BLOG TULISAN Jayadiningrat


Wajar jika seorang wanita cantik selalu diajak ngobrol oleh beberapa pria dalam masa yang sama. Ditambah lagi, dia punya banyak teman wanita, dan teman2 lainnya di WhatsApp Groups-nya bahkan menjadi pusat perhatian ditunggu chitchat-nya. Itulah sebabnya seorang wanita cantik bisa begitu terikat pada ponselnya.


Kita suka lihat di cafe2, malah wanita cantik yang terlihat suka tenggelam dalam ponselnya sambil senyam-senyum sendiri, bukannya autis namun lebih banyak pengagumnya di dunia maya.
Itulah realitas sosok wanita yang sedang Kita dekati sekarang haha.


Saat ini, kemungkinan besar dia sedang sibuk menanggapi chat dari pria-pria yang mendekatinya. Beberapa udah dia kenal lama, beberapa dia baru kenal, beberapa dia suka.


Mereka membuka topik obrolan yang kurang lebih serupa, menanyakan hal yang kurang lebih serupa, dan memberikan perhatian yang kurang lebih serupa, “Lagi apa? Lagi di mana? Sudah makan belum?” Tidak heran dia jadi lambat membalas atau kurang bergairah meladeninya, walau mungkin sebenarnya suka dengan orangnya.


Kita pasti pernah chatting dengan wanita yang membalas asyik di hari pertama, lalu dingin atau menghilang di hari kedua.


Bisa saja dia suka kepada Kita, tapi karena obrolan Kita tuh sama seperti pria lainnya, dia jadi kurang antusias. Itu yang membuat chatting menjadi media yang paling lemah: Kita pria bisa terlihat sama seperti ratusan pria lainnya.


Kita udah bersusah payah mengeluarkan topik yang unik, memancingnya untuk curhat, lalu menimpalinya dengan kata-kata positif. Kita pria berharap semua itu dapat membuatnya lebih baik. Namun, semuanya jadi basi karena pria lain juga melakukan hal serupa haha.


Itulah alasannya saya tidak terlalu menyarankan Anda untuk menghabiskan banyak waktu untuk chatting dengan wanita Cantik.


Apakah Kita perlu menurunkan selera ? Ke wanita biasa...bisa jadi hehe...tanpa saingan kan lebih enak dan lancar xixi...apa sih yang dicari? Walau wanita juga cari kemapanan dan kesetiaan Kita pria. Namun setidaknya Kita pria sudah mengalah agar jodoh segera berjumpa.


Kang Jay


Kita suka mengagungkan Cinta sebagai karunia terindah yang penuh dengan kebahagiaan. Dengan Cinta, kita berharap hidup menjadi lebih mudah untuk dilalui.


Namun, mengapa cinta sering membuat kita tidak bahagia? Jika saling mencinta, mengapa kita suka terjebak dalam hubungan tidak sehat?.


Coba kita bandingkan saat mengejar karir, kita bekerja keras untuk meraih kesuksesan. Walau banyak intrik di kantor, banyak tugas, tekanan dari atasan namun kita ikhlas bekerja keras. Sayangnya kita suka berpikir cinta tidak membutuhkan kerja keras yang sama. Mengapa demikian? Karena kita masih menganggap cinta adalah pelarian untuk mencari kebahagiaan ketika hidup kita MENYEBALKAN.


Ada yang berkata cinta tidak akan memberikan rasa sakit dan cinta harus dirasakan melalui hati. Itu kata pujangga cinta. Kenyataannya? Kita tidak akan mendapatkan kehidupan cinta yang sukses tanpa melalui sekian banyak konflik dengan pasangan. Juga, tanpa logika, kita tidak akan bisa mendapatkan kesuksesan dalam percintaan. Rasa sakit hati adalah bagian dari cinta yang harus kita rasakan. Mengapa demikian? Agar kita dapat berkembang menjadi orang yang lebih baik.


Ada dari kita ketika menemukan konflik dalam hubungan dan berpikir pasangan telah berubah, kita enggan dan muales berjuang dan langsung mencari orang lain demi mendapatkan kenyamanan dan mengobati rasa sakit hati itu. Buru-buru menganggap dia "bukan" jodoh kita ha ha ha ha, lalu kumat deh kebiasaan cepet illfeel, lalu cuekin, blokir, bahkan putusin atau cerain seakan-akan kebahagiaan cinta datang ujug-ujug dari langit tanpa perlu kerja keras. Dimaklumi sih untuk sang mager atau pengangguran yang terbiasa terjebak dalam rutinitas menyebalkan tanpa pernah tau bahwa kerja keras dikehidupan ini diperlukan.


