BLOG TULISAN Jayadiningrat

Tiap hari berbalas pesan, tiap minggu diajak jalan, tapi suatu hari pesan mu yang isinya “Selamat pagi” atau “Kamu lagi apa?” atau "Sudah makan belum?" yang biasanya berujung pembicaraan panjang sampai tengah malam, tidak dibalas sama sekali.

Tunggu sejam, dua jam, semalaman, lalu seharian. Awalnya kita masih berpikiran positif. “Mungkin dia lagi sibuk” atau “Mungkin hp atau nomornya rusak”. Tapi setelah berhari-hari, kita masih tidak mendapat balasan meskipun sudah mengirimkan puluhan pesan khawatir yang isinya pertanyaan apakah dia baik-baik saja.

Akhirnya kita mau-nggak-mau harus menerima kalau kita sedang jadi korban ghosting. Sesuai namanya, korban hantu!. Karena cuman hantu yang menghilang di udara begitu saja he he. Karena juga hanya hantu yang tidak bisa kembali untuk memberikan penjelasan kenapa dia pergi. Kecuali anda punya indera ke enam atau ketujuh, atau punya kemampuan mengundang hantu.

Ini bukan cerita hantu, tapi ini cerita betulan. Dan sering terjadi huahaha.

Fenomena ghosting alias mengakhiri sebuah hubungan dengan memotong semua komunikasi tanpa penjelasan ternyata dirasakan banyak orang lho. Dari salah satu tabloid katanya sih hampir 25% manusia pernah menjadi pelaku/korban ghosting saat tahap mencari pasangan.

Alasan umum pelaku ghosting: dibanding ngasih penjelasan, lebih baik ngeghosting aja. Artinya, daripada melakukan konfrontasi terhadap pasangan, mereka lebih suka cari aman dengan menghilang dan menunggu orangnya sadar dan menerima kalau kita ingin meninggalkan dia. He he he bikin nyaman pelaku ghosting, tapi bikin kikuk korbannya.

Berikut summary alasan pelaku ghosting ataupun comment dari korban ghosting.
1. Pelaku ghosting:
- Nge-ghosting karena ngindari konflik. Gebetannya seram kalo marah je apalagi kalau bilang alasannya karena bosan, pamannya reserse je . (hadehhh, surem).
- Nggak nyaman kalau mengungkapkan perasaannya secara langsung. (Terus qm mikirin perasaan pasangan qm nga??? Hem??).
- Nggak cocok dengan gebetan. (Kalau ga cocok ngapain deketin, Maliiiiih).
- Sadar bukan yang terbaik buat dia. (Duh kok ga percaya diri sih, emang gak layak dipertahankan gaesss).
- Trauma dengan hubungan sebelumnya, jadi belum siap untuk commitment saat si dia nagih terus. (Move on dong ah agar supaya.... eh ga tau agar supaya apa ya he he).
- Belum jadian, jadi asyik2 saja ngilang, ngomong putus kan buat yang udah jadian. (Aseem bener, emang perasaan orang bisa ditinggal begitu saja, emang jemuran).

2. Korban ghosting
- Ngerasa seperti orang idiot, orang yang tidak dihargai. Sebelumnya merasa punya hubungan kuat mendadak seperti tidak pernah terjadi apa2.
- Serasa seperti kena pukulan di dada. Bisa sih cepat move on tapi kepercayaan terhadap orang lain jauh berkurang. Seakan tak layak dicintai. (Ingat kalau kena ghosting, yang bermasalah itu dia bukan anda).
- Mendadak hampa, dari yang sebelumnya rajin chatingan, rajin jalan bareng, rajin ngamar (ealah jangan ya saudara2 beriman hehe) mendadak ilang.
- Sebenarnya sering sih kena ghosting. Udah juga bangun pertahanan kokoh. Tapi saat serangan demi serangan dengan serangkaian janji manis dan cahaya pertolongan, lalu pondasi runtuh dan pertahanan roboh. Mendadak ilang, kena ghosting deh, maka cuman bisa bilang "bangke, aing katipu deuy".

