Coba2 nyobain aps tetangga yang serupa tapi tak sama. Eeh....kok ya para lekong di tetangg yang usianya awal2 kepala empat kok gumush gumush menggemaskan yaaakkkk ((((((kok beda ama lekong2 dimarih))))))
Duh, terhura jiwa mamak2 petualang ini. Gemes pengen swipe right semua tapi kan kan kan kan kan para lelekong kepala empat awal itu brondi yekaannn ; dari dulu mamak2 ini walo jiwa petualangnya rada2 tapi gag sukah eikeh sama lekong brondi. Mamak2 ini lebih suka dimanjain daripada memanjakan, jadi butuhnya lelekong dewasa mateng pohon.
Pesan moral ; kok lelekong dimarih kagak ada yang bikin mamak gemes pengen nyolek2 dengkulnya. Kok beda aura lelekong di marih ama lelekong tetangga ??? ![]()
![]()
Ada jargon kalau perempuan menjanda tambah cantik, laki menduda ngegembel.
Itu karena perceraian menyebabkan Lelaki dunianya hilang, Perempuan masalahnya hilang. Hehe.
Saran saya, klo duda harus segera cari pengganti karena riskan jd gembel bahkan cepet koit.
Kang Jay
Sekedar masukan buat pasangan disini yang sudah siap siap nikah atau yg masih bercita cita menikah hehe, maka saat menjalani pernikahan, ada sedikit saran. Nantinya kalau pasangan kita konflik sama orang tua atau sama keluarga kita atau dengan siapapun didepan umum, maka prinsipnya adalah kita harus belain pasangan kita sendiri.
Harus!
Ini salah satu prinsip paling penting buat yang udah nikah. Karena pasangan kita adalah orang yang paling harus kita prioritaskan. Anggaplah misalnya sebenarnya pasangan kita juga ada salahnya. Tetap harus dibelain di depan semua orang. Ini prinsip.
Kita nggak boleh ikut menyalahkan dia karena dengan begitu dia akan jadi merasa sendiri, dia merasa dipojokkan, merasa nggak ada yang peduli sama dia, dan akhirnya dia akan benci sama kita, sama keluarga kita, sama orang tua kita, benci sama semuanya!
Baru setelah itu di rumah, ketika berdua baru kiya bisa tegur dia, marahin dia, pukulin dia (eh jangan ya hehe). "Kamu tuh tadi harusnya jangan gini, jangan gitu, nggak enak kan sama saudara dan segala macam bla bla bla". Nah ini berlaku buat suami maupun istri ya.
Banyak orang Indonesia tuh nggak seperti ini. Mereka belain keluarganya, mereka belain orang tuanya. Jadi si pasangannya tuh merasa dikucilkan, merasa dipojokkan, akibatnya dia jadi nggak betah, dia merasa nggak dicintai dan ya ujung ujungnya minta cerai.
Pasangan yang strong itu adalah pasangan yang kompak, sehati, saling membela, saling siap mati untuk satu sama lain. Kalau kita dalam kasus berantem aja kita nggak berani belain dia, apalagi dalam kasus kasus besar nantinya, itu akan menghancurkan rasa secure dalam hati pasangan kita.
Akhirnya dia merasa insecure sama kita, so coba deh belain pasangan kita apapun yang terjadi, asalkan dia juga melakukan hal yang sama, atau karena kamu masih cinta, jika tidak maka itu pilihan hidup dan hidup harus terus berjalan.
Kang Jay
Banyak orang kecewa dan burnout akibat EKSPEKTASI MEREKA SENDIRI YANG KETINGGIAN DAN GAK REALITIS. Otaknya udah keracunan standar sosmed dan drakor.
Tiap hari disuapin video pasangan perfect, cowok mapan super romantis, cewek cantik flawless yang selalu happy. Sosok khayalan yang gak nyata.
Ditambah lagi berita-berita viral perselingkuhan, pelakor, pebinor, perceraian, KDRT, makin bikin takut buat buka hati! Kombinasi kedua hal ini: ingin pasangan yang perfect dan takut disakiti, bikin orang berubah jadi juri yang kejam ketika memulai hubungan.
Sedikit aja gak sesuai checklist, langsung dieliminasi! Uangnya kurang banyak, skip. Giginya miring dikit, skip. Ketawanya aneh, skip. Chatnya boring, skip. Bukan karena dia gak baik... tapi karena gak lolos standar sosmed yang gak realistis.