Kemudian nemu pasangan baru, kita pun terjebak ilusi bahwa sudah terobati. "Merasa" dia adalah pasangan paling sempurna. Kita tidak belajar dari hubungan sebelumnya yang gagal. Seiring waktu berjalan, ilusi itu akan hilang. Dan kita pun akan mengulang siklus KEJAM yang sama, kemudian mencari orang lain lagi untuk mendapatkan kebahagiaan semu. Lagi dan lagi.


Ayo kita ubah pemikiran kita tentang cinta. Cinta bukanlah obat untuk mengisi kekosongan atau sekadar menyembuhkan luka hati. Cinta membutuhkan KERJA KERAS.


Jangan langsung menyerah di tengah jalan ketika hubungan mulai terasa sulit. Cinta membuat kita berkembang jadi lebih baik. Hadapi dengan dewasa dan selesaikan dengan logika cinta.


Penutup. Pengalaman saya selama ini, carilah kebahagiaan dari diri sendiri bukan orang lain. Jika kita berharap orang lain dapat membahagiakan kita, jangan heran kalau hubungan kita tidak pernah awet.


Kang Jay


Mulai dari nol, menurutku sih ok2 saja, namun benar sih wanita harus hati-hati. Jika laki2 usia dibawah 27 tahun, ok lah belum punya apa2, wanita bisa liat dari semangat kerjanya, pendidikan terakhirnya, visinya untuk masa depan, atau sallary saat ini.


Namun jika diatas 35 tahun ngajakin mulai dari nol, maka wajar wanita mempertanyakan terutama bagi wanita yang udah 'pernah' merasakan dari nol dan zong haha, si pria selama 10 th lalu kemana aja, tidur?, gajinya buat apa. Bukan ngajarin wanita materialistis namun realistis, yah setidaknya lihat pekerjaan dan penghasilannya saat ini, walau hanya lihat penghasilan bulanan aja tp berpikir positif aja mungkin selama ini dia boros maka nanti anda wanita jd direktur keuangan. Pria ini masih ada harapan hehe.


Namun ada tipe pria yg mager bener, diusia 35 lebih masih ikut ortu, nganggur atau kerja kagak betahan, cita2 super tinggi dgn angin surga "Nanti jika nikah akan kerja tetap dan punya gaji tinggi atau memulai bisnis menjanjikan". Alasan saat ini masih nol karena belum ada yg dinafkahi dan masih fokus belajar bisnis. Trus ngajakin mulai dari nol. Nah pria ini wajar jika dirasa punya harapan tipis di masa depan hehe.


Saran saya pria ini lebih memilih wanita muda sekufu dibawah 23th, fresh untuk diajak mulai dari nol, makan sepiring berdua masih dirasa indah oleh istri, pun istrinya shock setidaknya shock untuk pertama kali bukan kedua kali hahaha buat pengalaman la, kadang pengalaman buat yg belum berpengalaman malah menjadikan wanita tangguh, banyak saya lihat istri2 tangguh ini karena saya pernah 4than hidup di gang sempit di Jakarta...........


Tapi jika pria diatas 40 masih gitu-gitu aja, biasanya sih bakalan gitu-gitu aja. Tapi percayalah, asal si pria mencari istri sekufu maka pernikahan akan dijalani "gitu-gitu saja" dengan bahagia. Saat tinggal di gang, saya lihat sendiri tetangga dari muda sampai usia 65th gitu-gitu saja, menjalani hidup bahagia dengan anak cucu mantu total ada 12 orang tumplek di rumah petak 30m2. Hidup ini pilihan, pilih bahagia atau pilih merana, lihat kebawah bukan ke atas. Jangan juga berharap muluk2 seperti seorang Youtuber menikahi pria aceh, harus juga sadar kapasitas suami yang dipilihnya.


Bagi wanita yang kebelet nikah, tidak ada salahnya nekad. Hidup sekali jangan dibuat rumit. Nikah itu sederhana, yang penting suami sayang dan setia. Insya Allah dengan banyak doa istri, rejeki suami akan mengalir dari segala arah tanpa diduga. Saya selalu percaya itu. Saya membuktikannya bahwa doa istri mujarab, dulu gimana saya tamatan STM mulai merayap dari bawah disambi kuliah dan rajin baca buku minimal 50 buku dalam satu tahun yang begitu membuka cakrawala saya untuk terus maju.