Namun dari kejadian ghosting ini bagi korban cukup ambil hikmah dan berpikir positif saja, mungkin Anda sedang diuji sebelum mendapatkan pasangan terbaik. Ingat, ada temen saya yang berkata begini "boro-boro ngilang, ada yang datang juga kagak, kalau ada mau saya aji-aji semar mesem atau jaran goyang, cobain kalau bisa ngilang yang ada mendem (kesurupan)" ha ha ha.

Untuk pelaku ghosting hati-hati lho bisa-bisa kena azab seumur hidup kagak bisa pesan gofood karena setiap setelah ngechat “Sesuai aplikasi ya, kak? Mohon ditunggu”, setelah ditunggu lama gak dateng-dateng karena sama abang gojeknya orderannya dibawa kabur. Kira-kira dongkol dan kesel gak he he.

#dari berbagai sumber dan opini penulis

Kang Jay
Sekedar saran terutama untuk para single ladies sebaiknya nggak usah khawatir soal kuliah setinggi mungkin. Banyak gadis yang justru menemukan jodoh mereka saat sedang kuliah. Sebagai dosen dan juga mahasiswa, saya banyak menyaksikan kenyataan itu, ya saya melihat banyak kebahagiaan seperti itu. Ada banyak mahasiswi yang berjodoh dengan sesama mahasiswa teman kuliah, atau dengan seseorang yang mereka temukan saat tengah studi di negeri nun jauh.

Kita hanya perlu menyakini satu hal, bahwa jodoh pasti bertemu dengan cara yang ajaib. Daripada pusing mikirin jodoh yang nggak kunjung datang kan mending sekolah, menambah teman, ilmu dan pengalaman. Yakinlah, menunggu dengan segudang aktivitas bermanfaat akan mendatangkan keajaiban. Orang bilang segala sesuatu akan indah pada waktunya, kalau belum indah maka belum waktunya hehehe. Selama menunggu, kita bisa melakukan banyak persiapan mulai dari mental, fiskal, sampai spriritual. Sebab menjalani pernikahan nggak segampang dan sependek menjalani perkuliahan yang paling lama 3 tahun untuk level master.

Untuk saya sendiri yang sedang menjalani program kuliah doktoral, selagi masih sendiri maka saya akan belajar dan mengembangkan minat sepuas-puasnya. Saya juga bekerja, banyak membaca buku-buku, menulis, mengumpulkan sebanyak mungkin pengalaman, dan bertemu dengan teman-teman baru.

Bagi saya, menikah bukan sekadar 'yang penting nikah, udah laku' agar tak mendapat predikat duren eh duda tua ealah duda nakal apalah apalah eaaa. Karena menikah adalah menemukan pasangan untuk membangun kehidupan yang happily ever after. Bukan untuk memuaskan rasa penasaran orang he he.

Kang Jay
Mindset pria kebanyakan seperti itu, pada saat masih tahap ta'aruf si dia sudah itung-itungan seperti ngatur-atur makan dimana dengan uang siapa dll. Maka menikahi wanita yang jago itung-itungan ini seakan dibenak kita pria akan membuat kita miskin dan stres karena bakal dijatah seperti bocah SD yang mau berangkat sekolah he he dan susah kalau mau beli ini itu apalagi terkait hobby-hobby kita pria yang suka dipandang wanita menghambur-hamburkan uang seperti modifikasi motor, atau Golf eh he he. Bisa-bisa kita pria berpikir bakal stres berat karena terhambat untuk menyalurkan hobby yang sebenarnya lumrah-lumrah saja bagi pria.

Padahal sebenarnya selalu ada alasan kenapa wanita melakukan itu dan hal tersebut adalah untuk keluarga juga, kalau kita pria sadar hehe.
Wanita yang jago me-maintain uang maka mereka bisa mengkalkulasi apa pun dan kemudian menyesuaikan hidup dengan itu.

Percayalah saya pernah mengalami sendiri, suatu saat nanti tiba-tiba si istri menunjukkan jumlah uang yang terkumpul selama ini dengan jumlahnya yang sangat banyak. Bahkan kadang bisa juga mereka diam-diam akan mengelola uang tersebut untuk sebuah usaha dan akhirnya sukses. Makin membesar dan akhirnya bisa membuat keluarga sejahtera seperti cepat melunasi KPR, bahkan membeli ruko. Aamiin he he.

