User blogs

advertisement
Beib01 VIP
- Suka Php

- Sok yes

- Suka Menghilang

- ....................





Hubungi Kami

Ttd

Panitia Kurban

Beib01 7 menit lalu
Feri4ever VIP
Dari sebrang ku datang...


Hanyalah untuk muyum

Feri4ever 47 menit lalu
Imswi VIP
Jodoh itu, bagian dari rezeki kan?

Jodoh itu, sesuatu yang diikhtiarkan to?

Jodoh itu, bermula dari saling bertukar komitmen_visi misi, yg pada akhirnya bertemu pada satu titik utk melangkah bersama kan?

Jodoh itu, berada pada dua sisi jungkat-jungkit yg tk bisa selalu seimbang kan?

Dan sayangnya...

Jodoh itu...

Tidaklah tertulis di media cetak, cerita perjalanannya pun tk diketahui, kecuali telah dijalani. Adapun sesuatu yang tersiar di media, adalah sesuatu yang telah terjadi.

Maka, jika tersebar mengenai jalan menuju jodoh itu berasal melalui media, itu hanya analogi manusia.

Al-Qur'an adalah penjabaran nyata perjalanan jodoh itu, dan Lauhul Mahfudz adalah satu"nya tulisan perjalanan jodoh sebenarnya.


Maka, cobalah mengerti, bahwa tidak ada jodoh yg salah. Melainkan, waktunya saja yg belum tepat. Namun hati terlanjur memilih, dan kaki yg berjalan. Bersyukur, perjalanan di Lauhul Mahfudz ternyata masih berlanjut. Dan Allah SWT. memberikan kesempatan utk bertemu dg jodoh di waktu yang tepat.

Imswi 1 jam lalu · Nilai: 5 · Komentar: 3 · Tags: di waktu yang tepat
Lis1981 VIP
thinking
adakah yang seperti ini?
Lis1981 1 jam lalu · Komentar: 1
Nullification VIP
Berikan keterangan kriteria yg sewajarnya. Jangan terlalu berharap pada manusia, tp berharaplah kepada Allah sang pemilik hati. Boleh jadi hari ini dia biasa saja, tp besok Allah balikkan hatinya kepada ukhti. Yang penting terus perbaiki diri dan fokus pada Allah, krna kalau fokus sama makhluk, nantinya akan kecewa.


Jangan terlalu mudah mengumbar sesuatu yg seharusnya hanya bisa dinikmati sang suami pilihan terbaik Allah (read: aurat). Hati2 dengan foto yg menampakkan sebagian aurat seperti pergelangan tangan. Bahkan telapak kaki pun aurat untuk wanita.


Ibarat permen yg sudah terbuka, akan dikerumuni semut dan tidak akan ada yg mau membelinya. Maka harus yg masih tertutup dan tersegel rapi agar orang berminat membeli dan menikmatinya seorang diri. (hanya perumpamaan, jgn menyamakan wanita dgn permen), oleh karna itu, seorang wanita sejatinya lebih terhormat dan terjaga.


Bertawakallah pada Allah, manusia hanya bisa meminta dan berusaha, sisanya kembalikan kepada Allah sang pemilik hati.


Semoga Allah mudahkan segala urusan dunia dan akhirat.

Nullification 7 jam lalu · Nilai: 5 · Tags: akhwat berkualitas
Rahayuajah VIP
Mudah saja untuk menilai seseorang yang serius pada diri kita yang paling utama adalah menjalin komunikasi yang baik. kedekatan hati yang terpisah jarak bila tanpa komunikasi akan pasti terjadi hub yang membingungkan

calon pasangan yang baik akan sering memberimu kabar meski cuman sepatah dua patah kata untuk mencerritakan apa yang di lakukanya dan menanyakan keadaan mu aktifitasmu

jangan pernah menerima jalinan dari hati orang yang tidak bisa gmenghargai hubungan jarak jauh. bila hadir keraguan maka tinggalkan dengan berpamit tanpa merasa di rugikan.

calon pasangan adalah tempat berbagi bila merasa tidak nyaman berarti itu bukan calon pasangan.

terbuka dan jujur, setia dan tidak bimbang namun semua itu tidak mudah menemukan orang yang tepat

datang dan pergi bukanlah hukuman namun itu adalah proses dan ujian

ikhlaslah menjalani semua dengan lapang hati

Alloh tahu mana yang terbaik dan janganlah berharap pada manusia namun serahkan semua urusan pada kehendak Alloh saja.

yang aku cintai blom tentu baik buatku

dan yang aku abaikan mungkin juga dialah orang yang tulus ingin membahagiakanku

Sungguh aku ingin satu jawaban dari engkau ya Alloh dia kah manusia yang akan aku jadikan imamku selamanya


Rahayuajah 11 jam lalu · Nilai: 5 · Komentar: 14
MuhammadR VIP
السلامعليكم ورحمة الله و بركاته

Banyak wanita mempertanyakan buruknya praktik ta’addud (poligami) dalam Islam. Mereka kemudian menolak keras poligami dengan alasan menyakiti wanita. Penolakan ini bahkan merembet hingga menggugat syariat, menganggap syariat tak lagi memberikan keadilan. Dengan gelap mata, penafsiran ajaran agama selama ini divonis hanya memihak kaum laki-laki, serta dituduh dipahami secara tekstual dan parsial.