Sekali lagi jika diajak mulai dari nol, janganlah berharap macam-macam misal 10 tahun kemudian suaminya jadi kaya raya, bahkan terbuai gombalan "Khas Pria" memberikan angin surga berkata, Nanti kita memulai bisnis, ada channel temen yg mau modalin bisnis, mau giat bekerja lah, bahkan bilang "warisanku banyak" ya kalau ortunya cepet koit haha. Sewajarnya saja berharap sambil terus terdoa.


Lebih utama mendapatkan kebahagiaan pernikahan dibanding kekayaan dunia namun tidak bahagia, karena banyak pernikahan gagal karena istri terlalu berekspektasi tinggi terhadap suaminya, kemudian berkata ke suaminya "Coba dulu pilih si A", "Sial nikah dgn kamu", "Kenapa dulu kita dipertemukan" akhirnya ucapan itu menjadi doa diijabah Allah dan suamipun menjadi lemas dan males berusaha seakan mengiyakan nasibnya, lalu ketidakpuasan istri berlanjut sampai akhirnya mengajukan cerai. Jangan ya, berekspektasilah sewajarnya dan pakai logika, agar nanti tidak kecewa.


Kang Jay



Kalau denger lirik lagu Mus Mujiono ini, berasa darah tua ini menjadi muda dan semangat lagi untuk mencari the only one untuk menemaniku sampai tutup usia. Insting natural manusia untuk berpasangan tuh tidak dapat ditolak, terutama saat kita sendirian dan banyak melamun. Ke'eng kata orang sunda mah.


Dulu pikiran2 itu sempat tertunda karena banyak cita-cita yang ingin digapai seperti lulus doktor dulu, punya sekian rumah/ruko dulu, pingin beli mobil liatrik sport cash, punya bla bla bla yg dipikir2 harta2 tersebut malah menambah beban hisab diakherat.


Namun setelah tercapai ternyata manusia tak ada habis cita-citanya seperti ingin jadi profesor dll, namun ternyata ada hal yg menyadarkan saya yaitu umur. Umur tidak pernah bohong, badan sudah tidak se-prima dulu dengan banyak aktivitas perlu diimbangi dengan banyak istirahat juga, badan juga gampang pegal-pegal, mata juga mulai buram. Contohnya hari ini dan kemarin saat tanggal merah, tidur dan tidur tanpa gangguan tuh begitu nikmat.


Minggu kemarin sempet diskusi dengan teman, dan saya mendapat nasehat darinya:


"Jodoh itu ada di sekitar kita. Look around dan berdoa.."


Saya cukup lama memikirkannya dan membolak-balik dua kalimat tersebut, cukup penuh makna dan mengena dihati. Dipikir-pikir bener juga ya, mengapa saya tidak fokus melihat sekitar dulu.
Jodoh itu bisa jadi benar ada disekitar, kita hanya perlu membuka diri. Kita hanya butuh action menampilkan jati diri dengan sebaik-baiknya tuk menarik jodoh kita mendekat.


Jodoh itu bisa jadi sahabat kita sendiri. Karena sahabat adalah seseorang yang setia dan jadi pendengar yang baik. Sahabat tetap tinggal saat orang lain memilih meninggalkan kita terpuruk sendirian. Sahabat tetap berteman dengan kita meski begitu khatam dengan segala kekurangan kita.


Jodoh itu dekat, sedekat kita menemukan seseorang yang tak banyak mengeluh tentang kehidupannya bersama kita, sekalipun masalah tak luput bersama kita. Jodoh itu mengajak kita jadi pribadi yang lebih baik dengan cara kita sendiri, bukannya si dia yang banyak menuntut kita melakukan ini dan itu dengan cara dan seperti kemauannya.


Jodoh itu dekat dan sederhana. Sesederhana kita menemukan seseorang yang membuat kita nyaman meski baru kenal. Jodoh tak pernah sulit, justru kadang kita sendiri yang mempersulitnya dengan banyaknya kriteria.


Jodoh itu begitu dekat, saat kita senang dengan seseorang disekitaran kita maka jangan tanyakan kepada akal kita karena kalau hanya tanya pada akal maka pasti si dia ada kekurangannya.
Tanyakan kepada hati kita, ketika hati sudah bergetar maka carikan pembenaran untuk akal kita. Ingat bahwa sakinah mawadah warahmah semuanya berkaitan dengan hati.


Ditambah kekuatan doa akan semakin mendekatkan jodoh kita dan memudahkan kita menuju pelaminan dan meraih keluarga samawa. Ingatlah doa dapat merubah takdir menuju takdir Allah yang lain, begitu hebatnya kekuatan doa. Ingatlah juga hadist nabi, "Sesungguhnya doa dan takdir saling berusaha untuk mendahului, hingga hari kiamat." Hmmmm nasehat untuk diri saya juga.


