Sepintar - pintar nya manusia adalah sebodoh bodohnya iblis
Semarang pagi ini
Sungguh miris sekali.
ketika propaganda menjadi alat pemecah belah.
Media informasi apapun jenisnya adalah ajang silaturahim, bukan ajang mencaci maki atau kesombongan diri.
Kita adalah debu atom dari siklus galaxy, jadi belajarlah perbaiki diri.
Kesadaran itu hak prerogatif Tuhan, kita tidak boleh memaksakan kehendak dengan selalu mencekoki dalil dan filosofi agar Hati dan pikiran wajib menerima.
Ingatlah syaitan lebih pintar dari kita, iblis lebih cerdik dan berpengalaman dalam memutarbalikkan fakta dan keadaan.
Maka "Tangan tengen Gondelan klambine Nabi, tangan kiwo cekelan sarunge Yai", pesanku pada akal dan pikiran.
Penasaran aja apakah 'ibu" Ini menjapri semua orang yang ada di wag AN?
Dia yang kontak duluan kenapa malah tanya nama?
Is it spam?
Ada hal2 dalam hidup yang patut kita perjuangkan, apakah itu?
Itu adalah kedamaian hati dan ketenangan jiwa dalam hidup.
Tetap menjaga "positive thinking" dan "positive feeling".
Jaga"positive energy vibration" supaya jiwa tetap sehat dan secara tidak langsung berefek pada raga.
Ada yang mengatakan bahwa sumber penyakit adalah dari pikiran.
Maka buanglah pikiran dan hal2 yang menimbulkan "negative energy vibration" dan tentunya buang juga orang2 yang memicu munculnya "negative energy vibration"
Say "GOOD BYE" for toxic people.
Di pagi yang mendung ini, barusan saja mendapat kabar darinya langsung bahwa ibu mantan meninggal. Innalilahi. Hati terasa sedih sekali, seperti baru kemarin bertamu dan sang ibu sumringah tanya kabar. Logat khasnya yang suka bikin ketawa karena kami sama2 satu daerah.
Setahun sebelumnya ayahnya meninggal. Saya teringat betul beliau yang sudah renta tertatih2 keluar kamar untuk sekedar mengobrol sebentar. Logatnya yang sama dengan ibuku karena dari daerah yang sama. Semuanya menempatkanku dengan nyaman seakan bagian keluarga mereka.
Belum lagi, anaknya yang baru saja lewat usia balita adalah penguat hubungan kami dulu, sangat bangga jika mengajaknya jalan2 karena dia begitu cantik, comel dan lucu yang langsung jadi pusat perhatian orang untuk memandangnya. Suara ketawanya masih terngiang, dan dia suka menanyakan kapan ke Dufan lagi bila chating dengan mamanya. Maafkan nak, janji itu belum kutepati.
Teringat itu semua hati menjadi trenyuh, seorang janda anak satu yang menjadi yatim piatu namun begitu tegar menjalani hidup, bekerja keras ngantor dipagi hari dan malamnya mengurus anak, setelah 4 tahun sebelumnya suaminya meninggal.
Pantas dari kemarin seperti teringat dia, memandang foto profilenya di WA dan foto2 kami saat jalan2 berdua di TMII.
Hati ini seperti terisi, apakah ini saatnya untuk menemani hari2nya sebagai teman dan kekasih tuk menemani hidupnya. Kesedihannya begitu terasa embosnya ke jiwa ini. Menggetarkan seisi dada. Maafkan aku selama ini, oh....... Memandang keluar mencari-cari matahariku pagi ini diantara mendung.
Always remember you when listening Joji song glimpse of us...hoping I'll find a glimpse of us.
Kang Jay
Kalau jaman ayah/kakek kita atau era pak Harto lah, kalau sudah suka sama seseorang dan keduanya memiliki rasa suka, maka itu bisa dimaknai sebagai cinta sejati yang bisa bertahan sampai maut memisahkan.
Namun orang2 jaman sekarang jauh lebih sulit menyukai satu orang saja dalam masa 5 tahun, jangankan dalam hitungan tahun, hitungan haripun terkadang langsung muncul rasa kebosanan sehingga mencoba mencari pasangan yg cocok lagi, yang nikahpun dengan mudah bercerai mengatasnamakan cinta bukan komitmen.
Kenapa terjadi? Karena sekarang sangat mudah orang manjalin komunikasi antar lawan jenis, sehingga orang akan kebingungan dalam memilih pasangan saking banyaknya pilihan, seperti juga kita mau beli barang di Shopee atau Tokopedia liat2 dan pilih2 malah ujung2nya ngantuk lupa beli.
Itulah tantangan generasi sekarang dalam memilih pasangan yang harapannya nanti bisa menjadi cinta sejati sampai dengan akhir hayat.
Seperti juga saya perlu belajar di era ini dibanding era sms 1996-an dalam mencari cinta sejati, ketika maut memisahkan kami, mencari cinta "lagi" di zaman ini perlu kesabaran diri extra.
Kang Jay
Hai hai hai,
Ini teman-teman AN akhir minggu depan kan udah mau Idul Adha, pada mau Korban apa kalau boleh tahu?
1. Kambing
2. Korban Perasaan
3. Sapi
4. Korban Janji Manismu
5. Unta
6. Korban Mantan
7. Naga
8. Korbanin Temen Makan Temen
9. Buaya
Salam.
Saya tergelitik baca caption cewek di IG:
"Tingkat tertinggi keseriusan pria adalah melamar dan menikahi, jadi kalau pacarmu belum melamar dan ada pria lain yang melamar, ya terima aja..."
Well, membaca ini saya jadi mikir, dipikiran saya sebagai cowok jawabannya NO. Menurut saya tingkat keseriusan tertinggi seorang cowok bukan melamar atau menikahi, namun tingkat keseriusan cowok adalah ketika dia konsisten selalu ada disamping pasangannya membahagiakan terus dan terus. Jadi meski dia belum nikahin tapi dia selalu ada terus disamping kamu, bulan demi bulan, itu namanya cinta namanya komitmen pria, dibanding cepet nikah kemudian cerai, itu yang banyak terjadi kan. Ya tentunya gak sampai bertahun tahun juga pacarannya hehe.
Jadi menurut saya, pelan2 buang jauh2 mindset kalau nikah itu lambang keseriusan pria. Justru kalau seseorang pria yang pingin nikahi wanita buru2 malah itu tandanya dia tidak serius. Dia malah seperti menyepelekan karena pernikahan adalah sebuah hal yang penuh tanggung jawab yang besar tapi dia dengan begitu mudahnya bilang "Ayo aku nikah sama kamu" padahal belum lama kenal, itu artinya dia seperti meremehkan sesuatu yang sakral.
#lagitemaringandilidah
Kang Jay