Alhasil, wanita boleh meradang ketika suaminya menikah lagi. Lantas, kenapa banyak wanita yang dibiarkan jadi selingkuhan pria beristri? Mengapa pula banyak wanita yang dengan sukacita jadi “istri” simpanan demi seonggok materi? Dan mengapa tak sedikit istri yang lebih senang suaminya “jajan” atau selingkuh ketimbang kawin lagi, (lagi-lagi) dengan alasan materi—takut harta suami direbut madunya, warisan suami akan terbagi, dsb? Alasan menyakiti wanita pun kian abu-abu. Tanpa pernikahan resmi, biaya sosial yang muncul jelas sangat besar. Jika seks bebas dan perselingkuhan dibiarkan, siapa yang paling merasakan akibatnya? Siapa yang menanggung jika terjadi penyebaran Penyakit Menular Seksual (PMS) akibat gonta-ganti pasangan di luar nikah? Ujung-ujungnya, yang jadi korban atau setidaknya objek seks adalah perempuan. Lantas, mengapa poligami yang merupakan wujud tanggung jawab seorang pria untuk menikahi wanita secara terhormat justru dikesankan demikian seram?

Memang, dalam praktiknya banyak orang yang “mau cari enaknya” ketika berpoligami, mencari “daun muda” lantas menelantarkan istri pertama. Alhasil, kebanyakan kita cenderung memandang dari realitas yang ada bahwa mengamalkan poligami hanya akan menciptakan kekerasan terhadap perempuan, dsb. Jika ditelisik, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) bukanlah soal poligaminya.

Di rumah tangga monogami sekarang, juga marak KDRT. Apakah dengan itu kita lantas menyalahkan monogami, kemudian dengan alasan kontekstual menganjurkan hidup membujang? Kalau begitu, mengapa poligami yang dituding merusak hubungan rumah tangga? Bukankah perselingkuhan dan perzinaan itu yang menyebabkan rusaknya rumah tangga? Intinya memang bukan monogami atau poligaminya, tetapi lebih ke pelaku. Analoginya, ada orang shalat namun masih bermaksiat, orang berjilbab tetapi tidak beradab, dst. Apakah (lagi-lagi) dengan alasan kontekstual kita lantas menggugat shalat, jilbab, dsb?

Maka dari itu, kita semestinya lebih mendalami ajaran agama agar tidak salah memahami, bisa bersikap positif terhadap syariat Allah Subhanahu wata’ala dan kepada mereka yang telah mengamalkannya. Apalagi kesuksesan atau kegagalan berumah tangga adalah hal lumrah. Monogami sekalipun, jika persiapannya asalasalan, hasilnya juga tidak akan baik. Oleh karena itu, jika pada kehidupan poligami terjadi “kegagalan”, kita bisa bersikap bijak dengan tidak mudah menyalahkan poligaminya. Yang harus kita pupuk adalah kesiapan ilmu dalam membina rumah tangga.

Ketika seorang pria hendak berpoligami, dia harus memahami syariat ta’addud (poligami) secara benar agar bisa mempraktikkan secara benar pula. Dalam kehidupan poligami, laki-laki tentu akan lebih “dipusingkan”. Ia dituntut menjadi nakhoda yang baik bagi beberapa bahtera. Bagi lelaki yang bertanggung jawab dan bagus dalam praktik poligami, waktu lebih yang ia luangkan, materi lebih yang ia keluarkan, serta tenaga dan pikiran lebih yang ia curahkan, sejatinya tak sebanding dengan “kenikmatan” yang ia dapatkan. Lebih-lebih, jika ia benar-benar menikahi wanita-wanita yang secara logika “tidak menguntungkan” untuk dijadikan istri, seperti janda miskin beranak banyak.

Akhirnya, kebesaran jiwa seorang istri juga dibutuhkan di sini. Wanita tidak perlu takut kebahagiaannya akan berkurang kala suaminya menikah lagi. Bahkan, semestinya seorang wanita salehah akan bertambah bahagia

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

MuhammadR 14 jam lalu
pramitayuly VIP

Owalah pantesan aja begitu...

Sdh ada yg baru toh...

Yayaya...

Lanjutkanlah

pramitayuly Kemarin, 08:58PM · Komentar: 10
Pages: 1 2 3 4 5 ... Next »
advertisement
Password protected photo
Password protected photo
Password protected photo