Kang Jay.


Biasanya selama ini kalau kopdar dengan cewek, saya dalam hati merasa "kok beda dengan di foto ya" namun itu hanya dihati karena beberapa minggu kemudian saya mulai menyesuaikan dan enjoy dengan dia, yang hitam pun makin lama makin manis, yang rada gemuk pun makin lama makin semok, yang pendek pun serasa ringan diangkat2 eehh, yah lebih mencari kecocokan hati.


Toh bukan mencari foto model apalagi finalis Miss Indonesia, walau dulu saya punya kenalan finalis yaitu IM bahkan akrab sampai si dia menikah dgn guru fitness hehe patah hati deh, jadi tau levelnya kikiki. Oiya masih suka nonton lagunya Besame Mucho dan One Last Cry di Yt, semok anggun, cocok jd istri pejabat.


Sekedar berbagi pengalaman sekitar setahun lebih yang lalu, saya kopdar dengan seorang gadis usia 33th, setelah saling sapa kemudian dia mempertanyakan langsung "kok kamu beda dengan di foto ya", beda gimana? "difoto lebih mudaan dan tidak terlihat gemuk". Kalau tinggi gimana? "ternyata lebih tinggi seperti raksasa".


Well raksasa. Akhirnya saya se-kopdar-an berpikir keras "apa saya sudah tua ya tp ya kan usia jg udah 44th hampir setengah abad hehe". Mungkin pembaca blog ini ada yg bertanya mengapa tidak Vcall dulu, saya emang orangnya ga suka Vcall, langsung aja Kopdar biar langsung dapat feelnya, kalau Vcall suka malah jd hambar trus bubar.


Padahal kalau boleh jujur saat Kopdar dianya terlihat jauh dari foto, lebih hitam, muka bulat bukan tirus spt difoto, badan sayu dan bibir hitam bekas banyak merokok mungkin lupa pake lipstik, namun semua itu tertutupi dengan saya yang berusaha keras bertahan dari komentar dia tentang tubuh saya, tanpa mempedulikan dianya gimana. Akhirnya waktu kopdar berlalu dengan cepat, saya pun tidak perlu detail mengisahkan perjalanan hidup saya dan keluarga, kesini naik mobil apa punya berapa, punya bisnis apa gaji berapa, rumah berapa, apartemen berapa, ruko berapa, hanya secukupnya sekedar basa-basi.


Sampai pada akhirnya saya putuskan memberi dia bungkusan makanan dari cafe itu berikut hadiah yg saya beli saat mampir ke mall pagi tadi, sebagai rasa terima kasih selama ini udah chit chat sebelum kopdar, karena saya dalam hati sulit melanjutkannya. Serasa langsung illfeel, namun semoga tidak membuatnya kecewa. Aamiin. Atau mungkin dianya yang illfeel kesaya dari pandangan pertama, mungkin begitu sebagai positif thinking sy aja. Padahal cita2 mau saya antar pulang pakai mobil inreyen saya haha walau rumahnya dekat dari mall itu, hehe jd mengurungkan niat.


Setelahnya bahkan sampai hari ini saya berpikir bahwa usia tidak pernah bohong, diusia mid 45-50 mungkin saatnya saya instrospeksi diri untuk lebih bahagia dan lebih banyak olah raga agar lebih sixpack hehe. Pagi tadi sudah daftar Fitness berikut personal trainer 6bln didekat kantor, walau sebenarnya alasan utama karena bulan depan kantor mengadakan medical checkup tahunan haha. Semoga istiqomah.


Kang Jay


Banyak dari kita yang baru membina hubungan atau sudah lama ta'aruf atau bahkan sudah lama menikah kemudian kandas ditengah jalan, berawal dari suatu kegundahan hati, kemudian kita secara terbuka ataupun dalam hati mengatakan pada pasangan kita, “Aku tidak bahagia bersamamu.” Perlahan tapi pasti, pasangan kitapun mulai terimbas energi negatif itu dan mulai tidak berdaya mempertahankan sebuah hubungan. Kemudian kita coba ganti pasangan, namun kejadian itu berulang lagi dan lagi. Seakan-akan mencari the only one namun pada akhirnya zonk selamanya.


Padahal, kebahagiaan itu urusan yang berkaitan dengan hati kita sendiri. Sekeras apapun usaha pasangan kita membahagiakan kita, kalau kitanya sendiri tidak pandai bersabar dan bersyukur maka kita tidak akan menemukan kebahagiaan.