Namun kita pria tetap harus awasi dan waspadai, pernah ada teman mempunyai istri itung-itungan namun tidak punya apa-apa karena istrinya main belakang, dimana hemat pada keluarganya sendiri demi mengurusi keluarga lainnya, seperti ayahnya yang hobby judi dan adik-adiknya yang pengangguran. Ini tentu menyimpang dari tujuan berkeluarga untuk kesejahteraan keluarga inti baru sekitar jika ada kelebihan rezeki.

Kang Jay


Saat diskusi kemarin dengan teman, saya mendapat balasan pesan WA:



"Jodoh itu ada di sekitar kita. Look around dan berdoa.."

Saya cukup lama membaca dan membolak-balik dua kalimat tersebut, penuh makna dan mengena dihati.
Bener juga ya, mengapa saya tidak fokus melihat sekitar dulu.

Jodoh itu bisa jadi benar ada disekitar, kita hanya perlu membuka diri. Kita hanya butuh action menampilkan jati diri dengan sebaik-baiknya tuk menarik jodoh kita mendekat.

Jodoh itu bisa jadi sahabat kita sendiri. Karena sahabat adalah seseorang yang setia dan jadi pendengar yang baik. Sahabat tetap tinggal saat orang lain memilih meninggalkan kita terpuruk sendirian. Sahabat tetap berteman dengan kita meski begitu khatam dengan segala kekurangan kita.

Jodoh itu dekat, sedekat kita menemukan seseorang yang tak banyak mengeluh tentang kehidupannya bersama kita, sekalipun masalah tak luput bersama kita. Jodoh itu mengajak kita jadi pribadi yang lebih baik dengan cara kita sendiri, bukannya si dia yang banyak menuntut kita melakukan ini dan itu dengan cara dan seperti kemauannya.

Jodoh itu dekat dan sederhana. Sesederhana kita menemukan seseorang yang membuat kita nyaman meski baru kenal. Jodoh tak pernah sulit, justru kadang kita sendiri yang mempersulitnya dengan banyaknya kriteria.



Jodoh itu begitu dekat, saat kita senang dengan seseorang disekitaran kita maka jangan tanyakan kepada akal kita karena kalau hanya tanya pada akal maka pasti si dia ada kekurangannya.

Tanyakan kepada hati kita, ketika hati sudah bergetar maka carikan pembenaran untuk akal kita. Ingat bahwa sakinah mawadah warahmah semuanya berkaitan dengan hati.

Ditambah kekuatan doa akan semakin mendekatkan jodoh kita dan memudahkan kita menuju pelaminan dan meraih keluarga samawa. Ingatlah doa dapat merubah takdir menuju takdir Allah yang lain, begitu hebatnya kekuatan doa. Ingatlah juga hadist nabi, "Sesungguhnya doa dan takdir saling berusaha untuk mendahului, hingga hari kiamat."

Kang Jay.


Keinginan manusia itu banyak, terlalu banyak. Untuk itu, mungkin akan sulit bagi kita jika harus merealisasikan semua keinginan tersebut. Akan lebih mudah kalau kita membuat bahkan menulis batasnya dengan jelas, agar kita tahu, harus seperti apa dan sampai mana perjuangan yang kita lakukan. Agar kita juga tahu, sampai mana batas berjuangnya. Agar kita juga lebih mudah dalam mengambil keputusan.


Tapi, kita seringkali tidak pernah membuat batas yang jelas. Kita bahkan seringkali melewati batas akal orang normal.

Memang pengalaman akan membuat kita jadi paham apa akar masalah kita selama ini, kebingungan kita dalam mengambil keputusan dan pilihan dalam hidup. Termasuk juga dalam hal memilih pasangan, tentang kriteria apa yang sudah dirasa cukup. Tapi sadarlah, itu sebenarnya bisa disetting sejak dulu.

Jika hidup ini tidak dikelola dengan baik menganggapnya seperti air mengalir tanpa tahu muaranya, pada akhirnya muncul ketidakmampuan kita mengelola masalah hidup, bertumpuk-tumpuk masalah karena kita tidak membuat batas dalam hidup kita sendiri.

