DIMANAKAH ADANYA? ditulis oleh Seps

السلام عليكم

*PHYLOSOFY ttg BOBOT,BIBIT DAN BEBET*
Bobot, bibit, bebet. Tiga kata ini sering kt dengar. Terutama dalam kaitannya dalam mencari menantu atau pasangan. Lalu, apa sebenarnya maksud ketiga kata ini? *maaf sy pernah hidup di Yogyakarta* Maksud Bobot, Bibit, Bebet
Bobot, bibit, bebet adalah tiga hal atau kriteria yang umum diperhatikan ketika mencari jodoh atau pasangan. Semacam alat kalibrasi bagi orang Jawa dan sdh menjadi suatu yg td asing ditelinga masyarakat nusantara untuk menentukan calon menantu yang baik bagi anaknya. Orang tua memang cenderung pemilih dalam urusan jodoh. Setidaknya demikianlah yang nampak dalam tradisi. Pasalnya, memilih pasangan hidup merupakan bagian penting dalam perjalanan berumah tangga dan berketurunan. Ada lima perkara, yang dalam perjalanan hidup manusia, tidak dapat diketahui secara pasti. Kelima perkara itu adalah *siji pesthi (satu, mati), loro jodho (dua, jodoh), telu wahyu (tiga, anugerah), papat kodrat (empat, nasib), dan lima bandha (lima, rezeki).*
Meskipun jodoh termasuk dalam lima hal yang yg merupakan preogatuf الله, namun sebagai manusia dan tentunya orang tua tetap berharap untuk memilah dan memilih pasangan bagi anak-anaknya. Dari sinilah muncul istilah bobot, bibit dan bebet yang kemudian dipegang sebagai kriteria. *1.Bobot* Bobot artinya kualitas diri, baik secara lahir maupun batin. Termasuk keimanan, pendidikan, pekerjaan, kecakapan dan perilaku si calon yang bersangkutan. Inilah hal-hal yang perlu ditanyakan orang tua atau yg mau *komitmen* sebelum menyerahkan anak perempuannya atau mempersunting/menerima suntingan. Tujuannya adalah untuk memastikan, bahwa si calon mempelai terutama pria siap meminang sepenuhnya. *Sanggup menafkahi, sanggup mengimami, serta sanggup mengasihi.* Tidak akan baik jadinya bila bobot si pria dikesampingkan, hingga anak sendiri sampai tidak terurus dan hidup menderita. Pertimbangan bobot ini meliputi:
*Jangkeping Warni (Lengkapnya Warna).* Merupakan istilah yang merujuk pada sempurnanya fisik seorang calon menantu/pasangan Kiranya tidak bisu, buta, tuli, lumpuh atau impoten.
*Rahayu ing Mana (Baik Hati). Bisa diartikan sebagai ‘inner beauty’* dalam bahasa sekarang. Termasuk di dalamnya adalah kecakapan agama seseorang.
*Ngertos Unggah-Ungguh (Mengerti Tata Krama).* *Wasis (Ulet).* Menantu yang baik haruslah rajin dan siap bekerja keras demi masa depan rumah tangga yang dinahkodainya/dipimpinnya
*2.Bibit* Makna dari bibit adalah asal usul atau garis keturunan. Bukan berarti bahwa seorang calon menantu harus berdarah biru. Tetapi bermakna bahwa orang tersebut harus jelas latar belakangnya. Dari mana ia berasal, dengan cara apa dan oleh siapa ia dididik. *Karena meski bagaimanapun, watak atau karakter adalah sesuatu yang berpotensi diturunkan dalam keluarga.* Sehingga watak seorang calon menantu/ pasangan dapat dilihat secara kurang lebih dari watak orang tua yang membesarkannya. *3.Bebet* Bebet memiliki asal kata bebedan, atau cara berpakaian. Setiap orang wajar dinilai berdasarkan caranya berbusana. Karena cara seseorang menampilkan dirinya merupakan ۨgambaran dari apa yang ada dalam sejatinya orang tersebut. Terlebih, jaman dulu cara berpakaian menunjukkan status sosial seseorang. Harkatnya, martabatnya. Kriteria ini sengaja diletakkan terakhir, pada posisi ketiga, karena bukan dianggap hal yang paling penting. Istilahnya, ‘Aja ketungkul marang kalungguhan, kadonyan lan kemareman’. Artinya, ‘Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi’.
وَاللهُ اَعْلَمُ


اَلدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ.


Artinya: “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah isteri yang shalihah.” [HR Muslim].


“إِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا؛ قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ”.


Artinya: “Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluan/ kehormatannya dan taat kepada suaminya, niscaya akan dikatakan padanya: “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau”. [HR. Ahmad].


Post Sebelumnya     
     Blog Home

Dinding Komentar

Belum ada komentar
You need to sign in to comment

Kiriman

Oleh Seps
Ditulis Jul 30

Nilai

Nilai kamu:
Total: (0 penilai)

Arsip

advertisement
Password protected photo
Password protected photo
Password protected photo