BLOG TULISAN nkholish

Darah dan air mata kita mungkin tak akan sebanding dengan darah dan air mata engkau, Ibu...


Terima kasih telah menjaga, merawat dan mendidik kami selama ini. Kami tidak akan bisa membalas semua pengorbananmu ibu... walau nyawa kami jadi taruhannya...

Hanya doa yg bisa kami panjatkan untukmu ibu...

Semoga Allah membalas semua kebaikanmu.. Ibu


"Robbighfirlii waliwaa lidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiran"


"Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah serta ibuku, kasihanilah mereka sebagaimana kasih mereka padaku sewaktu aku masih kecil"

Aamiin...


Selamat hari ibu

Mari kita renungkan dan terapkan Nasihat Shbt Ali bin Abi Thalib ini,
"Hndaklah kamu sll brsikap merendahkan diri, jngan mncari kmasyhuran, dan jangan mmbanggakan kpintaran. Tapi biasakanlah hidup tenang dan suka brdiam diri niscaya kamu akan selamat dan disukai kaum shalihin."
"Sungguh, tiada kehormatan diri lbh baik drpd tawadhu'. Maka bahagialah orang yg rendah hatinya, halal pnghasilannya, dan mulia akhlaknya.

Jangan meninggalkan amal karena takut tidak ikhlas.
Beramal sambil meluruskan niat lebih baik daripada tidak beramal sama sekali.

˚• Jangan meninggalkan dzikir karena ketidakhadiran hati.
Meninggalkan dzikir lebih buruk daripada kelalaian ki
ta saat berdzikir.

˚• Jangan meninggalkan tilawah karena tak tahu maknanya.
Ketidaktahuan makna masih lebih baik daripada ketidakmauan membaca firman-Nya.

˚• Jangan meninggalkan amanah karena berat.
Beratnya amanah yang kita emban sebanding dengan beratnya timbangan amal yang akan kita dapatkan.

˚• Jangan meninggalkan kesantunan tatkala orang lain arogan.
Tiada kebaikan yang sia-sia, kesantunan akan menambah kemuliaan dan mengundang simpati.

Jangan meninggalkan sholat karena kesibukan.
Meluangkan waktu sejenak untuk Allah lebih utama daripada mengejar urusan duniawi yang tiada bertepi..

˚• Sungguh beruntunglah orang yang beriman, hidupnya selalu diliputi kebaikan.
Tiada kata menyerah atas kesulitan yang mendera.

˚• Bersabar tatkala ujian datang melanda karena sebuah keyakinan bahwa Allah bersama orang-orang yang sabar.

Tidak ada gembok yg tdk bisa dibuka. Tidak ada simpul yg tdk bisa dilepas, tidak ada jarak yg jauh yg tdk bisa didekatkan. Dan, Semua itu ada saatnya selama ada usaha dan Allah menghendaki

Pernikahan dalam islam diatur dalam syariat,termasuk memilih kriteria calon istri maupun calon suami. Kita dianjurkan untuk serius dalam permasalahan ini dan dilarang menjadikan hal ini sebagai bahan candaan atau main-main.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,


“Tiga hal yang seriusnya dianggap benar-benar serius dan bercandanya dianggap serius: nikah, cerai dan ruju.'” (Diriwayatkan oleh Al Arba’ah kecuali An Nasa’i. Dihasankan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah)


Salah satunya dikarenakan menikah berarti mengikat seseorang untuk menjadi teman hidup tidak hanya untuk satu-dua hari saja bahkan seumur hidup, insya Allah. Jika demikian, merupakan salah satu kemuliaan syariat Islam bahwa orang yang hendak menikah diperintahkan untuk berhati-hati, teliti dan penuh pertimbangan dalam memilih pasangan hidup.

