BLOG TULISAN Dwipa_Nusa

Aku tahu kamu menyayangi aku seumpama mata air itu tidak pernah kering meski pancaroba.

Aku tahu kamu ingin selalu menjagaku yang selalu lupa diri jika sudah berhadapan dengan angka dan algoritma yang menurutmu bikin sakit perut.

Seumpama Linux ....
Kamu bukan hanya mau selalu Update Kabarku, tapi kamu juga selalu Upgrade Kondisiku.

Aku tahu perhatianmu selalu tercurah bertanya kabar setiap waktu tidak akan berhenti sampai aku menjawab meski sekedar kalimat aku baik-baik saja.

Aku tahu bahwa setiap hari kamu berdoa untuk kebaikanku meski aku selalu berpura tidak tahu.

Dan aku tahu bahwa "tahu" itu lembut dan enak di makan mentah atau matang, apalagi di goreng dadakan (^_*).

/*Jika di buat case maka gunakan pembalikan logika ("aku adalah kamu") */
Memasak...
Perempuan itu wajib bisa masak biar di sayang suami, atau filosofi lainnya yang berhubungan dengan memasak.

padahal tidak semua hal tersebut di kuasai mahluk yang katanya lemah di fisik tapi kuat di hati dan otak.

Banyak sudah laki-laki pintar masak, cuma sedikit yang ter-ekspose khalayak.

Berdasarkan pengalaman pribadi.

Ayahku kalau pagi selalu bikin nasi goreng dengan kreasinya setelah beliau selesai shalat subuh dan baca Qur'an, jujur rasa yang di berikan jauh lebih lezat dari nasi goreng bikinan Ibuku.

Waktu di Pesantren karena hobiku memasak, aku jadi anggota DPR (dapur) pesantren untuk memasak lebih dari 300 orang, terbiasa masak nasi sampai 20-50 Kg beras, dan sekali bikin sambel bisa sampai 10 Kg cabe dan terong 1 kuintal untuk sekali masak.

Ketika aku Nikah dan selesai ijab kabul, maka aku ganti baju turun ke dapur ketemu dengan "mak-mak rempong suka bergosip tentang apa saja terutama tetangganya", mereka melongo ada pengantin kok turun ke dapur ikut masak sampai mertua bingung mencari karena banyak tamu yang nanya dan dikira pengantennya kabur padahal aku asyik bercengkrama dengan duniaku.

Jika sedang pusing dengan algoritma dan kode biner maka aku ke dapur untuk menenangkan diri dengan membuat kreasi masakan, di situ aku seolah temukan duniaku, bisa berjam-jam aku menikmatinya.

Jangan pernah berfikir aku hapal resep, tidak... tapi aku laksanakan apa yang ada di pikiranku, giling ini campur itu, lalu seperti ini seperti itu seolah ada yang membisiki tapi bukan bisikan sang kekasih, dan rasanya Insya Allah tidak mengecewakan untuk di nikmati.


Tapi ini sekedar Hobi bukan maksud menonjolkan diri.


Tuhan.... boleh tidak aku melamar jadi ((("tukang ^_^ masak"))) nanti di akherat ???
Teknologi tanpa Agama adalah merusak, dan Agama tanpa teknologi seperti kitab suci yang berdebu.

Dalam Introduction C | EH v1 sangat jelas sekali di gambarkan bahwa orang yang punya kemampuan harus punya kontrol diri.

Dalam Mikrotik ada namanya L2TP atau IPsec, apa tujuannya ? tidak lain sebagai sarana agar kemampuan hebat pas pada tempatnya.

Aku tidak mau ikut pusing bagaimana sekarang C | EH sudah naik ke v9 atau mikrotik sudah mulai di tinggalkan beralih ke Palo Alto, yang sering aku sesali kenapa al qur'an ku di rumah sering berdebu atau sajadah ku masih selalu baru.

