BLOG TULISAN Jayadiningrat


Saat diskusi kemarin dengan teman, saya mendapat balasan pesan WA:



"Jodoh itu ada di sekitar kita. Look around dan berdoa.."

Saya cukup lama membaca dan membolak-balik dua kalimat tersebut, penuh makna dan mengena dihati.
Bener juga ya, mengapa saya tidak fokus melihat sekitar dulu.

Jodoh itu bisa jadi benar ada disekitar, kita hanya perlu membuka diri. Kita hanya butuh action menampilkan jati diri dengan sebaik-baiknya tuk menarik jodoh kita mendekat.

Jodoh itu bisa jadi sahabat kita sendiri. Karena sahabat adalah seseorang yang setia dan jadi pendengar yang baik. Sahabat tetap tinggal saat orang lain memilih meninggalkan kita terpuruk sendirian. Sahabat tetap berteman dengan kita meski begitu khatam dengan segala kekurangan kita.

Jodoh itu dekat, sedekat kita menemukan seseorang yang tak banyak mengeluh tentang kehidupannya bersama kita, sekalipun masalah tak luput bersama kita. Jodoh itu mengajak kita jadi pribadi yang lebih baik dengan cara kita sendiri, bukannya si dia yang banyak menuntut kita melakukan ini dan itu dengan cara dan seperti kemauannya.

Jodoh itu dekat dan sederhana. Sesederhana kita menemukan seseorang yang membuat kita nyaman meski baru kenal. Jodoh tak pernah sulit, justru kadang kita sendiri yang mempersulitnya dengan banyaknya kriteria.



Jodoh itu begitu dekat, saat kita senang dengan seseorang disekitaran kita maka jangan tanyakan kepada akal kita karena kalau hanya tanya pada akal maka pasti si dia ada kekurangannya.

Tanyakan kepada hati kita, ketika hati sudah bergetar maka carikan pembenaran untuk akal kita. Ingat bahwa sakinah mawadah warahmah semuanya berkaitan dengan hati.

Ditambah kekuatan doa akan semakin mendekatkan jodoh kita dan memudahkan kita menuju pelaminan dan meraih keluarga samawa. Ingatlah doa dapat merubah takdir menuju takdir Allah yang lain, begitu hebatnya kekuatan doa. Ingatlah juga hadist nabi, "Sesungguhnya doa dan takdir saling berusaha untuk mendahului, hingga hari kiamat."

Kang Jay.


Keinginan manusia itu banyak, terlalu banyak. Untuk itu, mungkin akan sulit bagi kita jika harus merealisasikan semua keinginan tersebut. Akan lebih mudah kalau kita membuat bahkan menulis batasnya dengan jelas, agar kita tahu, harus seperti apa dan sampai mana perjuangan yang kita lakukan. Agar kita juga tahu, sampai mana batas berjuangnya. Agar kita juga lebih mudah dalam mengambil keputusan.


Tapi, kita seringkali tidak pernah membuat batas yang jelas. Kita bahkan seringkali melewati batas akal orang normal.

Memang pengalaman akan membuat kita jadi paham apa akar masalah kita selama ini, kebingungan kita dalam mengambil keputusan dan pilihan dalam hidup. Termasuk juga dalam hal memilih pasangan, tentang kriteria apa yang sudah dirasa cukup. Tapi sadarlah, itu sebenarnya bisa disetting sejak dulu.

Jika hidup ini tidak dikelola dengan baik menganggapnya seperti air mengalir tanpa tahu muaranya, pada akhirnya muncul ketidakmampuan kita mengelola masalah hidup, bertumpuk-tumpuk masalah karena kita tidak membuat batas dalam hidup kita sendiri.

Kang Jay

Pada suatu hari, seorang murid bertanya kepada gurunya, “Guru, bagaimana caranya agar kita memperoleh JODOH yang paling sempurna dalam hidup ini?”.

Sang guru mengajaknya ke taman, lalu mengatakan kepada sang murid, “Berjalanlah lurus ke depan. Lalu petiklah satu bunga yang terindah di taman ini. Syaratnya kamu tidak boleh kembali ke belakang.”