Sungguh sayang, anjuran ini sudah semakin diabaikan oleh kebanyakan kaum muslimin. Sebagian mereka terjerumus dalam perbuatan maksiat seperti pacaran dan semacamnya, sehingga mereka pun akhirnya menikah dengan kekasih mereka tanpa memperhatikan bagaimana keadaan agamanya. Sebagian lagi memilih pasangannya hanya dengan pertimbangan fisik. Mereka berlomba mencari wanita cantik untuk dipinang tanpa peduli bagaimana kondisi agamanya. Sebagian lagi menikah untuk menumpuk kekayaan. Mereka pun meminang lelaki atau wanita yang kaya raya untuk mendapatkan hartanya. Yang terbaik tentu adalah apa yang dianjurkan oleh syariat, yaitu berhati-hati, teliti dan penuh pertimbangan dalam memilih pasangan hidup serta menimbang anjuran-anjuran agama dalam memilih pasangan.


Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, maka engkau akan sengsara. "(HR. Bukhari-Muslim)


Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam juga bersabda,

“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi. Al Albani berkata dalam Adh Dho’ifah bahwa hadits ini hasan lighoirihi)

Jika demikian, maka ilmu agama adalah poin penting yang menjadi perhatian dalam memilih pasangan. Karena bagaimana mungkin seseorang dapat menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, padahal dia tidak tahu apa saja yang diperintahkan oleh Allah dan apa saja yang dilarang oleh-Nya? Dan disinilah diperlukan ilmu agama untuk mengetahuinya.

Maka pilihlah calon pasangan hidup yang memiliki pemahaman yang baik tentang agama. Karena salah satu tanda orang yang diberi kebaikan oleh Allah adalah memiliki pemahaman agama yang baik dan mengamalkan / menjalankannya dalam kehidupannya.

Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Orang yang dikehendaki oleh Allah untuk mendapat kebaikan akan dipahamkan terhadap ilmu agama.” (HR. Bukhari-Muslim)


Semoga bermanfaat

Seorang pria menikahi kekasih hatinya. Acara pernikahan mereka diselenggarakan dengan meriah dan megah. Semua kawan dan keluarga mereka hadir, menyaksikan dan menikmati hari yang berbahagia tersebut. Itu merupakan salah satu acara yang luar biasa mengesankan.

Mempelai wanita begitu anggun dalam balutan gaun putihnya, sedangkan pengantin pria begitu gagah mengenakan tuxedo hitam. Setiap pasang mata yang memandang setuju mengatakan bahwa mereka sungguh-sungguh serasi dan saling mencintai.

Beberapa bulan kemudian, sang istri berkata kepada suaminya, "Sayang, aku baru membaca sebuah artikel di majalah tentang bagaimana memperkuat tali pernikahan," katanya sambil menyodorkan majalah tersebut.

"Masing-masing kita akan mencatat hal-hal yang kurang kita sukai dari pasangan kita. Kemudian, kita akan berdikusi bagaimana mengubah hal-hal tersebut dan membuat kehidupan pernikahan kita lebih bahagia."

Suaminya setuju dan mereka mulai memikirkan hal-hal yang tidak mereka sukai dari pasangannya. Mereka pun berjanji tidak akan tersinggung, ketika pasangannya mengungkapkan hal-hal yang kurang baik, demi kebaikan bersama.

Malam itu mereka sepakat untuk berpisah kamar dan mencatat apa yang terlintas dalam benak mereka masing-masing.

Keesokan harinya, ketika sarapan, mereka siap mendiskusikannya.

"Aku akan mulai duluan, ya," kata sang istri.

Ia lalu mengeluarkan catatannya. Banyak sekali yang ditulisnya, sekitar 3 halaman. Ketika ia mulai membicarakan hal yang tidak disukai dari suaminya, ia melihat mata suaminya berkaca-kaca.

"Maaf, apakah aku harus berhenti?" tanyanya.

"Oh tidak, lanjutkan..." jawab suaminya.

Lalu sang istri melanjutkan membaca, hingga semua daftar catatannya habis. Sang istri pun melipat kertasnya dengan manis di atas meja dan berkata dengan lega, "Sekaranggantian ya, engkau yang membacakan catatanmu."

Perlahan suaminya berkata, "Aku tidak mencatat sesuatu pun di kertasku. Aku berpikir engkau sudah sempurna dan aku tidak ingin mengubahmu. Engkau adalah dirimu sendiri. Engkau cantik dan baik bagiku. Tidak satupun dari pribadimu yang kudapatkan kurang."