Memang saya pernah merasakannya, pada usia 40 tahunan, kita sudah mulai mencari makna kehidupan, dan wajar kita mulai mempertanyakan kebahagiaan bersama pasangan. Namun sebelum mempertanyakannya lebih baik tanyakan dulu pada hati sendiri apakah pasangan kita sudah bahagia bersama kita. Sudahkah kita membahagiakan pasangan?, jangan-jangan masalahnya ada didiri kita sendiri, sulit dibahagiakan tapi tuntutan buaaaanyaaaaak ha ha.


Coba kita bandingkan "Bahagia saat memberi kebahagiaan" atau "Bahagia saat dibahagiakan".


Percayalah, kita tidak akan pernah bahagia jika terus memintanya dari orang lain, karena manusia itu mahluk yang amat lemah dan tidak satu orang pun yang mampu membahagiakan diri kita. Ingat pasangan kita sebelumnya bukan siapa-siapa kita, diapun bersama kita untuk meraih kebahagiaannya juga.


Dulu saya pun merasakan kesakitan saat istri atau pacar saya bilang, "saya merasa tidak bahagia menikah denganmu", "kenapa aku dipertemukan denganmu dulu", saya paham sih maksudnya tuh "aku ingin dibahagiakan", "aku ingin kamu berubah". Namun penyampaiannya menjadi sangat menyakitkan ke saya, namun saya tidak serta merta membalasnya dengan men-judge dia juga, seperti yang lagi happening saat ini yaitu seorang youtuber dgn suami aceh yang frontal bilang istri durhaka lah bla bla. Namun itu saya anggap sebagai pengingat, "oh mungkin aku kurang perhatian", "oh mungkin aku perlu banyak ajak ngobrol dengar curhat dia dan perang bantal hehe", "oh mungkin aku perlu menyisihkan uang untuk lebih sering ajak dia jalan2 dan makan2". Karena saya sadar hal terbaik dalam hidup ini saat pasangan kita bahagia, imbasnya ke kita sendiri yang ikut bahagia. Itu seperti membahagiakan Tuhan dengan ibadah2 rutin & rajin kita, imbasnya Tuhan memberi kita kehidupan bahagia di dunia & akheran aamiin.


Sehingga bahagia itu bukan pada diri orang lain, tapi pada diri kita sendiri. Bahkan saat punya pasangan toxic, tetap ada sisi yang bisa membuat kita bahagia, setidaknya kita tidak sendirian dan masih ada yang perhatian dengan marah2 atau menyakiti kita hahaha.


Bahagia itu bukan dengan meminta, tetapi dengan memberikan. Itu makna bahagia sejati.


Saat kita yang single bisa bahagia tanpa berusaha menggantungkan kebahagiaan pada orang lain. Maka tinggal selangkah lagi kita menuju kepelaminan karena kita jadi lebih mudah memutuskan. Dan juga karena, saya selalu percaya, baik pria maupun wanita single sebenarnya memiliki pilihan yang banyak, tinggal kita mau bahagia atau tidak walau dengan pilihan yang jelek sekalipun. Percayalah, jelek itu bisa dipoles dengan bedak sabar dan syukur.


Menikah memang bukan main-main namun menikah juga bukan hanya soal mencari yang bisa membahagiakan, namun banyak hal lain yang bisa kita raih. Ya banyak. Kisi-kisi pertama, pernikahan adalah proses melengkapi diri dan kehidupan.


Akhir kata, pernikahan gak cuma berisi kebahagiaan, gak usah berekspektasi terlalu tinggi ah.


Kang Jay


Silakan pilih salah satu, masalah mana yang selama ini membuatmu menunda atau tertunda nikah?


1. Belum ketemu jodoh.

2. Belum siap finansial, walau sudah siap seperangkat alat sholat.

3. Belum dapat izin dari orangtua, namun sudah mengantongi izin dari pak lurah.

4. Ingin fokus nyelesaikan pendidikan dulu sambil main game seharian yg mengasyikkan.

5. Ingin fokus di karier dulu bahkan makan aja lupa apalagi pacar.

6. Masih nyaman tinggal dengan orangtua, masih suka dikelonin ibu.

7. Masih ada kakak yang belum menikah, mana mintanya 100jt untuk dilangkahi.

8. Punya orientasi sex berbeda, bahkan di mimpi pun tetap aja berbeda, cuman berharap diakherat normal.

9. Aura ruwet pikiran mumet, minum bodrex malah ketiduran.

10. Kena pelet jarang goyang atau guna-guna semar mesem atau santet. Suka linglung, sakit kepala, nafsu mulu tanpa sebab, terobsesi....nah nah....