Kang Jay

Pada suatu hari, seorang murid bertanya kepada gurunya, “Guru, bagaimana caranya agar kita memperoleh JODOH yang paling sempurna dalam hidup ini?”.

Sang guru mengajaknya ke taman, lalu mengatakan kepada sang murid, “Berjalanlah lurus ke depan. Lalu petiklah satu bunga yang terindah di taman ini. Syaratnya kamu tidak boleh kembali ke belakang.”

Setelah berjalan dan sampai di ujung taman, sang murid tidak membawa satu bunga pun. Gurunya bertanya, "Mengapa kau tidak memetik satu bunga pun?”.

Sang murid menjawab, “Saat aku berjalan, aku bertemu dengan bunga yang indah, tetapi tidak kupetik, karena aku mengira di depan nanti akan ada bunga yang lebih indah dari bunga yang kulihat tadi. Begitu seterusnya, hingga ketika sudah sampai di ujung taman, aku baru tersadar yang kulihat tadi adalah bunga terindah. Tetapi, aku tidak bisa kembali ke belakang."

Sang guru lantas menasihati, “Begitulah JODOH. Kau tak butuh mencari yang sempurna, tetapi temukan satu yang baik. Lalu, terima dengan rasa syukur.”




Akan selalu ada bahagia di setiap rintiknya yang jatuh. Namun jangan betah dihujani rindu, karena semua tahu bahwa satu-satunya hal yang bisa memperlambat waktu adalah rindu.


Kini semua berbeda, hujan tak lagi kita, hujan tak lagi cinta. Hujan memang bisa membawa pulang kehangatanmu dikepalaku, namun tubuhku harus tabah menikmati dinginnya waktu.


Sejenak tak apalah menikmati hujan dan berteriak melepaskan kesepian. Ya menikmati setiap rintih langit yang sedih.


Kadang orang yang kita cintai memang diciptakan untuk dilupakan.


Walau, hujan selalu bisa memulangkan kenangan, namun hujan tidak bisa memulangkan kita.


Ketika hujan reda, biarlah kita adalah cerita yang sudah usai dan ku akan mulai menata rindu yang baru.


Leles, 7 Jan 2021


Terkadang kita menjadi sosok yang lupa dengan kebaikan orang lain pada diri kita. Yang kita pikirkan setiap saat justru orang yang selama ini menyakiti dan mengecewakan kita. Hati kita akhirnya dipenuhi kebencian dan dendam. Kebencian itulah yang merenggut kedamaian hati kita setiap hari.

Kita lupa, ada begitu banyak orang yang mencintai kita. Kita lupa, jumlah orang yang mengecewakan kita jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah orang yang menyayangi dan berjasa dalam hidup kita. Lantas mengapa kita justru lebih sibuk memikir kan orang yang mengecewakan kita?

Setiap hari, luangkan waktu untuk memikirkan orang-orang yang layak dan pantas untuk kita beri ucapan terima kasih karena telah mencintai kita sepenuh hati. Mereka yang hendaknya mengisi lebih banyak ruang di hati kita.

Jika hati kita terisi penuh dengan sakit hati dan kekecewaan, maka yang menguasai jiwa kita adalah dendam dan kebencian. Kita selalu berusaha untuk membuat orang yang sudah menyakiti kita merasakan sakit yang sama, bahkan lebih sakit dari yang kita rasa. Akhirnya, tiap waktu kita memikirkan berbagai cara untuk membalas sakit hati kita. Waktu dan usia kita ludes untuk memikirkan cara balas dendam kepadanya.

Padahal jika kita renungkan, apa untungnya? Jika dendam sudah terbalaskan, kita dapat apa? Kepuasan hati? Percayalah, rasa puas yang hadir dari kesedihan orang lain bukanlah kepuasan sejati. Itu hanya kepuasan semu. Seolah hati kita senang, padahal ia bagai bara panas yang merusak diri.

