BLOG TULISAN fit82

Aku sih belum pernah nyoba jawab se-ngegas inijoy


Duh kenapa judulnya kayak film bersambung ya. Whatever..


Di part sebelumnya ada ttg ceritaku yg tdk berhasil menjalin relationship dgn duda tanpa anak , dikarenakan si duda ini sudah terlalu nyaman dgn kedudaan.

Lalu akupun berkenalan dgn duda yg memiliki tiga anak. Sejak awal aku respek dgn kejujurannya, bagaimana ia menjelaskan perceraiannya dgn mantan istrinya, bagaimana dia menjaga anak-anaknya tetap dlm kondisi baik dan bagaimana gigihnya ia membangun usahanya walo diapun sudah jd karyawan tetap disatu perusahaan. Sifat dewasa, kebapakan & pekerja kerasnya cukup menarik perhatianku saat itu. Tapi kemudian aku sadar, bahwa dia punya anak loch, dan mendidik anak itu kan ga gampang.


Kalo seandainya si duda ini anaknya satu mungkin aku masih siap secara mental untuk turut mendidik anak tsb , tapi jika anaknya lebih dari satu akupun berpikir 1000 kali untuk ini. Setelah diskusi dgn orang2 terdekat, orangtua & tentunya bermusyawarah dgn Alloh lewat solat malam & istikharah aku memutuskan tidak melanjutkan taaruf dgn duda ini.


Dari ceritaku tadi bisa diambil sedikit catatan bahwa untuk membangun relationship dgn duda dgn anak itu membutuhkan mental baja. Apalagi jika mantan istrinya tinggal dalam satu daerah, dimana anak-anaknya tentu punya jadwal tertentu kapan berada dirumah ayah kandungnya, & kapan berada dirumah ibu kandungnya. Tampak complicated ya. So IMHO, yg namanya faktor kejujuran & keterbukaan di awal relationship ttg keadaan keluarga si duda pasca perceraian sangat diperlukan agar tdk ada salah paham. Dan kuperhatikan bagi sebagian duda cerai membicarakan penyebab penceraian itu tdklah nyaman, sehingga kalo ada wanita single yg bertanya tanpa sadar menjawabnya dgn ketus.


Oya satu hal lainnya yg menjadi kekhawatiranku adalah bagaimana jika si duda & org2 disekitarnya (termasuk anak-anaknya) mulai membandingkan kita dengan mantan istrinya. Waw, I don’t have any cluejoy


Ok, cukup sekian ya with all that duda matters. I’m just sharing what inside my head. Mungkin teman-teman yg lebih senior bisa sedikit membuka cakrawala grinning

Finally, krn msh masa #stayathome punya jg waktu buat nulis topik ini.
Dan krn ini forum AN (slah satu tempat iktiar tuk mecari pasangan hidup) cukup tepat membahas ttg ini.

Well, jd diawal umur 30-an aku pribadi menutup mata pada keberadaan yg namanya 'duda'. Dan pada saat itu stigma duda cenderung negatif. Ketika seorg teman mau memperkenalkan aku dgn om-nya yg duda aku menolak pdhal penyebab perceraiannya adalah krn istrinya yg selingkuh bukan dia. Sampai adikku yg jg mau mengenalkan temannya yg duda ditinggal mati jg tidak kugubris.

Sampai satu waktu teman dekatku sendiri, teman curhat yg selalu ada buat aku memutuskan menikah dgn seorg duda yg istrinya meninggal dunia ketika melahirkan. Jujur aku sempet speechless, ga tau harus bicara apa ttg kedekatan dia dgn si duda ini diawal2 pdkt mereka. Aku cuma ingin memastikan apakah temanku sudah siap menerima statusnya, apakah statusnya benar2 duda ditinggal mati. Teman2ku yg lain jg sempat tdk yakin dgn hubungan mereka akan berhasil. Dan temankupun sadar banyak org yg mempertanyakan akan status calon suaminya itu. Sampai akhirnya calon suaminya membuktikan bahwa dia serius dgn temanku, tidak main2 , dalam jangka waktu 5 bulan dr waktu pedekate mereka langsung memutuskan untuk menikah. Dan sekarang Alhamdulillah mereka sudah punya anak laki2 yg lucu bgt.

MasyaAllah, kekhawatiranku pun sirna, akupun turut bahagia dgn keputusan besar yg dibuat temanku. Setelah bertemu bebrapa kali dgn suaminya ternyata benar adanya beliau pribadi yg baik & jenaka. Dan mungkin sejak teman dekatku ini menikah dgn duda, akupun mulai membuka hati buat pria dgn status 'duda'.

Nah, tdk lama aku dikenalkan dgn anak temannya bapak yg ternyata duda cerai tanpa anak dan sudah menduda hampir 10 tahun. Umur perkawinannya dgn istrinya waktu itu baru 1 thn lalu cerai. Awalnya aku agak ragu tuk komunikasi krn spertinya dia sudah terlalu nyaman dgn status dudanya. Well komunikasi diawal perkenalan msh berjalan lancar, tp lama kelamaan dia sperti membenamkan diri dlm pekerjaan sbg abdi negara yg super sibuk sehingga tak ada waktu tuk menyapa & berkunjung lagi. Krn tdk berujung kepastian aku memutuskan tdk mlanjutkan hubungan td. Walo sebenarnya aku bertanya2 mengapa dia betah skali menjadi duda ya. Tapi yasudahlah , aku brusaha memahami mungkin dia masih trauma dgn komitmen pernikahan, atau dia memang tdk bisa melupakan mantan istrinya, sehingga tdk bisa lg membuka hati tuk yg baru.

Btw, aku nulis panjang lebar gini ada yg baca ga ya?:D Hahaha, bersambung bsk deh krn yg nulis udah ngantuk...

Sampai detik ini kita masih bernafas & kuat menghadapi tantangan hidup bisa jadi karena doa-doa yg kita panjatkan setiap harinya kpd Allah Azza Wa Jalla & jg doa dr org2 sekitar yg sayang dgn kita. Dan tanpa kita sadari pertolongan Allah seringkali datang menyelamatkan hidup kita dr episode hidup yg penuh kegetiran. Jgn pernah lelah berdoa memohon kehidupan yg baik didunia & akhirat ya temans apapun kondisi kita hari ini. Apalagi di bulan Ramadan ini, bulan penuh rahmat & ampunan. #selfreminder
advertisement
Password protected photo
Password protected photo
Password protected photo