekerja sama menyelesaikan masalah dan berdiskusi bersama pasangan. Akhirnya tidak ada pelajaran yang kita ambil dari hubungan yang rusak. Kalaupun kita menjalani hubungan yang baru, kita seperti memutar kembali roda masalah itu lagi dan lagi. Banyak saudara saya masuk dalam lingkaran setan ini.

Di zaman orangtua kita, kemapanan finansial itu jadi penonggak keharmonisan karena ada kontrol sosial yang memaksa mereka untuk tetap bersama. Perut kenyang semua bahagia, bahkan seperti ayah saya yang punya banyak istri. Namun, di zaman sekarang, kontrol sosial sudah banyak berubah menjadi tidak seketat dulu dan banyak perubahan di sana-sini.

Bukan berarti kita harus masa bodo dengan kemapanan dan menolak sukses finansial. Namun manajemen keuangan dan manajemen hubungan keduanya saling berhubungan. Yang pertama membiayai yang kedua, yang kedua memaknai yang pertama. Jika kita melalaikan keuangan, maka kita tidak akan bisa membiayai hubungan. Mau bagaimanapun, hubungan juga memakan biaya seperti biaya hidup berdua, rumah, pendidikan anak, dan sebagainya.

Hanya saja jika kita dan pasangan hanya mengerti soal kemapanan saja ketika menjalani hubungan cinta, maka siap-siap hubungan kita melangkah lebih dekat ke jurang perceraian.

Sehingga sedikit nasehat untuk pria, jangan terlalu menghambakan meraih kemapanan baru menikah, namun menyeimbangkannya dengan mencari pasangan yang pas. Tidak harus menjadi sukses dulu, yang tentu banyak wanita yang mau, namun tahukah kita pria tentang ketulusan wanita?. Sehingga jika mencarinya bersamaan dengan mencari kemapanan maka pada saat menemukan wanita yang pas, bukankah akan lebih menarik jika bersama-sama melanjutkan perjalanan meraih kemapanan. Bukankah itu salah satu penguat sebuah keluarga? baik saat susah maupun senang di kemudian hari.

Sedangkan nasehat untuk wanita, mendapatkan pria mapan memang menarik namun ada kalanya susah seperti mencari jarum ditumpukan jerami. Sedangkan mendapatkan pria yang berpotensi mapan lebih mudah didapat. Toh seperti dijelaskan diatas bahwa uang bukan sumber utama kebahagiaan. Namun berjuang bersama meraih keluarga samawa itulah sumber utama kebahagiaan.

Kang Jay

Dirangkum dari berbagai sumber di Internet dan opini penulis.
“Kang, kenapa sih saya sering didekati pria brengsek mulu sih?. Sedangkan yang saya suka itu selalu jauh, tapi yang tidak saya suka selalu dekat? Pun ada pria berkualitas yang mendekati saya namun sudah beristri? Kok saya selalu ketinggalan dan sial gini?”.

Well, ini pertanyaan umum wanita single yang mager he he.

Saya mulai dari satu prinsip "Seseorang yang berkualitas akan banyak menarik orang-orang yang berkualitas juga."

Kekeliruan banyak wanita adalah menyamakan berharga dengan berkualitas, padahal itu adalah dua hal yang berbeda. Setiap orang memang berharga sejak lahir tapi belum tentu berkualitas karena itu terkait banyak hal.

Kekeliruan itu yang tertanam di benak banyak wanita. Banyak wanita malah sibuk pasif, jutek, dan jaim agar terlihat mahal, bukannya sibuk proaktif menambah kualitas. Padahal sikap pasif itu yang menjadi magnet bagi pria-pria brengsek. Yang akan mengusik jiwa mereka untuk bisa menaklukkan "saja".

Banyak wanita jatuh ke prinsip “ada harga, ada kualitas” sehingga berlomba-lomba pamer kualitas dengan cara berlagak mahal. Tanpa sadar bertingkah bagai barang di etalase yang cuma bisa menunggu didekati dan “dibeli”. Kemudian mengeluh risih dikelilingi pria-pria yang tidak disukai bahkan kesal sampai ubun-ubun karena semua pria baik dan berkualitas tidak tersedia atau tidak peka mendekati mereka.

Pria yang berkualitas bukannya takut mendekati, tapi mereka tidak mau membuang-buang waktu dengan wanita yang cuma menunggu, kaku, dan tidak atraktif seperti patung kuburan.

So please be classy, be friendly!

Wanita berkualitas tahu apa yang dia mau dan maju berusaha mendapatkannya, dia tidak duduk diam sambil main gadget cekakak-cekikik bila ada orang yang comment tentang status atau fotonya di sosmed sambil menunggu bagai barang pajangan. Dia bukan cuma hangat, bersahabat, dan membuka diri terhadap pria, tapi juga terbiasa menggoda dan mendekati pria-pria yang menarik hati. Dia bekerja keras mengasah diri, mengemas penampilan, memodifikasi perilaku agar bisa mendekati dan didekati orang berkualitas lainnya.

Pria berkualitas mudah jatuh hati dengan wanita berkelas seperti itu, dia tidak ragu-ragu meninggalkan wanita yang kaku dan dingin seperti ganjalan pintu. Tidak herankan jika wanita yang pasif, minder, dan ribet biasanya dapat pria-pria aneh tukang menyakiti. Tidak heran jugakan jika wanita yang pasif, minder, ribet, jaim, jutek, dan sebagainya itulah yang biasanya ber-SABDA, “Halah semua laki mah brengsek!”.

Untuk jadi wanita berkualitas, Wanita bisa kuliah lagi, ambil kursus keterampilan, dorong bisnis atau karir lebih tinggi, perbanyak jumlah teman, gali lagi minat-minat baru, perbanyak gebetan dan kencan, dan sebagainya. Jangan mau dibodohi orang bahwa wanita berambisi tinggi itu tidak laku! Mereka yang bilang begitu adalah orang-orang yang berambisi rendah dan tidak tahu tujuan hidupnya.

Ingat bahwa semakin wanita berkualitas, maka semakin berkualitas pula pria-pria di sekeliling wanita karena pria bego dan payah akan takut sampai lari terbirit-birit. Ini adalah hal yang bagus karena secara otomatis menyingkirkan pria-pria kualitas rendah dan menyisakan pria berkualitas tinggi untuk Anda wanita.

Semangat Ladies.

Kang Jay

*Dirangkum dari berbagai sumber di Internet dan opini penulis.*
advertisement
Password protected photo
Password protected photo
Password protected photo