Dampak kedua tentu saja kita jadi kehilangan banyak kesempatan untuk membalas kebaikan dari orang yang selama ini membantu dan mencintai kita. Kita jadi kehilangan banyak peluang untuk berterima kasih kepada banyak orang yang selama ini berjasa dalam hidup kita. Kita jadi tak punya waktu untuk memberi hadiah berharga bagi mereka, karena terlalu sibuk memikirkan orang yang menyakiti kita.

Dampak ketiga, kita kehilangan kesempatan untuk memperjuangkan mimpi-mimpi besar yang kita cita-citakan. Fokus kita terpecah. Kita tidak totalitas dalam memperjuangkan harapan yang sudah kita buat.

Karena terlalu banyak kerugian yang kita tanggung, maka sadarkan diri bahwa jadi pemaaf itu sungguh bermanfaat bagi diri kita pribadi. Hidup kita lebih tenang, hati lebih damai, energi kita pun akan tersalur untuk sesuatu yang lebih bermanfaat.

Seminggu yang lalu saya dihubungi oleh Teman SD&SMP yang dulu begitu dekat dengan saya. Kemana-mana kita sering bareng. Dia saat ini sedang berjuang sembuh dari Covid-19. Dia menghubungi saya karena dia selalu teringiang-ngiang pada temen-temannya yang tulus menyayanginya. Dia cerita napas dia sudah tinggal 30% lagi dan kadar oksigen 85%, dia sering terbayang-bayang wajah saya, dia bilang mungkin jika dia tidak menghubungi saya lagi berarti dia sudah memakai ventilator. Dia berharap "disisa hidupnya" masih bisa ngobrol dengan teman2 karibnya dulu. Saya menjadi trenyuh dan berusaha mengirimi dia madu dan puluhan kaleng susu cap beruang. Semoga dia segera disembuhkan. Aamiin.


Update hari ini 5 Januari 2021, teman telah meninggal.



Selamat jalan teman, semoga amal ibadahmu diterima disisiNya. Hiks.


Kang Jay


Tiap diri, punya air matanya sendiri. Kesimpulan itu yang bisa saya ambil ketika melihat ataupun menyelami satu per satu persatu curhatan yang masuk ke saya. Setiap orang punya permasalahan hidup yang berbeda. Tak ada satu pun yang dirinya tak pernah mendapatkan masalah.

Maka tak perlu kita merasa menjadi orang yang paling sengsara di dunia ini. Karena di tempat lain, sesungguhnya banyak yang menerima ujian lebih berat dari kita. Di tempat lain mungkin jauh lebih banyak yang hidupnya lebih sulit dibandingkan kehidupan yang kita rasakan.

Yang kita rasa bahagia, bisa jadi dia memang orang yang pandai menyembunyikan penderitaannya. Yang terlihat tiap hari ceria, mungkin dalam kesendirian, ada persoalan besar yang dipikirkannya. Bukankah kita tak tahu apa yang ia rasakan saat sendiri? Mungkin ia sesenggukan mengadukan permasalahan hidupnya pada Allah semata. Mari belajar pada pribadi seperti ini, yang mampu tetap tersenyum meski hatinya memendam sedih luar biasa.


Tiap diri punya ujiannya sendiri. Ada yang kariernya hebat tapi sedih memikirkan jodoh yang tak kunjung datang. Ada yang finansialnya bagus, jodohnya baik, tapi sedih karena buah hati belum juga hadir di tengah kehidupan mereka. Ada yang dikaruniai buah hati, tapi ekonominya sulit. Ada yang lulus kuliahnya cepat, tapi bertemu jodohnya lambat. Ada yang karirnya melesat, tapi diuji dengan pasangan hidup yang belum baik. Ada yang jabatannya tinggi, tapi diuji dengan anak yang nakal, dan lain sebagainya.

Tak usah kita membandingkan diri dengan orang lain. Karena tiap kita punya kisah sendiri-sendiri. Yang perlu kita risaukan adalah ibadah, dosa, dan kehidupan akhirat kita. Segala peristiwa di dunia ini hanyalah cara Allah untuk memfilter, siapa dari kita yang mampu menghadapinya dengan cara yang baik dan menjadikannya sebagai jalan menuju Allah.