Sang istri tersentak dan tersentuh oleh pernyataan dan ungkapan cinta serta isi hati suaminya. Ucapan suaminya itu menunjukkan bahwa ia menerima kondisinya apa adanya. Ia menunduk dan menangis.


Kisah lainnya berikut ini diambil dari page di sajadah cinta, semoga bisa menjadi pelajaran yg bermanfaat bagi kita untuk meneladaninya..


Sore itu, menunggu kedatangan teman yang akan menjemputku di masjid ini seusai ashar.. seorang akhwat datang, tersenyum dan duduk disampingku, mengucapkan salam, sambil berkenalan dan sampai pula pada pertanyaan itu. “anty sudah menikah?”. “Belum mbak”, jawabku. Kemudian akhwat itu .bertanya lagi “kenapa?” hanya bisa ku jawab dengan senyuman.. ingin ku jawab karena masih kuliah, tapi rasanya itu bukan alasan.

“mbak menunggu siapa?” aku mencoba bertanya. “nunggu suami” jawabnya. Aku melihat kesamping kirinya, sebuah tas laptop dan sebuah tas besar lagi yang tak bisa kutebak apa isinya. Dalam hati bertanya- tanya, dari mana mbak ini? Sepertinya wanita karir. Akhirnya kuberanikan juga untuk bertanya “mbak kerja dimana?”, ntahlah keyakinan apa yg meyakiniku bahwa mbak ini seorang pekerja, padahal setahuku, akhwat2 seperti ini kebanyakan hanya mengabdi sebagai ibu rumah tangga.

“Alhamdulillah 2 jam yang lalu saya resmi tidak bekerja lagi” , jawabnya dengan wajah yang aneh menurutku, wajah yang bersinar dengan ketulusan hati.

“kenapa?” tanyaku lagi.

Dia hanya tersenyum dan menjawab “karena inilah cara satu cara yang bisa membuat saya lebih hormat pada suami” jawabnya tegas.

Aku berfikir sejenak, apa hubungannya? Heran. Lagi-lagi dia hanya tersenyum.

Ukhty, boleh saya cerita sedikit? Dan saya berharap ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita para wanita yang Insya Allah akan didatangi oleh ikhwan yang sangat mencintai akhirat.

“saya bekerja di kantor, mungkin tak perlu saya sebutkan nama kantornya. Gaji saya 7juta/bulan. Suami saya bekerja sebagai penjual roti bakar di pagi hari, es cendol di siang hari. Kami menikah baru 3 bulan, dan kemarinlah untuk pertama kalinya saya menangis karena merasa durhaka padanya. Waktu itu jam 7 malam, suami baru menjemput saya dari kantor, hari ini lembur, biasanya sore jam 3 sudah pulang. Saya capek sekali ukhty. Saat itu juga suami masuk angin dan kepalanya pusing. Dan parahnya saya juga lagi pusing. Suami minta diambilkan air minum, tapi saya malah berkata, “abi, umi pusing nih, ambil sendirilah”.

Pusing membuat saya tertidur hingga lupa sholat isya. Jam 23.30 saya terbangun dan cepat-cepat sholat, Alhamdulillah pusing pun telah hilang. Beranjak dari sajadah, saya melihat suami saya tidur dengan pulasnya. Menuju ke dapur, saya liat semua piring sudah bersih tercuci. Siapa lagi yang bukan mencucinya kalo bukan suami saya? Terlihat lagi semua baju kotor telah di cuci. Astagfirullah, kenapa abi mengerjakan semua ini? Bukankah abi juga pusing tadi malam? Saya segera masuk lagi ke kamar, berharap abi sadar dan mau menjelaskannya, tapi rasanya abi terlalu lelah, hingga tak sadar juga. Rasa iba mulai memenuhi jiwa saya, saya pegang wajah suami saya itu, ya Allah panas sekali pipinya, keningnya, Masya Allah, abi deman, tinggi sekali panasnya. Saya teringat atas perkataan terakhir saya pada suami tadi. Hanya disuruh mengambilkan air minum saja, saya membantahnya. Air mata ini menetes, betapa selama ini saya terlalu sibuk diluar rumah, tidak memperhatikan hak suami saya.”