Setelah berjalan dan sampai di ujung taman, sang murid tidak membawa satu bunga pun. Gurunya bertanya, "Mengapa kau tidak memetik satu bunga pun?”.

Sang murid menjawab, “Saat aku berjalan, aku bertemu dengan bunga yang indah, tetapi tidak kupetik, karena aku mengira di depan nanti akan ada bunga yang lebih indah dari bunga yang kulihat tadi. Begitu seterusnya, hingga ketika sudah sampai di ujung taman, aku baru tersadar yang kulihat tadi adalah bunga terindah. Tetapi, aku tidak bisa kembali ke belakang."

Sang guru lantas menasihati, “Begitulah JODOH. Kau tak butuh mencari yang sempurna, tetapi temukan satu yang baik. Lalu, terima dengan rasa syukur.”




Akan selalu ada bahagia di setiap rintiknya yang jatuh. Namun jangan betah dihujani rindu, karena semua tahu bahwa satu-satunya hal yang bisa memperlambat waktu adalah rindu.


Kini semua berbeda, hujan tak lagi kita, hujan tak lagi cinta. Hujan memang bisa membawa pulang kehangatanmu dikepalaku, namun tubuhku harus tabah menikmati dinginnya waktu.


Sejenak tak apalah menikmati hujan dan berteriak melepaskan kesepian. Ya menikmati setiap rintih langit yang sedih.


Kadang orang yang kita cintai memang diciptakan untuk dilupakan.


Walau, hujan selalu bisa memulangkan kenangan, namun hujan tidak bisa memulangkan kita.


Ketika hujan reda, biarlah kita adalah cerita yang sudah usai dan ku akan mulai menata rindu yang baru.


Leles, 7 Jan 2021


Terkadang kita menjadi sosok yang lupa dengan kebaikan orang lain pada diri kita. Yang kita pikirkan setiap saat justru orang yang selama ini menyakiti dan mengecewakan kita. Hati kita akhirnya dipenuhi kebencian dan dendam. Kebencian itulah yang merenggut kedamaian hati kita setiap hari.

Kita lupa, ada begitu banyak orang yang mencintai kita. Kita lupa, jumlah orang yang mengecewakan kita jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah orang yang menyayangi dan berjasa dalam hidup kita. Lantas mengapa kita justru lebih sibuk memikir kan orang yang mengecewakan kita?

Setiap hari, luangkan waktu untuk memikirkan orang-orang yang layak dan pantas untuk kita beri ucapan terima kasih karena telah mencintai kita sepenuh hati. Mereka yang hendaknya mengisi lebih banyak ruang di hati kita.

Jika hati kita terisi penuh dengan sakit hati dan kekecewaan, maka yang menguasai jiwa kita adalah dendam dan kebencian. Kita selalu berusaha untuk membuat orang yang sudah menyakiti kita merasakan sakit yang sama, bahkan lebih sakit dari yang kita rasa. Akhirnya, tiap waktu kita memikirkan berbagai cara untuk membalas sakit hati kita. Waktu dan usia kita ludes untuk memikirkan cara balas dendam kepadanya.

Padahal jika kita renungkan, apa untungnya? Jika dendam sudah terbalaskan, kita dapat apa? Kepuasan hati? Percayalah, rasa puas yang hadir dari kesedihan orang lain bukanlah kepuasan sejati. Itu hanya kepuasan semu. Seolah hati kita senang, padahal ia bagai bara panas yang merusak diri.

Dampak kedua tentu saja kita jadi kehilangan banyak kesempatan untuk membalas kebaikan dari orang yang selama ini membantu dan mencintai kita. Kita jadi kehilangan banyak peluang untuk berterima kasih kepada banyak orang yang selama ini berjasa dalam hidup kita. Kita jadi tak punya waktu untuk memberi hadiah berharga bagi mereka, karena terlalu sibuk memikirkan orang yang menyakiti kita.