11. Susah melupakan mantan alias gagal move on. Ditambah mantan yg udah nikah suka curhat bahkan minta ketemuan.

12. Trauma sehingga tidak percaya akan pernikahan, ortu cerai tetangga cerai bahkan presiden cerai.

13. Gangguan Jiwa, masih rawat jalan sambil cekikikan.

14. Gangguan Sex, sudah ke klinik Tong Fang namun belum sembuh, malah makin menjadi, loyo tak tertolong.


Apalagi ya, tambahin kalau tidak ada diatas, contohnya, lagi males hidup didunia apalagi nikah pengennya traveling ke alam lain tapi maunya nimbel dipelataran surga....atau apa..


Berdasarkan survey salah satu Motivator terkenal dari ribuan anggota fanspage nya, jawaban yang paling banyak dipilih oleh mereka adalah pilihan nomor 1, yakni belum ketemu jodoh.


Masalah jodoh ini selalu jadi pembahasan yang menarik. Hal ini mungkin karena kegalauan kita terkait siapa sebenarnya orang yang dicipta oleh Tuhan untuk menjadi pendamping kita kelak.


Ada banyak sekali persoalan yang membuat kita galau terkait dengan jodoh. Ada yang saling cinta, tapi keluarga tak setuju. Ada yang dijodohkan, tapi nggak saling cinta. Ada yang keluarga setuju, pasangan saling cinta tapi pas mau nikah hadir pihak ketiga yang jadi pemisah. Namun ada pula yang happy ending, yang saling cinta, keluarga setuju semua, mereka pun berhasil melangsungkan akad nikah dan membina keluarga yang bahagia.


Biasanya kita para jomblo mengkhawatirkan hal-hal seperti ini: Jangan-jangan jodohku tak sesuai dengan inginku. Jangan-jangan aku tak bisa bersama dengan orang yang selama ini kucinta. Kekhawatiran ini yang bikin hati para jomblo resah.


Apa lagi kaum wanita. Jodoh bagi mereka adalah hal yang sangat urgent. Keyakinan bahwa kaum pria punya kesempatan memilih yang jauh lebih tinggi dibanding kaum wanita menyebabkan para wanita punya kekhawatiran yang lebih. Mereka takut. jangan-jangan nggak kebagian.


"Ya Allah, Siapa Jodohku?”. Pertanyaan itu yang selalu terucap dari lisan orang yang galau dengan jodohnya kelak. Ada para gadis yang sudah mulai menua tapi kekasih yang didamba tak kunjung datang. Ada seorang jejaka yang tak juga menemukan tambatan hati sebagai ibu bagi anak-anaknya. Ada seorang yang berulang kali gagal merayakan cinta hingga depresi bahkan trauma membangun rumah tangga. Ya, ada bermacam fenomena.


Selalu percayalah bahwa seberapa pun besar rintangan yang hadir, sejauh apa pun jarak yang ada, sehebat apa pun ujian yang datang, kalau memang jodoh, pasti akan ketemu juga. Jangan terlalu risau. Tuhan lebih tahu kekasih seperti apa yang terbaik dan paling sesuai dengan kepribadianmu.


Jika kita punya masa lalu kelam, seperti trauma berkali-kali dibohongi pacar, trauma perceraian, trauma dari keluarga broken home dll. Percayalah bahwa masa depan tidak ditentukan oleh buruknya masa lalu. Kita harus lebih percaya bahwa perubahan hidupnya di masa yang akan datang justru sangat dipengaruhi oleh bagaimana kita membangun mimpi kita saat ini. Bagaimana kita berupaya keras serta menjauhkan diri dari segala penyakit yang bisa membuat hidup kita statis.


Sehingga cara terbaik untuk mengubah nasib adalah dengan mengubah tindakan kita. Einstein pernah berkata, "Melakukan hal yang sama, lalu mengharapkan hasil berbeda, itulah yang disebut sinting."


Teringat jaman saya masih muda, punya bos muda yang karirnya melesat, saya tanya resepnya apa?, dia menyarankan cara sederhana dulu yaitu lakukan merubah rute saat kekantor atau pulangnya dengan jalur berbeda-beda, sampai mentok tidak ada jalan tikus yg belum dilewati, dari situ dia bilang nantinya akan terpikir hal hal lain tentang pekerjaan di kantor dikerjakan dengan cara yang berbeda menemukan ide & alur berpikir seperti jalan tikus. Satu lagi saran lain, yaitu dari Pierre rekan perancis bilang berusahalah tidak pernah melewatkan satu haripun dikantor tanpa belajar 1 jam, belajar apapun. Saya mempraktekannya dan berhasil. La kok bahas kerjaan, tapi saya pikir dalam hal menjemput Jodoh akan mirip-mirip, putar otak pakai alur berbeda dalam ikhtiar sambil belajar untuk memperbaiki diri.