Kalau mau punya hubungan yang bener-bener happy, manage your expectations! Berhenti cari manusia khayalan ala sosmed dan drakor! Kita sendiri gak perfect, kita sendiri punya banyak kekurangan.
Kalau kita terus jadi juri tanpa ampun... siap-siap, yang tersisa di panggung hidup kita cuma kita sendiri.
Kang Jay
DIAM : diblokir PPATK
BERGERAK : dipajakin Negara
NGANGGUR : dicuekin Pemerintah
BERDOA : digrebek Tetangga
Kudu piye bro.....
Kang Jay
Dia Independent,kuat dan terlihat tidak butuh siapa-siapa,tapi tahukah bahwa kadang perempuan yang paling tangguh adalah perempuan yang paling banyak belajar menahan luka,luka karena karena nggak punya sosok ayah yang benar-benar hadir.
Makna Figur Ayah dalam syariat islam bahwa ayah bukan hanya pencari nafkah tapi dia adalah pemimpin,pelindung,pemberi keamanan jiwa dan sosok pertama yang mengajarkan harga diri kepada anak perempuannya.
Maka jika seorang laki-laki menikah dengan perempuan yang kehilangan figur ayah,maka laki-laki tersebut bukan hanya menjadi suami tapi menjadi tempat perlindungan yang pertama kali benar-benar perempuan rasakan.
Perempuan yang tumbuh tanpa figur ayah (Fatherless daughter syndrome) punya:
-Self Wort Rendah merasa tidak layak dicintai
-Trust Issue dalam hubungan romantis antara lain mudah curiga dan takut ditinggalkan.
-Fear of abandonment sangat takut dikecewakan dan ditinggalkan meski tidak ditunjukkan.
-Hyper Independence "merasa tidak butuh siapa-siapa" yang sebenarnya adalah mekanisme pertahanan diri.
Anak Perempuan yang tumbuh tanpa figur ayah cenderung mengalami trust issue,self esteem rendah atau bahkan insecure terhadap cinta karena otak mereka sejak kecil diprogram untuk "bertahan hidup" bukan untuk "menerima cinta".Pusat emosi di otak belajar bahwa kasih sayang itu tidak bisa diandalkan.Maka saat dewasa,cinta bisa terasa asing atau bahkan menakutkan.Tapi ingat trauma bisa sembuh,otak bisa dilatih melalui konsistensi,kasih sayang dan kesabaran pasangan.
Banyak perempuan yang tumbuh dalam keluarga broken home,ayah yang sibuk,atau bahkan ditinggal tanpa penjelasan.Mereka mandiri tapi dalam diam haus validasi.Mereka bisa terlihat kuat diluar tapi menyimpan luka di dalam.Dalam hati mereka bertanya "Memangnya ada laki-laki yang bisa sayang tanpa ninggalin kayak ayah dulu?"
Sebab Akibat Fatherless dan Dampak dalam Pernikahan yaitu:
-Sebab:Ayah tidak hadir,kasar,dingin atau otoriter,tidak ada figur laki-laki yang menunjukkan cinta sehat dan tulus atau perceraian ayah ibunya.
-Akibat:Cenderung Menguji Cinta Pasangannya,Berasumsi kalau "Pasangan Cuek sedikit" sebagai "akan ditinggalkan" dan jadi "clingy' atau justru 'dingin banget"
-Dampak pada pernikahan yaitu suami merasa tidak percaya,istri merasa tidak aman atau curigaan,pernikahan jadi nggak sehat dan nggak harmonis,bisa berujung konflik berulang bahkan perceraian.
Solusi dan Jalan Keluar:
-Untuk Calon Suami:Tahu latar belakang emosional istri sangat penting,jangan hanya jadi imam dalam ibadah tapi juga imam dalam pemulihan jiwa,bersabar menghadapi trust issue,peluk luka masa kecilnya dengan konsistensi, belajarlah menjadi "safe' bukan hakim,dengarkan tanpa menginterupsi, dan ingatkan dengan cinta bukan dengan ancaman.
-Untuk Calon Istri:Akui bahwa ada luka bukan denial,Mau membuka diri terhadap cinta sehat dan tulus,Healing adalah tanggung jawab pribadi,Temui mentor atau ustadz/ustadzah atau terapis jika perlu,Jangan takut menikah hanya karena takut kehilangan,Maafakan Masa lalu bukan untuk melupakan tapi untuk melangkah dan buka ruang untuk mencintai dan dicintai.
