Mencoba Mengambil Resiko ditulis oleh Jayadiningrat


"Kang, saya dari Banjarmasin, saya keturunan sunda seperti kang Jay. Saat ini usia saya sudah menginjak 33 tahun, berkali-kali gagal ta'aruf bahkan saya dua tahun kemarin menyibukkan diri dengan pekerjaan sampai akhirnya awal tahun ini daftar AN. Kegagalan ta'aruf ini sempat membuat saya trauma karena saya tipe wanita yang jika sudah menjatuhkan hati susah move-on, namun saat ini ada salah seorang teman saya semasa SMA yang keukeh nunggu saya, tapi akhlaknya tidak bagus dan tidak patuh syariat, jarang bahkan boleh dibilang tidak pernah sholat. Terakhir dia menghubungi saya via WA satu bulan yang lalu. Bagaimana menurut kang Jay?”




Jujur, saya rada berat dan rada terbebani ketika harus menjawab pertanyaan seperti ini. Saya terus terang segan dan ingin menghindar untuk menjawab pertanyaan seperti ini. Tetapi karena pertanyaan ini sudah masuk inbox dan saya harus balas, maka saya akan jawab.


Mengapa saya merasa terbebani? Karena saya khawatir jawaban saya nantinya akan melukai perasaan wanita. Tentunya karena saya belum bisa merasakan bagaimana psikologis kaum wanita yang telah memiliki kerinduan yang amat besar untuk bisa segera berumah tangga, sementara belum memiliki kesempatan mendapat pendamping yang cocok.


Saya hanya bisa berasumsi bahwa saat wanita memiliki keinginan yang sangat besar dan telah memenuhi ruang jiwanya, pada akhirnya bisa menurunkan kualitas dari yang wanita targetkan, sehingga sekecil apapun peluang yang ada asal bisa mengarahkan pada pernikahan, pada akhirnya akan diambil juga.


Mungkin ada yang memutuskan untuk menikah dengan orang yang akhlaknya belum baik lalu dengan sikap optimis berpikir:


"Ah, bukankah itu bisa menjadi media dakwah bagiku. Siapa tahu diriku yang memang diutus oleh Allah untuk menyadarkan dan mengubahnya. Siapa tahu diriku yang dijadikan oleh Allah sebagai perantara hadirnya hidayah baginya."


Saya sangat menghargai sikap optimisme semacam itu. Mungkin sudah sangat familier bagi kita kisah tentang Ummu Sulaim, salah seorang wanita yang dijanjikan surga. Ketika Abu Thalhah laki-laki kafir melamar Ummu Sulaim, maka Ummu melakukan adu argumentasi tentang keislaman yang akhirnya Abu Thalhah masuk Islam, dan keislamannya itulah mahar pernikahannya dengan Ummu Sulaim.


Hanya saja teteh harus bisa mengukur kualitas diri teteh. Saya khawatir kekuatan iman teteh jangan-jangan masih Iemah, sehingga bukannya teteh yang berperan mengubahnya, justru teteh yang malah terseret dalam keburukan akhlak.


Kedua, pertimbangan kekuatan argumentasi teteh. Keterbatasan ilmu akan berpotensi membuat jalan dakwah akan terseok di hadapan objek dakwah. Maka ukurlah diri teteh, apakah teteh sudah memiliki kesiapan dalam pengetahuan, ilmu, dan pemahaman tentang Islam.


Jika teteh sudah merasa bisa mengubah dan menyadarkannya, silahkan keyakinan itu diuji dulu dengan sholat, berdoa dan memohon untuk mendapat petunjuk dari Allah. Hal ini bisa dirasakan saat rasa yakin itu benar-benar muncul didalam hati teteh dan sulit hilang. Namun jika kemudian yang muncul adalah meragu, maka sebaiknya tunda dulu niat teteh, dan kembali dalam kesendirian.


Jadikan kesendirian ini sebagai momentum untuk meningkatkan kedekatan teteh kepada Allah. Semakin kuat kesabaran teteh, semakin tekun doa teteh untuk dipertemukan dengan kekasih halal penggenap jiwa, insya Allah semakin dekat pula pertolongan Allah ke teteh. Aamiin.


Kang Jay



Post Sebelumnya     
     Next post
     Blog Home

Dinding Komentar

Belum ada komentar
You need to sign in to comment
advertisement
Password protected photo
Password protected photo
Password protected photo