Oiya jadi teringat juga mantan pacar saya yang sholehah, dikemudaan usia 23th dan saya 36th saat itu, saya begitu terpesona dgn ketaatan beribadahnya dimanapun berada bahkan ditengah kemacetan tidak pernah meninggalkan sholat selama wajib dilakukan Semboyan dia membuat saya terngiang2 ampe sekarang, "Yang bisa merubah kita ya diri kita sendiri, jangan berharap pada orang lain untuk merubah nasib kita, atau men-judge orang lain karena nasib buruk kita". Teringat dia kok merasa salah, tidak cepat2 melamarnya keburu dilamar orang lain, yg berkualitas emang laris manis. Walau cewek, dia jenderal sholatku, motivasinya selalu mengobarkan semangat ibadahku, lah kok kebalik tp kenyataan eh.......saat ini, saya aja mulai getol ibadah banyak setelah nonton Film Siksa Kubur bahahaha sereemm berrrrr berasa di liang lahat sendiri. Oiaya, pernah dulu dia saya tanya, kalau bisa nyicil 2jt perbulan apa yg akan dia lakukan, pikir saya jawabannya nyicil rumah atau mobil atau kuliah lg, namun saya terkaget2 dengan jawabannya, dia bilang kalau dia bisa nyicil 2jt maka yg dilakukan pertama adalah ngutang untuk umroh berdua, saya terhenyak dgn jawaban tak terduga itu, bahkan dia spt termotivasi dan setengah merengek ngajak nikah agar halal dan segera bisa umroh berdua sebagai muhrim walau ngutang, kerinduannya pada tanah suci begitu besar. Contoh anak saya saat seusia dia yah mudaan 2 tahunan, cita2nya malah pingin naik balon udara di Turki haha, ya udah ya saya kirim dia kesana xixi, ee tahun berikutnya pingin nonton dan main ski di pegunungan alpen swiss, ngelunjak nih anak. Ga papa ya ngeblog sambil curhat masalalu....lanjut bren.....


Sehingga. Bukan karena nasib jadi hidup begitu-begitu saja, mungkin action dan ilmu kita yang begitu-begitu saja, maka ayo berbenah. Maaf kehabisan kata2 gara2 tengingat mantan...eh....cek dulu ig nya ah...


Kang Jay


Mungkin, kebanyakan laki-Iaki memang begitu.

Namun, kebanyakan perempuan juga begitu.

Mereka yang membuat Iaki-laki berjanji.

Mereka yang berekspektasi.


Mereka yang menyalahkan laki-laki ketika janji itu tak tertepati.


Well kita mulai saja kisah ini, yah kisah yang sangat-sangat biasa terjadi.


Kamu berkata kepadanya, “Aku nggak mau main-main. Aku mau hubungan yang jelas, yang ada tujuannya,”


Dan karena aku sudah lelah patah hati, karena aku nggak mau membuang waktuku dengan orang yang nggak pernah berani berkomitmen untuk masa depan, lanjutmu dalam hati.


Hari itu, ada jeda yang berlangsung lama sekali. Tetapi hari itu, kamu bisa mendengarnya berkata.…


“Aku juga nggak mau main-main.”


Beberapa hari kemudian, dia mengisi hari-harimu, setia membalas pesanmu di tengah malam, selalu menjadi orang pertama yang bertanya apakah kamu sudah bangun, saling berbagi cerita, lalu kamu akan mendengarnya berkata:


“Aku pengen kita selamanya kayak gini.”


Setetes air mata menitik di matamu. Mulutmu merapal syukur. Hatimu bergema, “Akhirnya, akhirnya. I found the one.”


Beberapa minggu kemudian, kamu akan membuat drama kecil. Tak membalas pesan darinya, tak memulai percakapan di pagi hari, tak mengangkat telepon darinya. Sekadar mengecek keseriusannya. Sekaligus rindu mendengar kata-kata manis darinya.


Sehingga, dia akan menyerah dalam argumen tak jelas ini dan berkata,


“Aku sayang sama kamu. Kamu jangan gini, dong.”


Namun, kamu lelah dengan ucapan indah. Kamu ingin sesuatu yang lebih serius. Dengan hati yang sudah melayang di langit dan senyum lebar di bibir, kamu mengetik pesan semacam, “Ah. Ngomong sayang mah gampang.”