Sumber:Pengalaman Pribadi dan Konsultan Ilmu Pranikah,Pernikahan dan Cinta.
Data BPS mencatat angka pernikahan di Indonesia mengalami penurunan sejak 10 tahun terakhir. Pada tahun 2014 terdapat 2.110.776 pernikahan, dan pada 2024 turun menjadi 1.478.302.
Angka ini sekaligus menjadi yang terendah dalam satu dekade 2014-2024. BKKBN menyampaikan bahwa faktor pendidikan, kondisi finansial, hingga tempat tinggal dianggap melatarbelakangi fenomena ini.
Di sisi lain, angka perceraian malah naik, di mana pada 2014 berada di angka 344.237, sedangkan pada 2024 naik menjadi 394.608. Angka tertinggi antara tahun 2014-2024 terjadi pada 2022 usai pandemi Covid-19, yaitu 516.344 perceraian.
Perceraian seakan menjadi opsi yang lebih realistis dan diterima dalam masyarakat modern, terutama ketika kualitas hubungan tidak lagi terpenuhi.
Studi dari Indonesia Family Life Survey (IFLS) dalam rentang 7 tahun menunjukkan: 6,0% perempuan kembali menikah sedang 16,3% laki-laki menikah ulang. Mungkin kalau rentangnya di tambah maybe presentase menikah ulang lebih banyak
Jadi kalau ada kesempatan menikah lagi, samber aja dulu, yah kurang2 dikit ditolelir aja hehe
Kang Jay
ASSALAMUALAIKUM.
AKU BUKAN COWOK MOKONDO.
* Cewek Kissmint gak apa-apa.
* Gadis atau Janda gak apa-apa.
* Pendidikan rendah gak apa-apa.
AKU MASIH BUJANGAN DAN SERIUS INGIN NIKAH.
* Fisik sehat, gagah, dan modal harta.
* aku modal cerdas, jujur, dan setia.
* aku modal ilmu agama dan ilmu dunia.
setidaknya aku harus dapet cewek yang CANTIK, SHOLEHAH, dan Bodi'nya Bagus.
(cantik menurut pandangan aku pribadi)
untuk perkenalan boleh inbox.
sharing foto, VC, dan ketemuan itu soal gampang.
YANG PENTING KENALAN AJA DULU.
Saya cukup tersentak, saat mengobrol dgn wanita single paruh baya.
"Dia bilang, kenapa perempuan disuruh cepat2 menikah di usia muda?
Karena semakin perempuan dengan bertambah umur maka mereka semakin SADAR tentang pria & akan MENOLAK menikah karena hidup single jelas lebih ringan & membahagiakan bagi perempuan ketimbang menikahi pria yang mentalnya masih anak2, hanya berpindah dari ibu kandung ke istri yg diperlakukan seperti ibu baru yg dituntut masakin, cuciin baju, bersihin rumahnya, & memaafkan segala kelakuannya."
Kalau saya perhatikan wanita yang single diusia dibawah saya dan sepantaran sih ada benernya kalau lihat distatus di Ig atau Fb mereka. Namun saya kekurangan survey untuk wanita diusia 50th apalagi Lansia, apakah masih bahagia. Juga kita gak tau dihati mereka sebenarnya apakah "bahagia". Adakah yang mau berpendapat......
Oiya benak saya bilang, berarti wanita menikah dan masih bertahan adalah wanita kuat dan hebat karena mampu mengasuh dan merawat suaminya. Apakah perlu diberi piala. Atau mereka bertahan karena sudah terjebak pada lingkaran hidup dan pasrah dengan takdir.
Namun menurut saya ada satu hal yang kadang bisa melawan ego, yaitu Cinta, walau itu datang diusia tua. Seperti lagunya Mawar de jongh (karena kamu lebih penting dari egoku).
Kang Jay
Ketika saya kopdar dengan wanita single, dia belum pernah menikah usia 38 tahun, dengan berkobar-kobar dia sangat menantang Pria Patriaki. Well, dipertemuan pertama saya masih gagal memahami apasih Pria Patriaki, akhirnya saya tanya ke ChatGpt apa itu?.