Dampak ketiga, kita kehilangan kesempatan untuk memperjuangkan mimpi-mimpi besar yang kita cita-citakan. Fokus kita terpecah. Kita tidak totalitas dalam memperjuangkan harapan yang sudah kita buat.

Karena terlalu banyak kerugian yang kita tanggung, maka sadarkan diri bahwa jadi pemaaf itu sungguh bermanfaat bagi diri kita pribadi. Hidup kita lebih tenang, hati lebih damai, energi kita pun akan tersalur untuk sesuatu yang lebih bermanfaat.

Seminggu yang lalu saya dihubungi oleh Teman SD&SMP yang dulu begitu dekat dengan saya. Kemana-mana kita sering bareng. Dia saat ini sedang berjuang sembuh dari Covid-19. Dia menghubungi saya karena dia selalu teringiang-ngiang pada temen-temannya yang tulus menyayanginya. Dia cerita napas dia sudah tinggal 30% lagi dan kadar oksigen 85%, dia sering terbayang-bayang wajah saya, dia bilang mungkin jika dia tidak menghubungi saya lagi berarti dia sudah memakai ventilator. Dia berharap "disisa hidupnya" masih bisa ngobrol dengan teman2 karibnya dulu. Saya menjadi trenyuh dan berusaha mengirimi dia madu dan puluhan kaleng susu cap beruang. Semoga dia segera disembuhkan. Aamiin.


Update hari ini 5 Januari 2021, teman telah meninggal.



Selamat jalan teman, semoga amal ibadahmu diterima disisiNya. Hiks.


Kang Jay


Tiap diri, punya air matanya sendiri. Kesimpulan itu yang bisa saya ambil ketika melihat ataupun menyelami satu per satu persatu curhatan yang masuk ke saya. Setiap orang punya permasalahan hidup yang berbeda. Tak ada satu pun yang dirinya tak pernah mendapatkan masalah.

Maka tak perlu kita merasa menjadi orang yang paling sengsara di dunia ini. Karena di tempat lain, sesungguhnya banyak yang menerima ujian lebih berat dari kita. Di tempat lain mungkin jauh lebih banyak yang hidupnya lebih sulit dibandingkan kehidupan yang kita rasakan.

Yang kita rasa bahagia, bisa jadi dia memang orang yang pandai menyembunyikan penderitaannya. Yang terlihat tiap hari ceria, mungkin dalam kesendirian, ada persoalan besar yang dipikirkannya. Bukankah kita tak tahu apa yang ia rasakan saat sendiri? Mungkin ia sesenggukan mengadukan permasalahan hidupnya pada Allah semata. Mari belajar pada pribadi seperti ini, yang mampu tetap tersenyum meski hatinya memendam sedih luar biasa.


Tiap diri punya ujiannya sendiri. Ada yang kariernya hebat tapi sedih memikirkan jodoh yang tak kunjung datang. Ada yang finansialnya bagus, jodohnya baik, tapi sedih karena buah hati belum juga hadir di tengah kehidupan mereka. Ada yang dikaruniai buah hati, tapi ekonominya sulit. Ada yang lulus kuliahnya cepat, tapi bertemu jodohnya lambat. Ada yang karirnya melesat, tapi diuji dengan pasangan hidup yang belum baik. Ada yang jabatannya tinggi, tapi diuji dengan anak yang nakal, dan lain sebagainya.

Tak usah kita membandingkan diri dengan orang lain. Karena tiap kita punya kisah sendiri-sendiri. Yang perlu kita risaukan adalah ibadah, dosa, dan kehidupan akhirat kita. Segala peristiwa di dunia ini hanyalah cara Allah untuk memfilter, siapa dari kita yang mampu menghadapinya dengan cara yang baik dan menjadikannya sebagai jalan menuju Allah.

Membandingkan masalah diri dengan orang lain hanya akan menimbulkan dampak tak baik. Jika kita merasa masalah hidup kita lebih berat, kita kehilangan rasa syukur dan iri pada orang tersebut. tapi jika kita merasa masalah diri lebih ringan dari orang lain, kita bisa terseret jadi pribadi yang tak sensitif, karena senang melihat orang lain lebih menderita dari kita.