Membandingkan masalah diri dengan orang lain hanya akan menimbulkan dampak tak baik. Jika kita merasa masalah hidup kita lebih berat, kita kehilangan rasa syukur dan iri pada orang tersebut. tapi jika kita merasa masalah diri lebih ringan dari orang lain, kita bisa terseret jadi pribadi yang tak sensitif, karena senang melihat orang lain lebih menderita dari kita.

Cukup miliki keyakinan, tiap diri punya masalah untuk diselesaikan. Kalau bisa, usahakan bantu masalah orang lain. Dengan membantu orang lain, semoga Tuhan memudahkan terselesaikannya masalah pribadi kita.

Kang Jay


Sering kali kita lebih peduli merawat rumah, mobil, dan benda-benda kesayangan kita ketimbang tubuh kita sendiri. Sampai bagian tubuh itu mulai pegal, kaku, dan menjerit meminta perhatian kita.

Tubuh kita, sering kita sepelekan. Sedemikian kita menyepelekannya sehingga perawatannya sering kali ada di daftar paling bawah prioritas kita. Padahal. melalui tubuh kita inilah kita merasakan kesenangan, kesakitan, dan kesehatan. Padahal dengan tubuh dan kelima indra, kita dapat mengapresiasi kekayaan hidup: sentuhan. citarasa. pemandangan, suara, dan aroma.

Kita tidak hanya mengabaikan kebutuhan tubuh kita, malah sering kali memperlakukannya dengan kejam dengan duduk berjam-jam di depan komputer, dengan membiarkannya mengalami berbagai beban fisik dan mental, dan dengan benar-benar mengabaikannya.

Jadi, perlu bagi kita untuk merawat tubuh sesekali, bila tidak bisa secara teratur. Sisihkan waktu untuk menikmati pijat refleksi dan pijat kaki. Pijat kaki yang dilakukan oleh terapis yang terampil benar-benar dapat membantu menyehatkan organ-organ dalam kita. Ingatlah. setiap titik di telapak tangan dan telapak kaki kita sebenarnya terhubung dengan berbagai bagian tubuh dan organ-organ vital di dalam tubuh kita, maka stimulasi secara teratur dapat memperbaiki sirkulasi darah dan menguatkan sistem kekebalan kita.



Kunjungan rutin ke spa di antara jadwal mingguan kita yang padat. Percayalah nanti akan benar-benar membedakan antara diri kita yang terus-menerus lelah dan habis-habisan, dengan diri kita yang segar dan energik. Kalaupun kita tidak suka membuang waktu dengan berbaring telentang berjam-jam sementara seseorang mengurut otot-otot kita dan memijat telapak tangan dan kaki kita, please terima saja demi tubuh kita. Tidak ad

a yang lebih disukai tubuh kita ketimbang diperhatikan, dimanjakan, dipijat, dan dirawat.


Pijat dapat membantu mengatasi depresi dan gangguan kecemasan yang dialami oleh siapa saja terutama single seperti saya yang stres memikirkan jodoh. Memperbaiki sirkulasi darah dan kelenjar getah bening. Memperbaiki kejang otot. Membentuk jaringan ikat kolagen. Mengurangi rasa nyeri dengan merangsang jalur saraf aferen. Meningkatkan efektivitas pernapasan dengan memperbaiki kapasitas rongga dada.

Memang dijaman Covid ini mengunjungi tempat pijat atau spa harus hati-hati sekali. Sayapun cendurung hanya memanfaatkan jasa dari satu ex-terapis doi Shiatsu-nya mantap, setidaknya meminimalisir resiko. Walau pernah karena sudah kagak tahan ingin menikmati aromaterapi dan suasana syahdu khas thailand plus musik mistisnya maka saya nekat mendatangi Spa premium langganan yang saya rasa kontrol protokolnya bagus. Tak terbayang jika punya istri yang mahir memijat apalagi bisa Shiatsu, ditambah pintar masak, keibuan, baik hati dan suka menabung. Jiaaahhh ngimpi....

Kang Jay

Pages: « Previous ... 3 4 5 6 7 ... Next »
advertisement
Password protected photo
Password protected photo
Password protected photo