Bertahun telah menjalani perjalanan demi perjalanan, kudapati berjuta-juta makna kehidupan dan alur langkah yg bisa kujadikan patokan.
Hampir semua orang sy kumpul, yg miskin, yg sederhana, yg kaya, yg tinggi pendidikan ataupun yg tak berpendidikan.
Kuyakin anggota di sini banyak yg berkecukupan dan banyak yg punya kedudukan. Sepantasnya mengharap yg sederajat dengannya.
Ilmu yg tinggi / strata yg tinggipun tentu identik dengan melirik pada yg tinggi pendidikannya pula. Walau masih ada dijumpai tak semua begitu.
Ada pula yg berkecukupan justru dalam benaknya berharap dapat yg dari kampung.
Ada pula yg tampan menawan malah bersanding dengan yg kurang menawan.
Dibalik tampilan itu semua sangat jarang disini yg terbuka mengungkap segi perilaku nakal (negatif) yg pernah di lakukan.
Mayoritas yg ditampilkan hanya yg baik / enak didengar dan manis dirasa saja.
Prof. Quraish Shihab berbicara tentang pembatasan masalah ini, yuakni jodoh berarti memperoleh pasangan hidup. Ada ungkapan klasik bahwa kelahiran, jodoh dan kematian itu di tangan Tuhan. Ini benar, kata Prof Quraish, tapi tidak lengkap.
“Segala yang terjadi adalah takdir Tuhan, bukan cuma jodoh. Jatuhnya sehelai daun dari pohon, itu takdir,” tambah beliau.
Manusia diciptakan dalam ruangan takdir. Jangan menunggu jodoh tapi menjemputnya.
“Menjemput jodoh itu adalah cara menjemput takdir,” terang Prof. Quraish.
InsyaAllah samawa dan berkah.
Peminat silakan inbox.