Cukup miliki keyakinan, tiap diri punya masalah untuk diselesaikan. Kalau bisa, usahakan bantu masalah orang lain. Dengan membantu orang lain, semoga Tuhan memudahkan terselesaikannya masalah pribadi kita.

Kang Jay


Jangan biasakan dendam dengan peristiwa di masa lalu. Maafkan masa lalu kita.



Saya merasa perjalanan hidup tiap manusia sungguh ajaib, unik, dan spesial, tak peduli siapa pun dia. Bahwa ada skenario Tuhan yang memang hebat, itu pasti. Tapi mensyukuri setiap takdir yang terjadi, itu pilihan. Bahwa perjalanan hidup tiap orang sudah tertulis di lauhulmahfudz, itu tak terbantah. Tapi menghikmahi perjalanan hidup yang telah dilalui, itu pilihan kita masing masing.

Saat balita sampai usia sebelas tahun, saya begitu dimanja oleh beragam fasilitas yang wah. Apa yang saya minta, seketika ada. Saat itu usaha orangtua sedang berjaya, ekonomi keluarga tak ada masalah. Tapi saat usia sebelas tahun, usaha ayah saya bangkrut terutama karena ayah saya sakit2an, padahal beliau tulang punggung daei beberapa keluarga. Kehidupan kami berubah drastis. Dulu semua kebutuhan dan keinginan tercapai seketika, waktu itu harus sangat mengirit agar kebutuhan bisa tercukupi. Bahkan mengirit pun tetap tak cukup. Masih berutang sana-sini, tak jarang terjerat utang bank dan rentenir.

Masalah demi masalah terus mengalir. Ibu kandung saya sebagai salah satu istri dari ayah saya akhirnya mutar otak, dan kemudian jadi tulang punggung ekonomi bagi anak-anak kandungnya, wajahnya memang tersenyum seolah menunjukkan dirinya tak menyerah, tapi jiwanya tak bisa dibohongi, raganya tak bisa didustai. Beliau tertekan, sarafnya terlalu tegang, hingga penyakit demi penyakit menggerogoti fisiknya.

Perubahan kehidupan yang luar biasa itu tentu berpengaruh besar pada psikologis saya yang hendak menginjak usia remaja. Jiwa saya seolah terpelanting. Tak siap menghadapi perubahan yang berlangsung sangat cepat.

Apa yang terjadi? Saya tumbuh dengan keminderan yang luar biasa. Saya berubah menjadi sosok yang pendiam, pemalu, dan rendah diri. Saya menjadi pribadi yang murung, sering mengurung diri, tak suka bergaul seperti dulu. Perasaan itu menghantui saya cukup lama. Seingat saya sejak kelas 5 SD, berlanjut SMP, STM, saya tetap menjadi sosok yang pendiam, minderan, dan rendah diri.

Akhirnya dalam perjalanan usia saya lantas mencari penyebab, apa yang membuat saya menjadi sosok seperti itu. Hingga akhirnya saya sadar, bahwa yang mengubah saya adalah kejadian demi kejadian pahit yang selama ini menimpa saya. Saat itu, kesadaran tersebut alih-alih membuat saya memperbaiki mindset dan memperbaiki perilaku, justru ketika menyadari bahwa yang membuat saya minder adalah peristiwa di masa kecil, saya malah menyalahkan masa lalu. Ya, saya dendam dengan masa lalu.

Mengapa saya dendam? Karena saya merasa banyak peluang yang harusnya membuat saya menjadi pribadi hebat, tetapi karena masa lalu yang pahit, akhirnya saya kehilangan peluang tersebut. Saya tak punya banyak teman, tak pandai bergaul, susah bersosialisasi, takut bicara di depan orang banyak, saya rasa semua karena kesalahanan masa lalu.

Perasaan itu terus tersimpan dalam memori otak saya, hingga ada satu peristiwa yang membuat saya tersadar, yakni ketika saya mulai hobi membaca biografi orang-orang hebat dalam sejarah. Ketika membaca kisah hidup mereka, ya Allah, saya terasa ditampar berkali-kali.