Dan, dia akan berkata,


“Maaf kalau aku belum bisa komitmen. Tetapi, aku janji. Aku bakal dapat kerja, mapan, biar kita bisa............................... nikah.”


Dan, seluruh tubuhmu meleleh.


Sejak hari itu, tak ada lagi lagu favorit, yang ada hanyalah suaranya, melantunkan janji manis itu, bermain di kepalamu setiap hari, menjadikan hari-hari lebih indah, membuat cinta menyerbak ke seluruh penjuru hatimu, lebih pekat, lebih dalam.


Namun, itu dulu...


Masa lalu yang tak pernah terulang.


Beberapa bulan lalu, kamu menyadari sesuatu: Semakin dalam kamu mencintai, semakin banyak langkah mundur yang dia ambil. Melalui perbedaan pendapat yang tak berujung, kesalahpahaman yang tak jelas, kebuntuan yang tak terelakkan, ucapan maaf yang sia-sia, dia dan kebiasaan buruknya, kamu dan ekspektasimu.


And you've never loved and hated someone this hard, at the same time. Di satu malam yang tak berbintang, keputusan harus di ambil.


"Mending kita udahan aja kalau kayak gini terus".


Sejak hari itu, janji-janji manis yang pernah diucapkannya menjadi lagu kenangan yang selalu bermain di kepalamu, setiap malam, sebelum tidurmu, di sela-sela air mata yang tak tertahankan. Dan setelah jatuh cinta berulang kali, kamu menyimpulkan,


“Semua laki-laki sama aja, ya. Cuma bisa kasih janji manis. Tanpa kepastian.”


Sekali lagi, kisah diatas sangat jamak terjadi, bertahun-tahun di AN sangat sering saya membaca keluh kesah wanita seperti kisah diatas.


Saya, sebagai laki-laki, ingin menjawab: mungkin, anda benar. Mungkin, kebanyakan laki-laki memang begitu. Tetapi, kebanyakan wanita juga begitu. Wanita yang membuat laki-laki berjanji. Wanita yang berekspektasi. Wanita yang menyalahkan laki-laki ketika janji itu tak terlaksana. Padahal, wanita tahu: anda yang memulai semua kode ini menjadi sebuah keseriusan, sedang pria hanya mengikuti alur yang wanita buat sehingga dia hanya berusaha menyenangkan hatimu dengan janji surganya. PADAHAL, wanita pun tahu: pria, yang wanita cintai, punya janji-janji lain yang belum terpenuhi.


Maksud saya...


Anda bisa melihat dengan mata sendiri: misal pria itu masih menggunakan uang orangtuanya untuk pendidikan atau untuk uang jajan selama nganggur, tetapi dia malah menggunakan uang itu untuk anda, dan anda merasa, he's such a gentleman. Namun, bayangkan, jika anda adalah ibu dari seorang anak laki-laki, yang diberi uang untuknya, untuk pendidikannya atau jajannya, tetapi dia malah menggunakannya untuk seorang perempuan yang baru dikenalnya beberapa bulan terakhir, akankah anda akan baik-baik saja?.


Anda bisa melihat dengan mata sendiri: si pria belum lulus atau belum bekerja. Dan, kelulusannya atau bekerjanya adalah janji tak terucap, yang belum terpenuhi, antara dia dan orangtuanya.


Anda bisa melihat dengan mata sendiri: si pria tidak pernah memulai janji jika tidak anda mengirim kode-kode agar hubungan itu menjadi keseriusan.


Anda bisa melihat dengan mata sendiri: si pria bahkan tak tahu cita-citanya. Oh, pria itu mungkin memiliki cita-cita. Tetapi, dia bahkan tak pernah mulai mengejarnya. Jika dia menghabiskan waktu dengan hal favoritnya, anda akan mulai merasa dia tak peduli kepadamu. Padahal, cita-cita adalah janji dia untuk dirinya sendiri.


Janji apa yang wanita harapkan dari seorang laki-laki yang belum memenuhi janji orangtuanya dan janji untuk dirinya sendiri?


Ini tak selalu tentang laki-laki dan janji manisnya. Ini juga tentang wanita dan ekspektasinya yang berlebihan. Berhenti menyalahkannya yang gagal menepati janji itu, sebab wanita pun belum memenuhi janji... untuk Tuhan yang menciptakan anda; lalu, untuk orangtua anda, dan untuk diri anda sendiri.


Hidup tak selalu tentang dia yang kamu cintai.
You have your own life, and it doesn’t always have to do anything with him.


Kang Jay

advertisement
Password protected photo
Password protected photo
Password protected photo