Subhanallah, aku melihat mbak ini cerita dengan semangatnya, membuat hati ini merinding. Dan kulihat juga ada tetesan air mata yg di usapnya.

“anty tau berapa gaji suami saya? Sangat berbeda jauh dengan gaji saya. Sekitar 600-700rb/bulan. 10x lipat dari gaji saya. Dan malam itu saya benar-benar merasa durhaka pada suami saya. Dengan gaji yang saya miliki, saya merasa tak perlu meminta nafkah pada suami, meskipun suami selalu memberikan hasil jualannya itu pada saya, dan setiap kali memberikan hasil jualannya , ia selalu berkata “umi,,ini ada titipan rezeki dari Allah. Di ambil ya. Buat keperluan kita. Dan tidak banyak jumlahnya, mudah2an umi ridho”, begitu katanya.

Kenapa baru sekarang saya merasakan dalamnya kata-kata itu. Betapa harta ini membuat saya sombong pada nafkah yang diberikan suami saya”, lanjutnya

“Alhamdulillah saya sekarang memutuskan untuk berhenti bekerja, mudah-mudahan dengan jalan ini, saya lebih bisa menghargai nafkah yang diberikan suami. Wanita itu begitu susah menjaga harta, dan karena harta juga wanita sering lupa kodratnya, dan gampang menyepelekan suami.” Lanjutnya lagi, tak memberikan kesempatan bagiku untuk berbicara.

“beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah orang tua, dan menceritakan niat saya ini. Saya sedih, karena orang tua dan saudara-saudara saya tidak ada yang mendukung niat saya untuk berhenti berkerja. Malah mereka membanding-bandingkan pekerjaan suami saya dengan orang lain.”

Aku masih terdiam, bisu, mendengar keluh kesahnya. Subhanallah, apa aku bisa seperti dia? Menerima sosok pangeran apa adanya, bahkan rela meninggalkan pekerjaan.

“kak, kita itu harus memikirkan masa depan. Kita kerja juga untuk anak-anak kita kak. Biaya hidup sekarang ini besar. Begitu banyak orang yang butuh pekerjaan. Nah kakak malah pengen berhenti kerja. Suami kakak pun penghasilannya kurang. Mending kalo suami kakak pengusaha kaya, bolehlah kita santai-santai aja di rumah. Salah kakak juga sih, kalo ma jadi ibu rumah tangga, seharusnya nikah sama yang kaya. Sama dokter muda itu yang berniat melamar kakak duluan sebelum sama yang ini. Tapi kakak lebih milih nikah sama orang yang belum jelas pekerjaannya. Dari 4 orang anak bapak, Cuma suami kakak yang tidak punya penghasilan tetap dan yang paling buat kami kesal, sepertinya suami kakak itu lebih suka hidup seperti ini, ditawarin kerja di bank oleh saudara sendiri yang ingin membantupun tak mau, sampai heran aku, apa maunya suami kakak itu”. Ceritanya kembali, menceritakan ucapan adik perempuannya saat dimintai pendapat.

“anty tau, saya hanya bisa nangis saat itu. Saya menangis bukan Karena apa yang dikatakan adik saya itu benar, bukan karena itu. Tapi saya menangis karena imam saya dipandang rendah olehnya. Bagaimana mungkin dia meremehkan setiap tetes keringat suami saya, padahal dengan tetesan keringat itu, Allah memandangnya mulia. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang senantiasa membangunkan saya untuk sujud dimalam hari. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang dengan kata-kata lembutnya selalu menenangkan hati saya. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang berani datang pada orang tua saya untuk melamar saya, padahal saat itu orang tersebut belum mempunyai pekerjaan. Baigaimana mungkin seseorang yang begitu saya muliakan, ternyata begitu rendah dihadapannya hanya karena sebuah pekerjaan.