Jiwa saya seolah berteriak memarahi saya, “Hei, kamu kira kamu saja yang masa lalunya pahit? Lihat masa lalu mereka! Kamu akan tahu dan sadar kalau ternyata kehebatan dan masa depan seseorang bukan ditentukan oleh bagaimana masa lalunya. Sekelam apa pun masa lalumu, masa depanmu masih suci. Jangan buramkan masa kinimu dengan terus menyalahkan masa lalu. Maafkan masa lalumu, jadikan ia sebagai pelajaran untuk meraih keberhasilan di masa depan.”

Teriakan itu makin keras ketika saya dipertemukan dengan puluhan sahabat hebat yang masa lalunya ternyata lebih parah dari saya. Mereka seolah dihadirkan oleh Allah kepada saya sebagai cambuk. Usai itu, saya lantas mengubah sikap. Saya memaafkan masa lalu. Saya perbaiki mindset tentang diri. Saya positifnya pandangan saya terhadap diri sendiri. Saya perbaiki cara pandang terhadap lingkungan. Saya perbaiki cara saya menyikapi kejadian.

Setamat STM nekat hijrah ke Jakarta bermodalkan uang 200rb, 25rb untuk ongkos bus kala itu. Perkerjaan apapun saya jalani, mulai sebagai kurir antar surat. Mengejar asa, improve knowledge and skill dengan kuliah S1 S2 dan S3. Saya selalu tidak pernah menyerah mengejar karir, mencoba selalu mencari tantangan baru. Target berikutnya adalah menjadi salah satu direktur di salah satu perusahaan, dan terus mengamalkan ilmu dalam dunia pendidikan dan berusaha menjadi profesor.

Pernah saya menceritakan kalau saya ini pendiam di depan peserta seminar atau perkuliahan, semua pada ketawa. Nggak percaya. “Lha, Pak Jay pendiam kok bisa ngomong berjam-jam tanpa henti.” Tahu nggak rahasianya? Ya, karena saya sering memaksakan diri untuk berani ngomong. Akhirnya lama-lama jadi cerewet sendiri di depan publik.

Maka inilah saya, pribadi yang sudah rida dengan masa lalunya. Pribadi yang memiliki impian besar di masa depannya. Pribadi yang terus berusaha mengisi hidupnya dengan aktivitas seproduktif mungkin. Karena kita tahu masa lalu sudah terjadi dan tak bisa lagi kita ubah. Cara terbaik dalam menyikapi masa lalu adalah dengan memaafkan, lalu mengambil pelajaran berharga sebagai bekal untuk menghadapi masa depan yang penuh petualangan.

Kang Jay


Sering kali kita lebih peduli merawat rumah, mobil, dan benda-benda kesayangan kita ketimbang tubuh kita sendiri. Sampai bagian tubuh itu mulai pegal, kaku, dan menjerit meminta perhatian kita.

Tubuh kita, sering kita sepelekan. Sedemikian kita menyepelekannya sehingga perawatannya sering kali ada di daftar paling bawah prioritas kita. Padahal. melalui tubuh kita inilah kita merasakan kesenangan, kesakitan, dan kesehatan. Padahal dengan tubuh dan kelima indra, kita dapat mengapresiasi kekayaan hidup: sentuhan. citarasa. pemandangan, suara, dan aroma.

Kita tidak hanya mengabaikan kebutuhan tubuh kita, malah sering kali memperlakukannya dengan kejam dengan duduk berjam-jam di depan komputer, dengan membiarkannya mengalami berbagai beban fisik dan mental, dan dengan benar-benar mengabaikannya.

Jadi, perlu bagi kita untuk merawat tubuh sesekali, bila tidak bisa secara teratur. Sisihkan waktu untuk menikmati pijat refleksi dan pijat kaki. Pijat kaki yang dilakukan oleh terapis yang terampil benar-benar dapat membantu menyehatkan organ-organ dalam kita. Ingatlah. setiap titik di telapak tangan dan telapak kaki kita sebenarnya terhubung dengan berbagai bagian tubuh dan organ-organ vital di dalam tubuh kita, maka stimulasi secara teratur dapat memperbaiki sirkulasi darah dan menguatkan sistem kekebalan kita.