Pernah aku silaturahim ke salah satu ustadz terkemuka di media, di ruang tamunya berjejer banyak kitab kuning segede gaban yang langka semacam kitab AL-UM (Induk segala ilmu Fiqih/syari'at) karya Imam Syafi'i yang masyhur cetakan beirut, yang harganya lebih mahal dari motor vario terbaru.
Lalu aku bertanya...
"Maaf ustadz, kitab Al-Um nya kok kelihatan masih baru yah?" dan dengan santainya beliau bilang, itu kitab memang harganya Muahal makanya di buat pajangan saja.

Entah dia yang benar atau aku yang terlalu naif dan terlalu memandang tinggi tentang ustadz di media hingga bayangan berbeda dengan kenyataan.

Maka aku bertekad bahwa kitab suci ku jangan sampai berdebu bukan dengan di pajang tapi minimal sering di baca dan syukur-syukur belajar dianalisa, dan sajadahku bukan penghuni lemari tapi menemani aku di saat sepi.




Demi sang pembawa kabar para nabi
Demi sang pembelah bulan
Aku kangen .......

Wahai
Lagu Indonesiaku
apa kabarmu di sana
masih ingatkah
Beningnya laut karimunjawa
Kuatnya tiang suramadu
kokohnya meriam kota tua.

Wahai Bumi Jawaku
Di ubun jogja kita tertawa
Di kaki Ampera kita menangis
Di jantung Tretes kita berpelukan.
Di pantai losari kita menari

Sang hyang tunggal ku
penguasa hamparan semesta
limpahkan untuknya
kesehatan dan keselamatan.

Ini bukan soal Matematika
bukan pula aritmatika
Tapi tentang rasa
Aku Kangen.

by tqm

*terinspirasi dari blog Indonesia sakit ??






Aku rindu

adalah jejak hujan merengkuh nadi pada jagal malam menari kesunyian bukan kesendirian meski aku tahu Engkau selalu berpayung teka-teki berselimut selaksa pertanyaan.


Aku rindu

Nasehatkan pada jiwa merona bahwa detik kecil berdetak udan riwis meneduhkan angkara mata dari domba yang menggiring pada ke emasan tekad.


Aku rindu

bawalah sepucuk resah lalu basuh dengan getar dawai kehidupan agar samsara bukan jaghana bahwa apsari adalah bidadari.


Aku rindu
Aku tahu
Aku rindu
Ya aku tahu
Aku rindu

maka senjakan saja angan-angan oase yang membentang pada padang sabana perintis di swastika waktu melukis sedikit kenangan bahwa merinai rasa adalah tujuanku dengan menggandeng restu pagi aku bersimpuh


Aku rindu.

dimana kamu


by tqm

Data seperti "pi", kecepatan cahaya (299.792.458 m/s), adalah contoh data yang tepat jika dideklarasikan sebagai konstanta daripada variabel, karena nilainya sudah pasti dan tidak berubah.

Tapi manusia bukan data, meski di dalamnya ada banyak data dan variabel. Jadi ketika kita menilai sesuatu jangan dari satu variabel, sehingga kita menganggap variabel itu sebuah konstanta.
ANDA SALAH BESAR.

Saya ambil contoh, meskipun yang keluar dari "maaf" (dubur) ayam, tapi kalau telur silahkan ambil.

Sering saya sowan ke Habib Riziq, ketika ketemu beliau saya cium tangannya saya peluk badannya, saya hormat pada beliau, saya takdzim sama beliau, karena dia adalah salah satu ahlul bait nya Nabi, tapi dengan cara berfikirnya, saya berbeda dan tidak mau ikuti. karena sayadiajarkan Khadratus syekh... bukan islam marah tetapi islam yang ramah.

Jadi kita di beri Tuhan mata ada dua, telinga ada dua, hakekatnya menyuruh kita untuk lebih sering memilah jangan terlalu menyudutkan atau menghina mahluk Tuhan, toh kita sama-sama mahluk Tuhan, atau maaf ...kamu bukan mahluk Tuhan, ya sudah kalau kamu bukan mahluknya Tuhan jangan numpang hidup di buminya Tuhan.

Berbagi itu Indah dan saling memaafkan itu damai.
Baldatun toyyibatun warobbun ghofur.





advertisement
Password protected photo
Password protected photo
Password protected photo