Saya memutuskan berhenti bekerja, karena tak ingin melihat orang membanding-bandingkan gaji saya dengan gaji suami saya. Saya memutuskan berhenti bekerja juga untuk menghargai nafkah yang diberikan suami saya. Saya juga memutuskan berhenti bekerja untuk memenuhi hak-hak suami saya. Semoga saya tak lagi membantah perintah suami. Semoga saya juga ridho atas besarnya nafkah itu. Saya bangga ukhti dengan pekerjaan suami saya, sangat bangga, bahkan begitu menghormati pekerjaannya, karena tak semua orang punya keberanian dengan pekerjaan itu. Kebanyakan orang lebih memilih jadi pengangguran dari pada melakukan pekerjaan yang seperti itu. Tapi lihatlah suami saya, tak ada rasa malu baginya untuk menafkahi istri dengan nafkah yang halal. Itulah yang membuat saya begitu bangga pada suami saya.

Semoga jika anty mendapatkan suami seperti saya, anty tak perlu malu untuk menceritakannya pekerjaan suami anty pada orang lain. Bukan masalah pekerjaannya ukhty, tapi masalah halalnya, berkahnya, dan kita memohon pada Allah, semoga Allah menjauhkan suami kita dari rizki yang haram”. Ucapnya terakhir, sambil tersenyum manis padaku.

Mengambil tas laptopnya,, bergegas ingin meninggalkanku. Kulihat dari kejauhan seorang ikhwan dengan menggunakan sepeda motor butut mendekat ke arah kami, wajahnya ditutupi kaca helm, meskipun tak ada niatku menatap mukanya. Sambil mengucapkan salam, meninggalkannku. Wajah itu tenang sekali, wajah seorang istri yang begitu ridlo.

SIAPA yang tak kenal dengan Imam Ahmad bin Hanbal R.A.? Beliau adalah salah satu dari 4 imam mazhab umat islam. Selain melakukan ijtihad untuk menentukan hukum-hukum dalam islam, ternyata Imam Ahmad pernah memberikan nasihat pernikahan untuk anak laki-lakinya. Penasaran?

Imam Ahmad berkata: “Anakku sayang, kamu tidak akan mencapai keberuntungan di rumah tangga kecuali dengan 10 karakteristik suami yang kamu tunjukkan kepada istrimu.”

Berikut 10 nasihat emas pernikahan dari Imam Ahmad kepada para calon suami:

1. Wanita sangat suka mendapatkan perhatian, mereka suka mendapatkan ucapan cinta yang jelas dari suaminya bahwa mereka dicintai. Jadi, jangan pelit untuk mengungkapkan cinta secara jelas kepada istrimu. Bila perlu ucapkan rasa cintamu setiap hari, hal itu akan membuat istrimu merasa berharga.

2. Jika kamu tipe suami yang sangat kaku mengekspresikan cintanya kepada sang istri, maka sejatinya kamu sedang menciptakan sebuah penghalang antara kamu dengan istrimu, maka jangan malu atau sungkan memberikan perhatian kepada istrimu, bila perlu ucapkan rasa cintamu setiap hari.

3. Wanita benci suami yang terlalu posesif dan terlalu berlebihan, wanita justru lebih menyukai suami yang bersikap lembut. Jadi gunakan setiap momen kamu bersama istrimu dengan bersikap tidak terlalu kasar kepadanya, sebab hal itu akan menjadi lebih menarik untuk menumbuhkan rasa cinta antara kamu dan istrimu. Dan tentu akan membuatmu mendapatkan ketenangan pikiran bukan?.

4. Wanita menyukai suami yang berpenampilan seperti penampilan istri tersebut, misalnya bicaranya lemah lembut, berpenampilan baik, pakaian bersih dan memiliki bau yang menyenangkan. Oleh karena itu, selalu tetap jaga penampilanmu di depan istrimu.

5. Walaupun istri sebagai manajer rumah tangga, namun kedaulatan utama dalam rumah tangga ada di tangan suami sebagai kepala keluarga. Namun, satu hal yang mesti diingat bahwa sebagai seorang suami tidak boleh egois atau terlalu keras kepada istrinya dengan anggapan suami bisa melakukan hal sewenang-wenang sebagai kepala rumah tangga. Maka, alangkah lebih baik jika pasangan suami istri untuk saling mengingatkan satu sama lain dengan cara yang ma’ruf.