Kunjungan rutin ke spa di antara jadwal mingguan kita yang padat. Percayalah nanti akan benar-benar membedakan antara diri kita yang terus-menerus lelah dan habis-habisan, dengan diri kita yang segar dan energik. Kalaupun kita tidak suka membuang waktu dengan berbaring telentang berjam-jam sementara seseorang mengurut otot-otot kita dan memijat telapak tangan dan kaki kita, please terima saja demi tubuh kita. Tidak ad

a yang lebih disukai tubuh kita ketimbang diperhatikan, dimanjakan, dipijat, dan dirawat.


Pijat dapat membantu mengatasi depresi dan gangguan kecemasan yang dialami oleh siapa saja terutama single seperti saya yang stres memikirkan jodoh. Memperbaiki sirkulasi darah dan kelenjar getah bening. Memperbaiki kejang otot. Membentuk jaringan ikat kolagen. Mengurangi rasa nyeri dengan merangsang jalur saraf aferen. Meningkatkan efektivitas pernapasan dengan memperbaiki kapasitas rongga dada.

Memang dijaman Covid ini mengunjungi tempat pijat atau spa harus hati-hati sekali. Sayapun cendurung hanya memanfaatkan jasa dari satu ex-terapis doi Shiatsu-nya mantap, setidaknya meminimalisir resiko. Walau pernah karena sudah kagak tahan ingin menikmati aromaterapi dan suasana syahdu khas thailand plus musik mistisnya maka saya nekat mendatangi Spa premium langganan yang saya rasa kontrol protokolnya bagus. Tak terbayang jika punya istri yang mahir memijat apalagi bisa Shiatsu, ditambah pintar masak, keibuan, baik hati dan suka menabung. Jiaaahhh ngimpi....

Kang Jay


Seorang polisi di kota kecil menghentikan seorang pengendara motor yang kedapatan ngebut di depan kantor Polsek. Tanpa pakai helm dan lupa dompet hape ketinggalan, plus motornya pun pinjaman tanpa bawa stnk. Tadi pas mau berangkat buru-buru.



“Tapi Pak, saya bisa menjelaskan alasannya.”

kata pria pengendara motor itu.

“Jangan banyak omong,” hardik polisi itu. “Saya akan menahan kamu sampai Pak Kapolsek datang.”

“Tapi, Pak, Anda harus dengar saya dulu. Saya …..,” coba menyela pembicaraan.

“Sudah kubilang jangan banyak omong! Kamu saya masukkan ke dalam ruang khusus tahanan!”. Kemudian si polisi ngunci & ngeloyor pergi ke warkop sebelah.

Beberapa jam kemudian, polisi itu menengok kembali tahanan tersebut dan berkata, “Kamu sangat beruntung, hari ini Pak Kapolsek sedang menghadiri pernikahan putrinya. Hatinya pasti senang saat dia kembali ke sini nanti.”

“Jangan harap,” jawab pria tersebut. “Saya adalah pengantin prianya.”

Kang Jay
#cps
Alkisah ada Reni seorang wanita baik yang tulus mencintai pasangannya, tetapi semua pasangannya justru berbalik menyakitinya. Mengapa nasib Reni bisa semalang ini? Dia berusaha se-terbaik mungkin, namun dia selalu merasa disakiti pria "brengsek".

Populasi wanita yang merasa "baik" dan bernasib malang seperti Reni ada banyak sekali di dunia ini. Jika dilihat sekilas, mereka seolah tidak memiliki kesalahan apapun, seakan merekalah korban dalam hubungan buruk mereka. Namun, Reni tidak sadar, justru dengan menjadi wanita baik, dia selalu bertemu pria brengsek. Bagaimana bisa, ya?.