Muncul "Pria yg menganut sistem sosial di mana laki-laki memegang kekuasaan dominan dalam peran politik, moral, sosial, dan ekonomi.".
Akhirnya saya pada satu kesimpulan, " Langsung dibenak saya, apakah dia seorang Feminis?" Saya langsung recall pengalaman masa lalu yg kurang mengenakkan pada diri seorang Feminis yaitu egosentris sebagai wanita yg menuntut kesetaraan gender. Padahal menurut saya, dari gender aja udah beda mengapa harus disama2kan, masing2 punya kodrat sendiri2, lalu apakah perlu melawan kodrat. Apa yg mau dibuat setara?, banyak pikiran saya berkecamuk di otak.
Kemudian lanjut dia bilang, menurut penelitian, wanita yang menikah tidak lebih bahagia dari wanita single. Jd menurut dia, pria menikah itu lebih bahagia, tapi wanita single juga lebih bahagia. Well, saya tertegun, nih anak lg ngajak kopdar atau lg ngajak gelut haha.
Tp dasar saya malah semakin tertantang unt menggali isi otaknya. Menurutnya, wanita berdandan makeup pake pakaian sexy dll itu bukan untuk menarik lawan jenis tapi sebenarnya untuk aktualisasi diri, unt berkomunikasi dgn pihak lain, menunjukkan karakter dsb.
Pemikiran umum, itu banyak sy temui pada wanita yg kelamaan single yah sekedar ide secara ideologis aja, pada dasarnya menurut sy berdandan itu ide biologis (sains) yaitu isyarat kuno unt bereproduksi yg sulit ditolak wanita, gampangnya waria yg jelas2 ditubuh pria jg seperti itu.
Kalau sy pikir2 sebagai pria tuh cenderung terdorong untuk melihat wanita, kita pria misal main ke mall atau ke kampus kan secara naluriah suka banget lihat yg bening2. Nah saya pikir, naluriah wanita tuh sebaliknua yaitu ya pingin dilihat pria, apalagi pada wanita disaat masa subur.
Tp emang tampil cantik pada wanita sebenarnya malah melemahkan secara fisik, dimana bagian2 tubuh reproduksi malah yg lebih ditonjolkan, namun bagian2 yg harusnya kuat malah dilemahkan contohnya badan kurus, jari lentik, kaki tangan kecil, muka tirus, kulit mulus dan lembut dll. Dilema ini tidak terjadi pada pria, dimana jk pingin keliatan jantan malah olahraga berat agar sixpack kuat.
Namun ada saat aaya 100% agree dan saya anggap cerdas, ketika saya tanyakan lebih suka sebagai ibu rumah tangga atau wanita karir?, dijawab "kenapa wanita selalu disuruh untuk memilih, kan bisa wanita memilih dua2nya ya sebagai ibu rumah tangga dan sebagai wanita karir." Tersentak saya, bener juga, pertamyaan itu seolah olah membuat wanita tak berdaya. Bagi dia seorang wanita ideal adalah bu Sri Mulyani, dirumah tangga baik dan dipublik berkarya untuk bangsa.
Tp ada perdebatan di pikiran saya, bukannya itu malah bukan wanita ideal karena wanita menjalankan dua peran sekaligus. Sedang saya sebagai pria menjalankan satu peran saja. Bukannya itu malah jd kebalik, bukan lg memojokkan Pria sebagai Patriaki malah Wanita menjadi Patriaki dimana ada keinginan melakukan itu, sy pikir itu menjadikan wanita dominan yg hebat. Kenapa saya bilang hebat karena wanita seperti itu mengambil dua pilihan sekaligus, dimana pria hanya ambil satu pilihan.
Jadi ide wanita Feminis yang pilih keduanya tuh malah memberatkan, kenapa tidak pilih satu aja seperti pria. Seperti pria yg naluriah memilih sebagai pencari nafkah, mengapa wanita tidak memilih dirumah aja, krn jk memaksakan seperti pria, dalam benak pria seperti saya, apa wanita tidak merasa bersalah disaat berkarir tuh melawan kodratnya yaitu mengurus rumah dan mengurus anak karena itu dorongan biologis wanita spt dorongan biologis pria unt bekerja. Kodrat ini lah yang menurut saya melahirkan sebuah ketidaksetaraan. Jadi setara itu apa ????
Masih belum selesai, tp ya sudahlah selesai aja krn udah ngantuk.
Salam...
Kang Jay