6. Seorang wanita tentu ingin mencintai suaminya, tetapi pada saat yang sama dia tidak ingin kehilangan keluarganya. Jadi jangan sekali-kali suami memberikan pilihan kepada istri untuk memilih keluarganya atau suaminya. Sebab, jikalaupun ia tidak memilih keluarganya, maka istri pasti akan merasakan kecemasan yang luar biasa. Sehingga, bukanlah tidak mungkin jika sewaktu-waktu akan menjadi bumerang bagi suaminya, karena istrinya berubah menjadi membenci suaminya.

7. Wanita diciptakan dari tulang rusuk melengkung, maka jika sang istri melakukan tindakan keliru, maka suami jangan menegur dia dengan cara keras lagi kasar. Justru sebagai suami, kamu harus mencoba untuk meluruskannya dengan cara yang baik dan tidak menyakitkan hati istri. Ingatlah, perasaan wanita itu lebih sensitif dari pria.

8. Dalam beberapa kondisi, terkadang wanita lupa bersyukur dan menolak segala nikmat yang diberikan suaminya di dalam keluarga. Hal itu mungkin akan membuat kamu frustasi sebagai seorang suami, namun ingatlah jangan sekali-kalipun sampai kamu mengatakan kepada istrimu, “Saya belum pernah melihat hal-hal yang baik dari kamu!”.

Maka jangan biarkan sikap buruk istrimu membuat kamu tidak menyukainya atau lari darinya. Sehingga, jika kamu tidak suka dengan salah satu sikap istrimu, maka cobalah kamu pikirkan sikap-sikap baik lainnya yang dimiliki istrimu, sehingga hal itu bisa menciptakan keseimbangan dalam dirimu untuk selalu berpikir positif.

9. Adakalanya wanita mengalami kondisi tubuh yang lemah dan kelelahan pikiran. Oleh karena itu, kamu sebagai seorang suami jangan terlalu banyak menuntut atau memerintahkan ini-itu hingga semakin membuat istrimu lemah. Oleh karena itu, sebagai seorang suami kamu harus mengetahui kondisi istrimu dengan baik. Agar istrimu merasakan bahwa kamu adalah suami yang pengertian dan penyayang.

10. Sebagai seorang suami jangan pernah menganggap bahwa istrimu adalah tawananmu. Oleh karena itu, kasihanilah ia sebagai seorang istri dan ibu dari anak-anakmu kelak.


4 Pesan dan Nasihat Untuk Wanita Yang Akan Menikah



Semua wanita yang belum menikah pasti selalu berharap kelak akan merasakan bagaimana menjadi seorang istri. Oleh karena itu, wanita sangat perlu membekali diri mereka dengan hal-hal bermanfaat baik di masa depannya kelak saat menjadi seorang istri dan juga ibu. Bekal seorang wanita bisa didapatkannya dari lingkungan sekitar, menambah kapasitas diri, dan juga dari orang tua dalam bentuk nasihat.

Berikut ini adalah beberapa nasehat yang disampaikan para orang tua dan generasi yang lebih berpengalaman kepada wanita yang akan menikah:

1. Seorang Istri Kelak Harus Taat Kepada Suamiistri-shalehah

Anas mengatakan bahwa para sahabat Nabi Muhammad SAW saat menikahkan anak perempuannya dengan calon suaminya, maka mereka berpesan kepada anaknya untuk berkhidmat pada suami serta senantiasa menjaga hak seorang suami, karena taat kepada seorang suami adalah salah satu ibadah yang akan mengantarkan para wanita ke surge nan indah.

2. Pesan Seorang Ayah Kepada Anak Perempuannya Saat Pernikahan

Pada saat pernikahan anaknya, Abdullah bin Ja’far bin Abu Thalib memberikan wasiat kepada anak perempuannya yang akan menikah.

Jauhilah olehmu perasaan cemburu, karena rasa cemburu merupakan penyebab jatuhnya thalak. Juga jauhkanlah dirimu dari sifat banyak mengeluh, karena keluh kesah merupakan sebab timbulnya kemarahan, dan hendaklah kamu memakai celak mata, perhiasan yang paling indah serta wawangian yang paling harum ketika berada di dekat suami”.