Tidak ada yang salah menjadi wanita baik seperti Reni, tetapi kebaikan Reni yang berusaha dia tonjolkan sama sekali tidak membuatnya merasa berhak dapat pasangan sempurna seperti malaikat. Camkan itu. Jangan gara-gara merasa dirinya baik, Reni merasa berhak dapat pasangan yang harus memenuhi kebutuhan dia setiap saat. Terus menuntut pasangannya HARUS selalu memahami dia.

Reni merasa tidak pernah salah. Yeach bidadari tak bersayap. Mana mungkin wanita sebaik Reni berbuat salah pada pasangannya?. Dia selalu memenuhi keinginan pasangannya, meskipun sebenarnya dia ingin sekali menolak. Dia berharap pasangannya bisa memahami dirinya tanpa harus mengkomunikasikan keberatannya. Dia ingin sekali pasangannya tahu di balik senyumannya, sebenarnya dia bersedih, dongkol, kesal, gemes dan marah. Pengorbanan Reni baik sekali, bukan?.

Reni sengaja mengalah dan diam saja karena dia tidak ingin kejujurannya menyakiti hati pasangannya. Setiap kali pasangannya mencurahkan kekhawatirannya, Reni selalu menjawab, “Aku nggak apa-apa,” agar pasangannya mengerti dia sakit hati, kesal, dongkol dan marah tetapi dia tidak sanggup mengatakannya. Tanpa Reni sadari, dia sudah menodai hubungannya sendiri dengan kebohongan. Bukan karena dia tidak ingin menyakiti pasangannya, melainkan karena dia TAKUT menghadapi konflik dan tidak bisa mencari solusinya.

Tidak diragukan Reni mengorbankan segalanya. Dari teman-teman, hobi, privasi, semua dia korbankan demi kebahagiaan pasangan. Dia merasa hatinya rapuh memiliki cinta yang lebih besar daripada pasangannya, makanya dia sedih kebesaran hatinya ini selalu dimanfaatkan oleh pria "brengsek". Padahal kenyataannya, Reni hanyalah wanita ber-EGO besar yang mengira dirinya tidak memiliki kekurangan apapun, wanita baik yang layak dapat pasangan SEMPURNA. Terus kerapuhannya yang membuatnya merasa selalu diinjak-injak orang lain. Sedihnya, Reni tidak akan sadar hal ini, karena mana mungkin wanita baik sepertinya memiliki kesalahan?. Hadeh.

Mengapa Reni sering merasa dirinya adalah KORBAN? Mengapa Reni tidak pernah bisa jujur dan berharap pasangannya bisa membaca kodenya? Karena dia mengukur harga diri dan kebahagiaan dirinya dari seberapa BESAR pasangannya mencintainya, bukan seberapa besar dia menyayangi DIRINYA sendiri.

Dia takut kalau dia bersikap tegas, pasangannya akan meninggalkannya. Makanya, dia rela mengalah dan berkorban meski terus tersakiti. Jika Reni segera tidak sadar dan memperbaiki diri, dia akan selalu terjebak dalam hubungan penuh kekerasan namun dia merasa tidak bersalah sedikit pun, dan terus merasa jadi wanita paling baik namun mengapa oh mengapa selalu disakiti terus. Hadeh.

Kalau ada pembaca di AN tidak ingin bernasib sama seperti Reni, janganlah mencari pasangan untuk membuat dirimu berharga dan layak dicintai. Belajarlah menghargai dan menyayangi dirimu terlebih dulu. Bersikap baiklah pada diri sendiri sebelum bersikap baik pada orang lain.

Saya banyak ngobrol dengan para janda-janda maupun gadis-gadis di AN, banyak kejadian seperti diatas. Seakan menjadi KORBAN karena menyangka dirinya wanita paling baik sedunia yang berhak mendapatkan pasangan SEMPURNA. "Aku tidak layak lho diperlakukan seperti itu". Namun ternyata dia menjadi baik ke orang lain karena ingin dihargai dan dicintai, namun hati nuraninya selalu ingin berontak karena dia tidak bersikap BAIK pada dirinya sendiri. Fiuhhh.

Kang Jay

#darisatusumberdanopinipenulis
Pages: 1 2 3 4 5 ... Next »
advertisement
Password protected photo
Password protected photo
Password protected photo