3. Pesan Seorang Ibu Kepada Anak Perempuannya

Diriwayatkan bahwasanya Asma binti Kharijah Al-Farzari memberikan pesan pada anak perempuannya ketika menikah,

Sesungguhnya engkau telah keluar dari sarang yang engkau tempati menuju hamparan luas yang tidak engkau ketahui, juga menuju teman yang engkau belum merasa rukun dengannya. Oleh sebab itu, jadilah engkau bumi baginya, maka ia akan menjadi langit bagimu. Jadilah engkau hamparan baginya, niscaya dia akan menjadi tiang untukmu. Jadilah hamba sahaya baginya, niscaya dia akan menjadi hamba untukmu. Dan janganlah engkau meremehkannya, karena dia akan membencimu dan janganlah engkau menjauh darinya karena dia akan melupakanmu. Bila dia dekat denganmu maka dekatkanlah dirimu, bila dia menjauhimu maka menjauhlah darinya. Jagalah hidungnya, pendengarannya dan matanya. Janganlah dia mencium sesuatu darimu kecuali wawangian dan janganlah dia melihatmu kecuali engkau dalam keadaan cantik.”

4. Pesan Amamah Binti Harits Kepada Anak Perempuannya

Amamah binti Harits berpesan kepada anak perempuannya saat pernikahan, tepatnya ketika membawanya kepada calon suaminya, Amamah binti Harist berpesan kepada anaknya,

“Wahai anak perempuanku! Bahwa jika wasiat ditinggalkan karena keistimewaan atau keturunan maka aku menjauh darimu. Tetapi wasiat merupakan sebuah pengingat bagi orang yang mulia dan bekal bagi orang yang berakal. Jika seorang perempuan merasa cukup pada suami lantaran kekayaan kedua orang tuanya dan hajat kedua orang tua kepadanya, maka aku merupakan orang yang paling merasa cukup dari semua itu. Tetapi perempuan diciptakan untuk laki-laki dan laki-laki diciptakan untuk perempuan.”

Karena kemuliaan yang seorang perempuan berikan dan persembahkan untuk suami, dan kedamaian yang paling besar baginya adalah perlakuan dari seorang istri yang paling baik. Ketahuilah, bahwasanya seorang perempuan yang sudah menjadi istri tidak merasakan hal tersebut, sehingga kita mempengaruhi keinginannya terhadap keinginan kita sebagai perempuan dan keridhaannya terhadap keridhaan kita. Dan berusahalah untuk tidak menampakkan kebahagiaan di hadapannya jika ia sedang risau, atau menampakkan kesedihan tatkala ia sedang gembira.

Semoga bermanfaat…



Wahai anakku, peganglah 10 wasiat ini, insya Alloh kebahagiaan akan menjadi milikmu..

Pertama, iringilah suamimu dengan sifat qana’ah, menerima apa adanya. Sesungguhnya dalam qana’ah terdapat ketenangan hati.

Kedua, pergaulilah suamimu dengan baik dan rasa patuh. Sesungguhnya di dalam kebaikan pergaulan dan kepatuhanmu terdapat ridha Tuhanmu.

Ketiga, jagalah pandangan matanya agar jangan sampai melihat sesuatu yang tidak disukainya dalam dirimu.

Keempat, jagalah penciumannya agar ia tidak mencium bau yang tidak harum di tubuhmu.

Kelima, jagalah dengan sungguh-sungguh waktu makannya, sesungguhnya rasa lapar akan mudah menyulut kemarahan.

Keenam, tenanglah di waktu tidurnya. Sebab kegaduhan di saat tidurnya bisa mendatangkan kekesalan.

Ketujuh, jagalah rumah dan hartanya. Sesungguhnya menjaga harta suami adalah salah satu bentuk penghormatan kepadanya.

Kedelapan, jagalah kehormatan dan keluarganya. Sesungguhnya menjaga kehormatan keluarganya adalah penjagaan yang sangat baik di matanya.

Kesembilan, jangan menyebarkan rahasianya. Sebab rahasianya adalah rahasiamu, kelemahannya adalah kelemahanmu, dan aibnya adalah aibmu.

Kesepuluh, jangan berpaling dari perintahnya. Sebab suami yang mendapati istrinya tak mau mentaatinya, ia akan sempit hatinya dan tidak ridho kepadanya.

Pages: Previous 1 2
advertisement
Password protected photo
Password protected photo
Password protected photo